Selasa, 05 Mei 2015

Pulau Samalona: Pohon Kalumpang dan Hal-hal Menarik Lainnya

Pohon Kalumpang, ikon pulau samalona versi jelajah suwanto +fotojelajahsuwanto
Yang menarik perhatian saya dari Samalona adalah sebuah pohon raksasa yang berdaun rimbun. Pohon inilah yang memberi warna hijau paling menonjol di Pulau ini.
Memuaskan rasa penasaran, saya bertanya pada seorang warga penghuni Pulau. Menurutnya, orang pulau biasa menyebutnya Pohon Kalumpang. Buahnya dapat dimakan sementara daunnya bisa untuk obat. Konon, Pohon Kalumpang ini sudah hidup ratusan tahun, sejak munculnya Pulau Samalona.

Sepulang dari Samalona, saya masih teringat dengan Kalumpang yang gagah itu. Dari Google saya masuk ke Wikipedia Indonesia, benar memang ciri-ciri pohon di pulau itu teridentifikasi sebagai Kalumpang atau Kepuh. Ternyata banyak manfaat dan kegunaan dari Kalumpang atau Kepuh ini.  Berikut, penampakan buah dan daun Kalumpang dari wikipedia:


Buah dan daun pohon Kalumpang, sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kepuh +fotojelajahsuwanto


Senin, 04 Mei 2015

Pulau Samalona: Aktivitas & Serba-Serbi

 Belajar berenang di perairan samalona +fotojelajahsuwanto
Pak Enal, begitu nama tukang perahu yang mengantar kami, merapatkan perahunya di pasir putih.
Seorang gadis berbadan bongsor mengulurkan tangan, membantu para ibu dan anak-anak turun dari perahu. Gadis itu ramah, dandanannya cukup "kota". Ia memakai baju pantai bunga-bunga hijau ditutupi scarf , juga dilengkapi kacamata hitam, gaul.

Tadinya kupikir dia pengunjung pulau yang berbaik hati. Ternyata gadis itu menawarkan bale-bale bambu yang menghadap langsung ke pantai. Bale yang berukuran kecil harganya 50 ribu, dan yang sedikit lebih besar 75ribu. Selain itu, ia juga masih memberitahukan beberapa hal yang bisa ia tawarkan untuk kami, antara lain:
- Sewa alat snorkeling, satu paket seharga 50ribu;
- Sewa Kamar mandi untuk buang air kecil atau ganti baju saja, sekali masuk harganya 5 ribu; 
- Sewa kamar mandi untuk mandi, harganya 10ribu;
- Menyediakan pesanan makanan, ikan dan nasi, harga tergantung pesanan;
- Kamar untuk menginap seharga 500ribu per malam
Karena kelompok kami lumayan besar, bale-bale bambu seharga 75ribulah yang dipilih. Bale-bale ini diteduhi pohon rindang saja. Beruntung hari itu tidak hujan.

Samalona: Sebelum meninggalkan Makassar harus ke Pulau Samalona dulu


Samalona: Pulau Samalona dilihat dari perahu motor, redup tanpa matahari  +fotojelajahsuwanto
Sudah sejak lama, mungkin enam bulan yang silam, ajakan ke Pulau Samalona itu berkumandang.
Sudah berapa kali arisan, Samalona disebut-sebut.
Sudah sejak dulu, saat geng bolang masih komplit.
Cuaca, ombak, hujan, sibuk, apalah, apalah, adalah alasan yang sering terlontar.
Sampai satu kawan bolang sudah meninggalkan makassar
Samalona hanyalah sebuah rencana yang entah kapan bakal diwujudkan.

Sampai kabar itu datang . . .”Geng bolang bakal berkurang lagi…..”
Geng bolang tadinya empat, sudah dikurangi Satu
Kalau dikurangi satu lagi, bukan geng namanya, Cuma duet saja..
Maka, Sabtu siang itu, Samalona adalah tujuan jelajah sebelum meninggalkan Makassar.
Janjian Pk. 12.00 bertemu di Indomaret Pattimura. Di sana ada kursi tunggunya,  jadi akan cukup nyaman, jika ada kawan yang terlambat datang. Bisa numpang duduk :D

Selasa, 28 April 2015

Perahu Pinisi yang Melegenda

Perahu Pinisi adalah kearifan lokal masyarakat Bugis yang membanggakan Indonesia.
Berikut, foto-foto Pinisi dari Pantai Panrang Luhu, Bulukumba, Sulawesi Selatan


Perahu Phinisi: Sudah jadi +fotojelajahsuwanto
Perahu Phinisi: lebih besar dari rumah pengrajin +fotojelajahsuwanto 

Pengrajin Ulung Pinisi Panrang Luhu

Dari tangan - tangan ahli inilah, tercipta mahakarya pinisi yang termashyur ke seluruh dunia.
Pembuatan Perahu Phinisi: di tengah sepoi nyiur  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: diskusi  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: konsentrasi  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: berteduh di tenda biru +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: kejar tayang  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: eksekusi kayu +fotojelajahsuwanto
Catatan perjalanan ke tempat pembuatan perahu pinisi dapat dibaca di Melihat Buta Panrita Lopi dari Dekat

Phinisi: Melihat Butta Panrita Lopi Dari Dekat

Pembuatan Pinisi di Butta Panrita Lopi  Bulukumba
Merakit Kapal kargo Pinisi di Butta Panrita Lopi Pantai Panrang Luhu || jelajahsuwanto

Matahari mulai beranjak tinggi, ketika Keluarga Suwanto tiba di bumi pembuat Pinisi, Butta Panrita Lopi. Apa yang terlihat adalah sebuah kapal Pinisi raksasa tertambat di Pantai Panrang Luhu Bulukumba. Semuanya terjalin dari kayu berwarna mahagoni.

Kapal Pinisi merupakan kapal tradisional masyarakat Bugis Makassar. Kapal ini sudah dibuat sejak zaman nenek moyang kita. Orang Bugis dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan adalah pembuat kapal Pinisi sekaligus pelayar yang handal.

Pinisi ini membuktikan bahwa sejak jaman dahulu Indonesia adalah negara maritim yang besar dan tangguh.

Sabtu, 25 April 2015

Lukisan Alam dari Jalur Buludua, Indah!

Jalur Buludua: lukisan semesta +fotojelajahsuwanto
Pulang dari peziarahan rohani di Gua Maria Paroki Santa Maria Bunda Pengharapan, hati diliputi damai. Kami memutuskan mengambil arah pulang melalui jalur Buludua.
Ternyata alam semesta juga membekali kami dengan keindahannya dalam rupa lukisan-lukisan indah sang Maha Pencipta. 

Jalanan di Jalur Buludua ini baru diperbaiki, jalannya mulus, namun ada juga beberapa yang masih memerlukan perbaikan.
Kiri kanan jalan dipagari oleh tebing-tebing tinggi yang hijau dan batu-batu raksasa.
Kami menjadi teramat kecil di tengah kemegahan karya Tuhan.

Hari itu benar-benar perayaan hidup, hati yang damai dan jiwa yang berlimpah syukur.
Jalur Buludua: Bulir-bulir padi penuh harapan +fotojelajahsuwanto

Batu-batu yang mengagumkan!

Jalur Buludua: Batu-batu raksasa +fotojelajahsuwanto
Masih dalam perjalanan dari Wattansoppeng menuju Makassar melalui jalur Buludua, menyaksikan batu-batu besar memagari kiri dan kanan jalan.
Pertama kalinya melewati suguhan eksotis ini, Rock man

Jalur Buludua: Batu-batu raksasa +fotojelajahsuwanto

Pesona Indonesia dari Jalur Buludua

Melihat foto ini, cakrawala, lautan dan pulau kecilnya, bukit batu dan lembah subur . . .
ada rasa yang sulit diungkap.
Betapa saya bersyukur dapat menyaksikan keagungan Tuhan bagi Indonesia, khususnya Pulau Sulawesi.

Sudah semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang "besar" 

Jumat, 17 April 2015

Jelajah Rasa di Makassar

Weekend adalah waktunya bunda bebas tugas dari urusan dapur.  
Ini waktunya menjelajah rasa di Makassar.
Berikut, adalah tempat-tempat persinggahan jelajah lidah keluarga suwanto:

Kuliner Khas Makassar
Belum ke Makassar namanya jika belum mencoba kuliner khas makassar dan sekitarnya, diantaranya:
  1. Coto Gagak
  2. Coto Nusantara
  3. Pallubasa Serigala
  4. Pallubasa Onta
  5. Sop Saudara dan Sop Kikil Flyover Urip
  6. Konro Bakar Karebosi
  7. Kapurung dan Barobo Aroma Luwuk
  8. Kapurung dan Peyek Mairo Aroma Palopo
  9. Kios La Galigo
  10. Nyuknyang Kios Atiraja
  11. Nyuknyang Irian
  12. Bakso Salemo
  13. Mie Titi 
  14. Roti Tisu Kedai Malindo
  15. RM Dinar, Ikan
  16. Ikan Rica Ranggong
  17. Es krim Papabon
  18. Roti Tisu, Kedai Malindo