![]() |
Cagar budaya situs Rante Bori Parinding, Kabupaten Tana Toraja @jelajahsuwanto
|
Rawat atau musnah? Diksi ini jelas ditujukan untuk hal krusial dan bermakna esensi. Kini di pundak milenial, Cagar Budaya Indonesia sampai pada pilihan genting tersebut. Sejatinya cagar budaya adalah sumber memori kolektif tentang peradaban leluhur, jati diri dan pembentuk karakter bangsa Indonesia. Namun, apakah kita, masyarakat Indonesia sungguh mengenal dan bangga akan cagar budayanya sendiri?
“Mas, tahu gak cagar budaya itu apa?” Iseng, aku ingin tahu sejauh mana si sulung memahami cagar budaya.
“Tahu. Kayak Museum, Sumpang Bita, Leang-leang, sama Makam Tuanku Imam Bonjol, kan?” balasnya datar saja.
“Iya, kurang lebih seperti itu. Sebenarnya cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan. Wujudnya bisa berupa benda, struktur, situs, kawasan, dan bangunan, seperti yang Mas sebut tadi.” Aku terpancing menjelaskan pada wajah kurang antusias itu. “Menurut Mas, jelajah cagar budaya kita seru gak?
“Jelajah sama keluarganya seru, tapi cagar budayanya enggak terlalu. Kurang menarik. Sepi." Itulah jawaban jujur remaja 14 tahun.
Percakapan di atas memang tidak bisa digeneralisasi sebagai cara pandang milenial. Namun harus diakui, cagar budaya kita masih kurang menggugah minat untuk sekadar berkunjung. Padahal menyambangi cagar budaya adalah pintu masuk bagi rasa cinta yang harapannya dapat menumbuhkan kebanggaan sebagai seorang Indonesia. Kalau sudah bicara cinta, dengan kesadaran sendiri tanpa diminta setiap kita akan merawatnya biar tidak ambyar apalagi musnah.




















