Minggu, 06 Desember 2015

Leang-Leang: Menelisik Jejak Prasejarah Dari Masa Ribuan Tahun Silam

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Tebing karts yang megah di sekitar kompleks Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Memasuki jalan desa menuju Taman Prasejarah Leang-leang, memang terasa sempit. Namun ia membelah pesawahan yang tengah ranum berbulir padi. Belum lagi, tebing-tebing karts yang mengelilingi kompleks cagar budaya ini, anggun berbalut selimut hijaunya pepohonan. Di tengah harmoni megahnya gugusan karts dan heningnya alam, kita akan dibawa pada sebuah situs yang berisi jejak prasejarah dari masa ribuan tahun silam.

Papan petunjuk Taman Prasejarah Leang-leang tertangkap mata, saat Keluarga Suwanto hendak arisan di Taman Nasional Bantimurung.
”Nanti, kalau nggak kesorean, kita ke sana ya” Ajakku pada ketiga lelaki tercinta itu.
“Okeeee” jawab mereka serempak.



* * *
Matahari hampir sampai di barat, ketika kami disambut ramah oleh petugas Taman Prasejarah Leang-leang. “Sebelum Magrib, biasanya sudah tutup, bu. Mari silahkan melihat-lihat”.
Itu artinya masih ada waktu 1,5 jam. Ayo, menjelajah!
Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Batu-batu tumbuh yang unik di Taman prasejarah Leang-Leang +jelajahsuwanto
Adalah batu-batu tumbuh berukuran raksasa, dengan bentuk aneka rupa. Itulah yang kasat mata menonjol dari Taman Prasejarah Leang-leang ini. Bagi kami yang baru melihatnya, decak-decak kagum tak dapat ditahan. Warna hitam kelabu bebatuan ini pun sangat kontras dengan rerumputan hijau yang terawat.


Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: harmonisasi batu-batu tumbuh dengan hijaunya rerumputan di Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Namun, bebatuan eksotis itu baru serambinya saja. Inti dari Taman Prasejarah yang telah diresmikan menjadi cagar budaya oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Juwono Sudarsono, M.A tertanggal 4 Oktober 1999 ini, ada di halaman belakangnya. Di seberang sungai berair jernih dengan batu-batunya yang rock!
Sulit rasanya menahan diri untuk tidak menceburkan diri di ricik airnya. 
"nanti, kalau sudah selesai melihat-lihat dengan bapak petugas, kita boleh main-main di sungai” bisikku pada si mas yang dari wajahnya nampak  se-pemikiran denganku. 

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Sungai eksotis yang membelah Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Taman prasejarah Leang-leang masih termasuk di dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terbentang antara Maros - Pangkep. Secara administratif, berada di Desa Leang-leang, Kelurahan Kalabbirang, Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan.
Kabupaten Maros yang hanya sekitaran 1 jam dari Makassar ini memiliki keunikan kawasan karts terbesar kedua di dunia, setelah Guangzou, China. Secara keseluruhan membentang gugusan pegunungan karts hingga Kabupaten Pangkep meliputi area seluas 43.750 hektar, memiliki 286 gua dengan lebih dari 30 gua Prasejarah.

Mengapa dinamakan Taman Prasejarah?
Karena di kompleks ini terdapat Leang atau gua dalam bahasa setempat yang dulunya dihuni oleh manusia purba. Gua-gua ini kemudian menjadi sumber informasi tentang kehidupan manusia di masa lampau. Para peneliti memperkirakan gua-gua ini telah dihuni sekitar 8000-3000 tahun sebelum Masehi. Adapun, di Leang-leang terdapat dua gua, yaitu: Leang Pettae dan Leang Petakerre. Begitu yang dikatakan bapak petugas yang kebetulan bertemu sebelum kami menyeberang sungai.

Melihat wajah-wajah "curious george" di depannya, Pak petugas baik hati ini mengantarkan kami melihat kedua leang. Namun kami tidak bisa masuk ke dalam leangnya karena dikunci dan memang sudah sore. Sayang sekali.
Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: 24 anak tangga menuju leang Pettae di Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto

Leang Pettae menghadap ke arah barat. Hanya perlu menaiki 26 anak tangga untuk sampai di mulut gua ini. Gua – gua ini memang berada di tebing-tebing karts. Otak saya langsung memutar film The Crood membayangkan sekeluarga manusia gua yang mengikuti cahaya.

Lukisan-lukisan di dinding gua inilah yang menjadi bahan informasi awal bagi para arkeolog untuk meneliti lebih jauh keberadaan manusia purba di wilayah Maros.
Petugas memberitahu di Leang Pettae terdapat gambar berupa 5 telapak tangan dan 1 babi rusa yang nampak meloncat karena tertusuk panah di dadanya. Semua gambar bercat merah marun. Selain itu ada juga artefak serpih bilah, serta kulit-kulit kerang yang menumpuk di mulut gua. 

Leang-leang: Sekelompok kaki seribu diantara bebatuan gua di Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Menuju gua, udara terasa lembab. Anak-anak menemukan kaki seribu berwarna hitam di bebatuan. Bukan hanya satu, tetapi sekeluarga. Besar-besar, dan "hiii.. saya sih gilo melihatnya".
 
Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: tangga menuju leang petta Kere +jelajahsuwanto


Tiga ratus meter di sebelah timur Leang Pettae, ada anak tangga 64 undakan, berdiri sebagai pijakan menuju Leang Petta Kere. Kami tidak dapat melihat pelataran gua-gua ini. Hanya cerita pak petugas saja yang menjadi sumber kami.
Serupa dengan Leang Pettae, di sini juga ditemukan lukisan dinding gua berupa 2 babi rusa, 27 telapak tangan, alat serpih bilah dan mata panah.

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: menuruni Leang Petta Kere di Taman Prasejarah Leang-leang, ekstra hati-hati +jelajahsuwanto
Turun dari Leang Petta Kere, adek kecil sudah mogok jalan. Seperti biasa, dia hanya mau digendong bundanya. Padahal jalan turunnya agak licin dan nyempil. “Ohh Adek-adek..”
Hmm.. bagaimana dulu para ibu purba ngemong balitanya ya? 

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Mas dan Adek menjelajah di Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Setelah memperlihatkan gua, petugas meninggalkan kami. Memberi kesempatan untuk melihat-lihat sebentar lagi di sekitar kompleks Taman Prasejarah Leang-leang ini.
Syukurlah sampai di bawah, adek kecil sudah “on fire” kembali. Senang sekali melihatnya berlari kesana kemari. Ia mendapat kesenangan mengejar kupu-kupu coklat yang cantik. Sementara mas, tak terbendung ingin nyebur ke sungai.

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Perlu ruang informasi yang lebih menarik bagi pengunjung Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Lingkungan di kompleks taman prasejarah seluas ±1,5 hektar ini memang masih tenang. Terasa hening dan asri. Anak-anak nyaman bereksplorasi. 
Namun sayang pada saat itu, informasi mengenai manusia purba dan sejarahnya yang seharusnya menjadi sentral dari tempat wisata ini masih minim. Belum ada semacam ruang informasi yang cukup memadai mengenai hasil penelitian atau cerita tentang kehidupan manusia purba di wilayah tersebut, dan mengapa tempat ini dianggap penting sebagai cagar budaya sehingga perlu dijaga kelestariannya.
 
Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Masih saja ada sampah-sampah di area publik, yuk mulai dari diri sendiri LISA, "Lihat Sampah Ambil!

Tiket masuk ke Taman Prasejarah Leang-leang sangat terjangkau, yaitu sebesar 10 ribu per orang. Telah tersedia fasilitas penunjang untuk kenyamanan pengunjung, seperti: kamar mandi, gazebo dan tempat sampah.
Tapi ahh, masih ada juga sampah satu dua di pelataran parkir. Kebiasaan buruk yang pantas diharamkan, membuah sampah sembarangan!
Yuk mulai dari diri sendiri, mari mulai LISA,“Lihat Sampah, Ambil!”

Kalau bukan sekarang kapan lagi?Kalau bukan kita siapa lagi?
Lestarikan Benda Cagar Budaya
Agar Tidak Kehilangan Jati Diri Bangsa

 
Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang; Keluarga Suwanto dari Batu-batu unik Taman Prasejarah Leang-Leang +jelajahsuwanto


Tidak ada komentar:

Posting Komentar