Selasa, 28 April 2020

Tari Kabasaran Minahasa, Teladan Dedikasi Waraney

Tari Kabasaran untuk Penyambutan Tamu Penting @Jelajahsuwanto

Matahari kian terik di tanah Malesung, pasukan kesatria muda berkostum merah memekikkan seruan perang dalam bahasa Minahasa. Wajah tampan mereka berubah garang ketika tetamu nampak di muka gerbang. Senyum telah sirna berganti hujaman mata. Melotot, dingin dan seram. Para waraney bergerak mengayunkan senjata, berjingkrak melompat, menghentakkan kaki maju mundur sembari terus berteriak membangkitkan semangat. Anak-anak muda ini tengah menampilkan Tari Kabasaran untuk menyambut jajaran direksi yayasan yang menaungi sekolah mereka.

Tari Kabasaran sejatinya merupakan tarian perang suku Minahasa yang mendiami wilayah Minahasa dan sekitarnya di Provinsi Sulawesi Utara. Tarian ini diperankan oleh beberapa lelaki yang mencitrakan sosok waraney, para kesatria Minahasa yang memiliki sifat tauma dan wuaya, jantan dan berani. Tarian tradisional yang telah berusia ratusan tahun ini tetap lestari mengikuti perkembangan zaman. Hanya saja pada masa sekarang dimana kita sudah merdeka dari perang, Tari Kabasaran dipersembahkan sebagai penyambutan bagi tamu “besar” atau tokoh penting. Selain itu Tari Kabasaran kerap digunakan untuk memeriahkan pesta adat dan hiburan.

Selasa, 14 April 2020

Batu Lima Homestay Raja Ampat, Tempat Singgah Paripurna

Pantai di depan Batu Lima Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Perahu yang awalnya oleng di buritan kini laju meninggalkan Friwen membelah perairan tenang menuju Batu Lima, penginapan terakhir Keluarga Suwanto sekaligus menjadi tempat penutup selama Jelajah Raja Ampat. Tidak jauh. Kurang dari setengah jam kami selesai menaruh barang-barang di sebuah homestay berbentuk panggung dengan atap rumbia. Sementara langit menggayut kelabu seperti durja di paras Pak Suwanto.

Aku sungguh memahami, ibarat kulihat muramku sendiri pada pantulan wajahnya. Kandas. Impian yang digadang-gadang tak sepenuhnya sempurna. Harapan mencecap Piaynemo, Telaga Bintang, Yenbuba, Yeben, Teluk Kabui, Batu Pensil dan Pasir Timbul batal sudah. Sulit untuk mengulang kembali. Bukan perkara jumlah nominal yang mesti dihitung cermat, terlebih pengkondisian waktu. Akan tetapi kucoba riang demi menghiburnya, just enjoy every little thing…” bisikku.