Selasa, 18 Februari 2020

Taman Doa Maria Gantang: Mbok Tentrem Memberi Damai

Mbok Tentrem, Bunda Maria Ratuning Katentreman lan Karaharjan di Taman Doa Maria Gantang, @jelajahsuwanto
Aku tertegun memandang Mbok Tentrem di bawah langit kelabu kaki Gunung Merapi. Sang seniman yang memahatnya melanting pesan yang dalam. Bunda Maria atau Mbok Tentrem (sebutan mesra dari sang seniman) tidak lagi menginjak ular seperti yang biasanya. Kini, Bunda Maria mengenjak kepala naga. Kejahatan manusia sekarang tak sebanding lagi dengan ular yang menjerumuskan manusia pertama ke dalam dosa. Naga adalah metafora dosa manusia zaman ini. Kefasikan yang meruak, merajalela! Namun, Taman Doa Maria Gantang memberikan ruh pengharapan. Bunda Maria ratuning katentreman lan karaharjan sedia melibas naga kedosaan yang membelit kehidupan setiap kita.

Rabu, 12 Februari 2020

Kopi Menoreh Pak Rohmat, Sepadan Cipta Bahagia

Kedai & Produksi Kopi Menoreh Pak Rohmat || Jelajahsuwanto

Senja tambah sempurna jika senyum mereka yang tercinta merekah bak lembayung di ufuk barat. Sebuah kedai nun di barat, barat sekali, nyaris di pucuk perbukitan Menoreh menjadi perhentian jelajahsuwanto senja itu. Adalah Kedai & Produksi Kopi Menoreh Pak Rohmat namanya.

Haaa… ini bener gak sih jalannya?” pertanyaan yang sama terlontar berulang kali.
“Kedai kopinya terkenal ko, tapi gak tahu kalau jalannya begini amat yah…” bau-bau keraguan samar terdeteksi. Jalannya itu loh, meski beraspal tapi ya cilik mentik, juga nanjak. Berpapakan dengan Simbah-simbah gesit di suatu senja di perbukitan Menoreh laksana romansa yang menghangatkan hati. Maaf ya Pak, Bu, jadi ketanggor ranting karena berpapasan dengan kami.  

Seistimewa apa sih Kopi Menoreh Pak Rohmat sampai orang rela mlipir ndeso, gini? Bikin tambah penasaran, ya.

Rabu, 29 Januari 2020

Monumen Yesus Memberkati Manado, Manifestasi Cinta Kasih Ciputra

Monumen Yesus Memberkati Manado @jelajahsuwanto


Selepas jelajah Tomohon pada 2014 lampau, Keluarga Suwanto mengaso di kawasan pertokoan Citraland, Manado. Pandangan kami tertuju pada sebuah patung Yesus Memberkati persis di atas jalan utama. Wajah Yesus dan tanganNYA yang terentang seakan mengajak kian dekat. “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Beberapa tahun kemudian cerita kehidupan membawa kembali Keluarga Suwanto ke kota Manado, ke sebuah tempat di bawah pandang Tuhan Yesus Memberkati. Di sana, di bawah monumen Yesus Memberkati kami mengukir kisah tentang indahnya persahabatan, kerukunan, mimpi-mimpi dan harapan.

Dr. (HC) Ir. Ciputra, Penggagas Monumen Yesus Memberkati Manado

Adalah almarhum Dr. (HC) Ir. Ciputra, penggagas Monumen Yesus Memberkati Manado. Menelusuri kisah pembuatan monumen ini, hormat yang dalam untuk beliau. Bagaimana ungkapan syukur, kedekatan dengan Tuhan dan filantropi-nya Pak Ci termanifestasi dalam Patung Tuhan Yesus Memberkati. Luar biasa.

Selasa, 21 Januari 2020

Batuangus Boleh Hangus, Tidak Welas Asih

Batuangus Boleh Hangus, Tidak Welas Asih || jelajahsuwanto

Cuaca di utara Sulawesi kadang sulit diprediksi, tentunya hanya buat awam yang bukan ahli BMKG. Pagi itu mentari berseri, hari yang cocok untuk menjelajah. Keluarga Suwanto spontan melaju ke Batuangus. Menurut Google Maps perkiraan waktu tempuh Pantai Batuangus dari Manado kurang lebih 1,5 – 2 jam berkendara. Secara administratif Pantai Batuangus berada di Kelurahan Kawasari, Kecamatan Aertembaga, Kota Bitung.

Jelajahsuwanto kali ini mengambil rute Airmadidi menuju jalan raya Manado-Bitung. Jalanan yang biasa kami lewati dan tetap di hati. Siluet gunung, perbukitan, lambaian nyiur, kelak-kelok dan turun-naiknya terasa selalu baru membuat rindu. Dan jelas pagi itu tak ada yang bisa merusak jelajahmu, ceria laksana surya.

Namun, seperti kubilang, cuaca di utara Sulawesi tak ubahnya hidup. Yang Kuasa punya mau maka terjadilah. Kini di tiga perempat perjalanan, tanpa peringatan kami menyibak tebalnya hujan bulan Desember. Jarak pandang menjadi terbatas. Pak Sopir dan navigatornya yang bawel berjibaku melihat jalan. Sementara dua kakak beradik di bangku belakang terbawa imaji demi melihat wiper yang hilir mudik. Kelewat aneh, kakak beradik bisa plek ketiplek terpesona pada wiper, sedari orok. Ajaib.

Selasa, 14 Januari 2020

Mahembang yang Terbuang, Degap-degap Rute Makalisung Tondano Manado

Mendaki sembarang bukit di pesisir Minahasa yang eksotis @jelajahsuwanto

Ada masanya sosial media menjadi racun jelajah yang paling parah. Mahembang di Instagram begitu elok mengundang. Keluarga Suwanto mufakat menyusur pesisir Minahasa di pagi yang basah itu. Perjalanan sekitar 3 jam Manado, Bitung, Kakas, berakhir gigit jari di gerbang Mahembang.

Mahembang, pantai yang digadang-gadang seperti Bali-nya Minahasa ditutup tanpa alasan jelas. Kami dan satu rombongan yang juga baru sampai tetap dilarang masuk. Biarpun nawar pada penduduk di dekat pos jaga, kalau memang alasannya keselamatan, kami jamin jadi tanggungan pribadi.

Sebenarnya keluarga Suwanto bisa saja nekat keukeuh jalan kaki ke pantai, toh kendaraan diparkir dekat dari lokasi. Hanya saja, kami menghormati penduduk lokal yang tadi bersimpati.
“Jangan, nanti kita kena, dikira nimbun uang dari pengunjung. Ini saja ada yang diam-diam pasang mata”.

Hmm, begitu rupanya. Sangat disayangkan, indikasi salah kelola tersirat kentara.

Sabtu, 30 November 2019

Wedang Uwuh Kebaikan Alami Menghangatkan Jiwa


  “Mbak, biar wajahmu penuh senyum, tapi badanmu ini bicara banyak. Ndak bisa bohong kalau sama aku,” celetuknya mengagetkan. “Semua itu asalnya dari pikiran, Cah Ayu.” Lanjutnya seolah angin lalu.

 

Konsumsi makanan dan minuman dari kebaikan alam adalah salah satu cara mengusahakan gaya hidup sehat



Beberapa hari selepas persalinan si sulung, rasanya merupakan masa-masa terberat dalam hidupku. Tubuh, emosi dan mental remuk redam. Apalagi, kami sepakat sampai sulung selapanan aku tetap di Yogya untuk belajar dulu pada Ibu mertua cara merawat bayi mungil. Jauh dari suami buat ibu muda labil ini adalah tantangan berat. Siapa sangka kebaikan alami wedang uwuh mujarab mengembalikan kewarasanku.

Secerah pagi, senyuman Bu Gito menyapa. Ibu membuat janji temu dengan ahli pijat terkenal di dusun kami. Spesialisasinya mengurut ibu setelah bersalin dan adek bayi. Sulung di antrian pertama. Kentara sekali bayi mungil di depanku itu terbuai menikmati setiap urutan tangan Bu Gito. Ah, beliau memang sakti. Tak kudengar tangisan melengking yang bikin aku tergopoh-gopoh panik.

Rabu, 20 November 2019

Rawat atau Musnah, Segenting Itukah Cagar Budaya Indonesia?



Cagar budaya situs Rante Bori Parinding, Kabupaten Tana Toraja  @jelajahsuwanto


Rawat atau musnah? Diksi ini jelas ditujukan untuk hal krusial dan bermakna esensi. Kini di pundak milenial, Cagar Budaya Indonesia sampai pada pilihan genting tersebut. Sejatinya cagar budaya adalah sumber memori kolektif tentang peradaban leluhur, jati diri dan pembentuk karakter bangsa Indonesia. Namun, apakah kita, masyarakat Indonesia sungguh mengenal dan bangga akan cagar budayanya sendiri?

“Mas, tahu gak cagar budaya itu apa?” Iseng, aku ingin tahu sejauh mana si sulung memahami cagar budaya.
“Tahu. Kayak Museum, Sumpang Bita, Leang-leang, sama Makam Tuanku Imam Bonjol, kan?” balasnya datar saja.
“Iya, kurang lebih seperti itu. Sebenarnya cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan. Wujudnya bisa berupa benda, struktur, situs, kawasan, dan bangunan, seperti yang Mas sebut tadi.” Aku terpancing menjelaskan pada wajah kurang antusias itu.  “Menurut Mas, jelajah cagar budaya kita seru gak?
“Jelajah sama keluarganya seru, tapi cagar budayanya enggak terlalu. Kurang menarik. Sepi." Itulah jawaban jujur remaja 14 tahun.

Percakapan di atas memang tidak bisa digeneralisasi sebagai cara pandang milenial. Namun harus diakui, cagar budaya kita masih kurang menggugah minat untuk sekadar berkunjung. Padahal menyambangi cagar budaya adalah pintu masuk bagi rasa cinta yang harapannya dapat menumbuhkan kebanggaan sebagai seorang Indonesia. Kalau sudah bicara cinta, dengan kesadaran sendiri tanpa diminta setiap kita akan merawatnya biar tidak ambyar apalagi musnah. 

Rabu, 25 September 2019

Wayag, Ketika Someday is Today!


Wayag, Raja Ampat || When someday is today @jelajahsuwanto

Mentari begitu garang di puncak Wayag, tapi teriknya kalah oleh semangat Keluarga Suwanto. Tidakkah kau lihat, binar di wajah lelaki itu? Hari ini ia menggenapi mimpinya, membawa istri dan kedua putranya mengarungi kepulauan Raja Ampat, menaklukkan puncak Wayag. Someday is TODAY, ketika engkau selamat sampai pada cita-citamu!

Wayag adalah ikon Raja Ampat. Dari puncak Wayag inilah, gugusan pulau karang melingkari laguna sewarna biru pirus tersebar pada dunia. Namun, dimana tepatnya Wayag? Tak ada gambaran jelas bagi jelajahsuwanto saat itu, yang kami tahu pokoknya ke Raja Ampat. 

Kamis, 12 September 2019

Friwen Raja Ampat, It's Serendipity!

Tiada yang lebih baik dari rasa syukur, sekalipun hanya singgah di suatu tempat tanpa rencana.
Boleh jadi kamu berjumpa serendipity, kebetulan yang menghangatkan!

 
Menenangkan diri di perairan teduh Friwen, Distrik Waigeo Selatan, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Kamu tahu apa itu serendipity?  Ser.en.dip.i .ty | discovery of something fortunate: the accidental discovery of something pleasant, valuable or useful. Bagiku, Friwen adalah serendipity. Lihatlah langit di atas sana, sendu kelabu. Tadinya ingin kurekayasa foto ini untuk menunjukkan betapa anggunnya Friwen. Air yang tenang, sayup desir angin, pasir putih nan lembut. Namun, aku akan kehilangan kisah bila kulakukan itu.

Minggu, 14 April 2019

Wisata Konservasi Mangrove Jakarta

TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Dua minggu tinggal di Metropolitan, gelagat istri dan anak-anak Pak Suwanto sudah terbaca ganjil. Sepertinya mereka rindu rimbun-rimbun hijau. Beruntung Pak Suwanto cepat tanggap. Sepulang misa di  Stella Maris, Keluarga Suwanto berkunjung ke tempat tak biasa di utara Jakarta. Bukan gedung pencakar langit, mal raksasa atau hutan beton, tapi hutan mangrove. Tepatnya Taman Wisata Alam Mangrove Angke yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jl. Garden House, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Sabtu, 06 April 2019

Kawah Putih, Misterius dan Membius

Kawah Putih @jelajahsuwanto


Hari itu selepas lohor, setelah beberapa kelokan dan tanjakan, Keluarga Suwanto akhirnya tiba di Kawah Putih. Meski, pituin Urang Sunda, baru kali ini saya sowan ke Kawah Putih. Takjub.
Ketika sekumpulan putih berbaur hijau, terciptalah pendar rona indah. Sekilas memang dominan putih. Mungkin demikianlah danau di ketinggian 2.194 mdpl ini dikenal sebagai Kawah Putih yang tersohor.

Jumat, 25 Januari 2019

Narablog: Istimewa Ketika Tulus & Bermanfaat



Bangga menjadi narablog

Pada Senja Itu

Pada suatu senja dengan rintik hujan, seorang ibu berputera dua duduk di depan cermin. “Aku harus menulis catatan perjalanan keluarga kecilku!”, ucapnya pada wajah bulat yang menatap lekat. 
Kelak anak-anakku dapat bertualang kembali ke masa kecil mereka. Tulisan itu adalah prasasti cinta Keluarga Suwanto. Kisah tentang jelajah dan limpah kasih sayang semesta.”
Demikianlah malam itu, pada medio 2015 di suatu senja dengan rintik hujan, jelajahsuwanto mulai direka.

Catatan perjalanan Keluarga Suwanto kurangkai di penggal lempengan maya. Wadah itu tertanam dalam sebuah blog gratisan, Blogpsot. Tak mengapa, bentuknya carut marut, aku hanya ingin menulis. Jelajahsuwanto cuma coretan seorang ibu untuk kedua puteranya. Coretan yang kadang kala berasal dari ingatan lampau yang diabadikan Pak suami lewat foto.  

Selasa, 04 Desember 2018

Jelajah Minahasa, Sempurnanya Wonderful Indonesia!

Kapal bersandar di Pelabuhan Manado terlihat dari Jembatan Soekarno

Keluarga Suwanto tiba di tanah Minahasa pada sebuah malam di penghujung Januari. Ketika Manado, di mana banyak suku Minahasa menetap, tengah menggeliat dari banjir bandang yang tiba-tiba menerjang.  Ketika truk-truk dengan musik rancak, puluhan orang berdiri di atasnya membawa arit, pisau panjang, dan cangkul. Orang-orang dari berbagai pelosok yang dengan tulus tanpa pamrih turun membersihkan bekas banjir di Manado. Sebuah bukti nyata dari “torang samua basodara”, kita semua bersaudara.
Jelajah Minahasa bagi kami merujuk pada keelokan di utara jazirah Sulawesi, meliputi Manado, Tomohon, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Minahasa sendiri adalah salah satu suku terbesar di Sulawesi Utara. Seperti etimologisnya, Mina-Esa berarti “Menjadi Satu”. Demikianlah di tanah Minahasa, Wonderful Indonesia terangkum sempurna menjadi kesatuan yang utuh. Bentang alam, budaya, sejarah, kuliner serta orang-orangnya.

Harmonis saling melengkapi dalam dekat. Birunya gunung gemunung, hijaunya hamparan danau, lazuardi nun di lautan, atau senja keemasan dapat dicapai dalam bilangan jam, kurang dari sebelah jari. Namun, yang susah adalah kembali pulang dari jelajah. Itulah mengapa Minahasa sangat tak biasa.

Rabu, 10 Oktober 2018

Pantai Pal Marinsow, Tertinggal Di Sudut Senja

Pantai Pal Marinsow, Likupang Timur + jelajahsuwanto
Hiruk pikuk mengoyak kelembutan senja. Seorang ibu berjilbab hilir mudik meneriakkan sebuah nama. Juga, seorang bapak bercelana congkrang menyuarakan nama yang sama. Ya, mereka sepasang suami istri yang sedang mencari buah hatinya di Pantai Pal Marinsow.
Saya tadi sudah naik di bis, pas mau jalan, baru sadar, anak saya tidak ada,” panik perempuan itu menjelaskan pada pelancong yang ingin tahu. Satu hal yang harus kamu teladani dari orang Minahasa adalah rasa persaudaraannya. Torang Samua Basudara. Itu bukan slogan belaka, orang Minahasa sungguh menjiwainya. Semua ikut ambil bagian mencari anak yang hilang itu. 

Adalah kawasan pantai berpasir putih. Lazuardi sewarna langit memantul pada maha luas lautan. Rindu Keluarga Suwanto pada aroma laut, debur ombak dan putihnya pantai Sulawesi Selatan, terobati di sini. Pantai Pal cukup mendekati keindahan pantai-pantai Bulukumba di Sulawesi Selatan. Di beberapa tempat, pasir pantainya landai. Ada pula yang serupa tebing pasir, tempat favorit adek kecik berseluncur penuh keriaan. 

Jumat, 28 September 2018

Rambu Solok, Kemeriahan Mengantar Keabadian



Lakkian, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Semua bermula setelah tanjakan itu. Lelah menapaki undak-undakan Londa, gubuk peristirahatan kecil menarik kami. Di sanalah, semesta memeluk mimpi-mimpimu. Seorang ibu dan kerabatnya tiba sementara kami mengaso. Mereka pun ngos-ngosan. Percakapan khas ibu-ibu meluncur begitu saja. Lalu, entah kebetulan yang mana, Ibu setengah baya itu mengundang Keluarga Suwanto untuk datang ke pesta Rambu Solok keluarganya. Kami memang ingin sekali menyaksikan upacara sakral itu.

Rambu Solok adalah upacara adat kematian suku Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan. Ritual upacara penyempurnaan kematian ini bisa jadi yang paling meriah dan mahal di Indonesia. Seorang kawan Toraja pernah mengatakan upacara kematian, Rambu Solok merupakan yang terpenting dari rentang kehidupan seorang Toraja, bahkan melebihi upacara kegembiraan, Rambu Tuka. Megah dan meriahnya Rambu Solok, menentukan status sosial keluarga yang merayakan.