Kamis, 12 September 2019

Friwen Raja Ampat, It's Serendipity!

Tiada yang lebih baik dari rasa syukur, sekalipun hanya singgah di suatu tempat tanpa rencana.
Boleh jadi kamu berjumpa serendipity, kebetulan yang menghangatkan!

 
Menenangkan diri di perairan teduh Friwen, Distrik Waigeo Selatan, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Kamu tahu apa itu serendipity?  Ser.en.dip.i .ty | discovery of something fortunate: the accidental discovery of something pleasant, valuable or useful. Bagiku, Friwen adalah serendipity. Lihatlah langit di atas sana, sendu kelabu. Tadinya ingin kurekayasa foto ini untuk menunjukkan betapa anggunnya Friwen. Air yang tenang, sayup desir angin, pasir putih nan lembut. Namun, aku akan kehilangan kisah bila kulakukan itu.

Pagi ceria dari Tanjung Talaip, Keluarga Suwanto gembira menyambut hari. Terbayang tur Piaynemo - Telaga Bintang - Yenbuba dan Yeben akan spektakuler. Dan ah, tentu saja Teluk Kabui - Batu Pensil juga Pasir Timbul. Perjalanan boleh terencana apik, tapi kenyataan berkata lain. Suka tidak suka, segala risiko di lapangan harus siap tanggung. Seperti hari itu, siapa nyana laut tiba-tiba bergelora, awan kelabu menumpahkan hujan. Tambah pula kebocoran perahu naik ke level mengkhawatirkan, memaksa kami merelakan itinerary hari ke-3 jelajah Raja Ampat. 

Karena kebocoran perahu, serendipity Friwen @jelajahsuwanto

Tak sampai setengah jam setelah meninggalkan kawasan hutan lindung Pulau GAM, dimana kami menepi untuk perbaikan perahu,  motoris akhirnya angkat tangan. Ia mendaratkan kembali perahu di sebuah pulau kecil yang ayem. Saat memasuki perairan Friwen, perbedaannya begitu kentara, beringas gelombang laut sirna. Sejauh mata memandang hanyalah perairan teduh nyaris tanpa riak. Tempat yang pas untuk mendamaikan gulana.

Bibir merah jambe tersenyum menyambut Keluarga Suwanto. “Mama, kami numpang tinggal sebentar ya,” pintaku pada wanita setengah baya itu. Ia sedang menyapu daun-daun kering sambil sibuk mengunyah pinang. Di bawah naungan ketapang laut kami merarai hati sembari menikmati makan siang yang sudah disiapkan keluarga Talaip Homestay, tempat bermalam di hari sebelumnya. 

Sunyi pulaunya, teduh perairannya, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Rimbunnya Ketapang Laut dan lambaian nyiur, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto
       
Pulau Friwen berada di Distrik Waigeo Selatan. Pulau ini dihuni sekitar 30 keluarga yang hidup harmonis di tengah kelimpahan bahari. Kebanyakan dari penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan. Dekat pulau dikenal sebuah spot menyelam dan snorkeling favorit wisatawan, Friwen Wall namanya. Friwen Wall terletak di pulau kecil Friwenbonda, kurang lebih 500 meter ke arah timur laut. “Di sana terumbu karang, ikan, anemon, banyak, cantik-cantik, alami.” Demikian pemandu kami, Om Paul memberi keterangan.

Seteduh perairannya, Friwen juga sunyi. Mungkin kami kurang masuk ke perkampungan. Selain Mama yang rajin menyapu, baru satu anak pulau terlihat melintas, seekor kucing yang sedang bermalas-malasan, dan dua ekor anjing hitam.

Papan kesepakatan tertanam di pasir putih, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Pantai tempat kami menambatkan perahu rupanya bernama Sauyado. Pengunjung  baik yang hanya piknik cantik, snorkeling atau menyelam tetap dikenakan pungutan sukarela. Pungutan tersebut disepakati oleh “Tiga Tungku” yang terdiri dari tokoh agama, Badan Musyawarah Kampung dan kepala kampung sebagai upaya untuk penanggulangan dan fungsi konservasi. Demikian tercatat di papan pengumuman yang tertanam di pasir putih.

Upaya Penanggulangan dan Fungsi Daerah Konservasi Kabupaten Raja Ampat
Disampaikan kepada siapa saja yang melakukan kegiatan snorkeling, 
tamasya/piknik di kawasan Pantai Sauyado akan dikenakan pungutan sukarela.

1. Pungutan tersebut dimasukkan ke kotak pungutan, dengan mengisi buku tamu.
2. Ingat, sampah pun  diletakkan pada tempatnya.
3. Kesepakatan ini mendapat respon dari masyarakat Kampung Friwen 
yang dihadiri oleh "TIGA TUNGKU" setempat.

Friwen, 4.3.014
Tokoh Agama, Bamuskam, Kepala Kampung

Ketapang Laut yang megah, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Pantai Sauyado memang bersih. Pepohonan hijau rindang dan lambaian nyiur menambah asri suasana. Sesuai kesepakatan bersama, penduduk sadar akan kebersihan lingkungan. Diingatkan agar pengunjung pun membuang sampah pada tempatnya. Fasilitas seperti toilet berbayar, warung makan dan souvenir sebenarnya tersedia, tapi hari itu tutup.

Bebaskan! Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Enjoy every little thing, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Ketapang laut yang berdiri megah di Sauyado penyelamat kami. Cabangnya kokoh, daunnya rimbun. Tiga utas tali berjuntai. Penduduk pulau memanfaatkannya untuk bermain ayunan. Begitulah Pak Suwanto dan si Mas harus berterima kasih pada ketapang laut ini. Berkat ketapang laut dan ayunannya, senyum dan tawa mereka lepas kembali, tadi lama sekali terkatup. Tak bisa dipungkiri kami sedikit kecewa karena jelajah yang terlewatkan.

Maaf mengganggu tidur siangmu, Mpuss, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Kucing manja menikmati ketenangan Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Jika kucing malas yang enggan membuka mata bisa menghangatkan hatimu. Jika senyum mama pengunyah pinang bisa melelehkan penatmu. Atau ayunan tali yang memerdekakan kecewamu, gradasi air laut melarungkan was-wasmu, apalagi yang bisa diminta? Serendipity bisa kita maknai, jika kita memiliki hati yang bersyukur.

Terima kasih untuk keheninganmu, Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Boat Kawe Star tak bisa lagi mengantarkan jelajahsuwanto, Om Paul berupaya mengusahakan sisa perjalanan tetap menyenangkan. Kami menumpang perahu nelayan menuju Batu Lima Homestay, tak jauh dari Friwen. Persis di seberangnya, sekitar 15 menit berperahu. Lihatlah airnya yang tenang laksana danau.

Sebagaimana jelajah suwanto memaknai Friwen sebagai serendipity, semoga anda yang tak sengaja membaca catatan ini menemukan juga serendipitynya sendiri. Salam jelajah!

Sampai jumpa Friwen Distrik Waigeo Selatan @jelajahsuwanto

Sabtu, 11 Mei 2019

Taman Doa Maria Gantang: Mbok Tentrem Memberi Damai

Mbok Tentrem, Bunda Maria Ratuning Katentreman lan Karaharjan di Taman Doa Maria Gantang, @jelajahsuwanto

Aku tertegun memandang Mbok Tentrem di bawah langit kelabu kaki Gunung Merapi. Sang seniman yang memahatnya melanting pesan yang dalam. Bunda Maria atau Mbok Tentrem (sebutan mesra dari sang seniman) tidak lagi menginjak ular seperti yang biasanya. Kini, Bunda Maria mengenjak kepala naga. Kejahatan manusia sekarang tak sebanding lagi dengan ular yang menjerumuskan manusia pertama ke dalam dosa. Naga adalah metafora dosa manusia zaman ini. Kefasikan yang meruak, merajalela! Namun, Taman Doa Maria Gantang memberikan ruh pengharapan. Bunda Maria ratuning katentreman lan karaharjan sedia melibas naga kedosaan yang membelit kehidupan setiap kita.

Minggu, 14 April 2019

Wisata Konservasi Mangrove Jakarta

TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Dua minggu tinggal di Metropolitan, gelagat istri dan anak-anak Pak Suwanto sudah terbaca ganjil. Sepertinya mereka rindu rimbun-rimbun hijau. Beruntung Pak Suwanto cepat tanggap. Sepulang misa di  Stella Maris, Keluarga Suwanto berkunjung ke tempat tak biasa di utara Jakarta. Bukan gedung pencakar langit, mal raksasa atau hutan beton, tapi hutan mangrove. Tepatnya Taman Wisata Alam Mangrove Angke yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jl. Garden House, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.

Sabtu, 06 April 2019

Kawah Putih, Misterius dan Membius

Kawah Putih @jelajahsuwanto


Hari itu selepas lohor, setelah beberapa kelokan dan tanjakan, Keluarga Suwanto akhirnya tiba di Kawah Putih. Meski, pituin Urang Sunda, baru kali ini saya sowan ke Kawah Putih. Takjub.
Ketika sekumpulan putih berbaur hijau, terciptalah pendar rona indah. Sekilas memang dominan putih. Mungkin demikianlah danau di ketinggian 2.194 mdpl ini dikenal sebagai Kawah Putih yang tersohor.

Jumat, 25 Januari 2019

Narablog: Istimewa Ketika Tulus & Bermanfaat



Bangga menjadi narablog

Pada Senja Itu

Pada suatu senja dengan rintik hujan, seorang ibu berputera dua duduk di depan cermin. “Aku harus menulis catatan perjalanan keluarga kecilku!”, ucapnya pada wajah bulat yang menatap lekat. 
Kelak anak-anakku dapat bertualang kembali ke masa kecil mereka. Tulisan itu adalah prasasti cinta Keluarga Suwanto. Kisah tentang jelajah dan limpah kasih sayang semesta.”
Demikianlah malam itu, pada medio 2015 di suatu senja dengan rintik hujan, jelajahsuwanto mulai direka.

Catatan perjalanan Keluarga Suwanto kurangkai di penggal lempengan maya. Wadah itu tertanam dalam sebuah blog gratisan, Blogpsot. Tak mengapa, bentuknya carut marut, aku hanya ingin menulis. Jelajahsuwanto cuma coretan seorang ibu untuk kedua puteranya. Coretan yang kadang kala berasal dari ingatan lampau yang diabadikan Pak suami lewat foto.  

Selasa, 04 Desember 2018

Jelajah Minahasa, Sempurnanya Wonderful Indonesia!

Kapal bersandar di Pelabuhan Manado terlihat dari Jembatan Soekarno

Keluarga Suwanto tiba di tanah Minahasa pada sebuah malam di penghujung Januari. Ketika Manado, di mana banyak suku Minahasa menetap, tengah menggeliat dari banjir bandang yang tiba-tiba menerjang.  Ketika truk-truk dengan musik rancak, puluhan orang berdiri di atasnya membawa arit, pisau panjang, dan cangkul. Orang-orang dari berbagai pelosok yang dengan tulus tanpa pamrih turun membersihkan bekas banjir di Manado. Sebuah bukti nyata dari “torang samua basodara”, kita semua bersaudara.
Jelajah Minahasa bagi kami merujuk pada keelokan di utara jazirah Sulawesi, meliputi Manado, Tomohon, Minahasa Utara, dan Minahasa Tenggara. Minahasa sendiri adalah salah satu suku terbesar di Sulawesi Utara. Seperti etimologisnya, Mina-Esa berarti “Menjadi Satu”. Demikianlah di tanah Minahasa, Wonderful Indonesia terangkum sempurna menjadi kesatuan yang utuh. Bentang alam, budaya, sejarah, kuliner serta orang-orangnya.

Harmonis saling melengkapi dalam dekat. Birunya gunung gemunung, hijaunya hamparan danau, lazuardi nun di lautan, atau senja keemasan dapat dicapai dalam bilangan jam, kurang dari sebelah jari. Namun, yang susah adalah kembali pulang dari jelajah. Itulah mengapa Minahasa sangat tak biasa.

Rabu, 10 Oktober 2018

Pantai Pal Marinsow, Tertinggal Di Sudut Senja

Pantai Pal Marinsow, Likupang Timur + jelajahsuwanto
Hiruk pikuk mengoyak kelembutan senja. Seorang ibu berjilbab hilir mudik meneriakkan sebuah nama. Juga, seorang bapak bercelana congkrang menyuarakan nama yang sama. Ya, mereka sepasang suami istri yang sedang mencari buah hatinya di Pantai Pal Marinsow.
Saya tadi sudah naik di bis, pas mau jalan, baru sadar, anak saya tidak ada,” panik perempuan itu menjelaskan pada pelancong yang ingin tahu. Satu hal yang harus kamu teladani dari orang Minahasa adalah rasa persaudaraannya. Torang Samua Basudara. Itu bukan slogan belaka, orang Minahasa sungguh menjiwainya. Semua ikut ambil bagian mencari anak yang hilang itu. 

Adalah kawasan pantai berpasir putih. Lazuardi sewarna langit memantul pada maha luas lautan. Rindu Keluarga Suwanto pada aroma laut, debur ombak dan putihnya pantai Sulawesi Selatan, terobati di sini. Pantai Pal cukup mendekati keindahan pantai-pantai Bulukumba di Sulawesi Selatan. Di beberapa tempat, pasir pantainya landai. Ada pula yang serupa tebing pasir, tempat favorit adek kecik berseluncur penuh keriaan. 

Jumat, 28 September 2018

Rambu Solok, Kemeriahan Mengantar Keabadian



Lakkian, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Semua bermula setelah tanjakan itu. Lelah menapaki undak-undakan Londa, gubuk peristirahatan kecil menarik kami. Di sanalah, semesta memeluk mimpi-mimpimu. Seorang ibu dan kerabatnya tiba sementara kami mengaso. Mereka pun ngos-ngosan. Percakapan khas ibu-ibu meluncur begitu saja. Lalu, entah kebetulan yang mana, Ibu setengah baya itu mengundang Keluarga Suwanto untuk datang ke pesta Rambu Solok keluarganya. Kami memang ingin sekali menyaksikan upacara sakral itu.

Rambu Solok adalah upacara adat kematian suku Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan. Ritual upacara penyempurnaan kematian ini bisa jadi yang paling meriah dan mahal di Indonesia. Seorang kawan Toraja pernah mengatakan upacara kematian, Rambu Solok merupakan yang terpenting dari rentang kehidupan seorang Toraja, bahkan melebihi upacara kegembiraan, Rambu Tuka. Megah dan meriahnya Rambu Solok, menentukan status sosial keluarga yang merayakan. 

Jumat, 18 Mei 2018

Paket Rekreasi di Kinaari Resort, Tak Harus Menginap!

Kinaari, resort di pinggir tebing menghadap laut sulawesi +fotojelajahsuwanto

Sabtu yang hangat, Keluarga Suwanto semangat melakukan perjalanan menuju Likupang Barat. It’s family time, waktunya menjelajah. Kinaari Resort menjadi titik acuan ketika menyetel Google Maps. Sebenarnya, tujuan kami adalah pantainya.

Berkendara dari Manado menyusuri jalur Likupang, adalah penjelajahan itu sendiri. Seperti sering diceritakan, jalan-jalan daerah di Sulawesi Utara itu, walaupun beraspal mulus, tapi rasanya masih saja kurang lebar. Mungkin karena jalanan ibukota dan Makassar masih terekam di kepala. Ciri khas Sulawesi Utara lainnya, tiada lain jalanan membelah bukit, turun naik melewati lembah. Sangat Ninja Hatori. Ribuan nyiur, perdu dan rerumputan hijau menghadirkan lukisan alam yang menemani perjalananmu. Seru, sejuk dan segar.
 

Rabu, 28 Februari 2018

Mendaki Nglanggeran, Hati-hati KETAGIHAN!

Nglanggeran: Memandang Semesta dari Puncak Gunung Api Purba  +fotojelajahsuwanto


“Ayah, Bunda, kenapa ya, sekarang aku jadi suka naik gunung? Dulu aku cuma suka main di pantai, kan?, sulungku membuka percakapan. Petang semakin pekat, Keluarga Suwanto berkendara dalam perjalanan pulang menyusuri bukit bintang yang berkelap-kelip. Kami baru saja mendaki gunung api purba Nglanggeran.

“Aku juga suka naik gunung, iya kan, Bun?” si kecik 6 tahun segera nyamber. Langsung disambut gelak tawa seisi mobil. Adek kecik memang jenaka.

Siapa yang tak akan ketagihan, Nak? Pemandangan 360 derajat dari puncak gunung selalu mengingatkan betapa kecilnya kita. Hanya semesta saja yang paling megah, bukti kebesaranNYA. Ah, mendengar bicaramu, betapa bahagianya ayah bunda. Kecintaan kami pada alam menular dengan sendirinya pada kalian. Kini jelajah keluarga suwanto lengkap, travel kemana saja ayo! Mau mendaki gunung, lewati lembah, menyusur sungai, lompati samudera, Let’s go!

Senin, 05 Februari 2018

Tasik Ria Resort: Sentuhan Klasik yang Hangat



Tasik Ria Resort di waktu senja +jelajahsuwanto

Sore itu Keluarga Suwanto tiba di Tasik Ria Resort. Pak Suami akan menghadiri acara gathering kantornya, sementara saya dan anak-anak nebeng jelajah tipis-tipis. Kesan pertama ketika memasuki pekarangan resort ini adalah klasik dan nyaman. Deretan nyiur membuatnya rindang dan teduh. Apalagi, tak lama senja datang. Kami dapat menikmati momen sunset langsung dari muka kamar. Persis di depannya adalah perairan Pantai Tasik Ria yang tenang.

Tasik Ria Resort mudah ditempuh dari pusat kota Manado. Berlokasi di Teluk Tanawangko, hanya sekitar 45 menit atau berjarak kurang lebih 20km dari kota. Alamatnya tercatat berada di Jl. Raya Trans Sulawesi, Tasik Ria, Mokupa, Tombariri, Manado 95351. Untuk informasi dan reservasi, bisa melalui telepon: +62 431 824445, +62 431 824447, +62 431 824003. Fax: +62 431 823444 dan email: info@tasikria.com.

Minggu, 28 Januari 2018

Pantai Tasik Ria: Senja yang Merona Di Barat Daya Manado


Pantai Tasik Ria, senja yang sempurna +jelajahsuwanto

Semburat lembayung merona di langit utara sebuah tasik. Malu-malu ia bercengkerama dengan surya keemasan. Kami memandangnya dalam diam, tak ingin mengusik perpaduan senja selembut itu. Adalah Pantai Tasik Ria, salah satu tempat dengan pemandangan senja terbaik di Manado.

Weekend escape Jelajah Suwanto kali ini sambil menyelam minum air. Menemani Pak Suami gathering kantor, anak-anak dan emaknya jelajah tipis-tipis. Pantai Tasik Ria tidak terlalu jauh dari rumah ataupun pusat kota Manado. Waktu tempuh berkendara kurang lebih 30 menit atau sekitar 20km menuju barat daya. Lokasinya berada di pinggir jalan raya Trans Sulawesi di daerah Mokupa, Tombariri, Minahasa.

Kamis, 25 Januari 2018

Urongo Tondano Lake Not Just Tree House

+jelajahsuwanto di Tondano Lake Not Just Tree House


Minggu di penghujung Oktober 2017, Keluarga Suwanto meninggalkan Manado. Tujuan kami jelas, Puncak Urongo di Tondano. Setelah beberapa kali kecewa karena tak jodoh menikmati Danau Tondano, kali ini kami tidak boleh gagal. Apalagi sekarang objek wisata Tondano tak hanya hamparan danau. Sedang happening spot instagramable di Puncak Urongo, masih di sekitaran pesisir danau.

Tondano letaknya hanya sekitar 40-45 km dari Manado. Perjalanan santai di hari weekend kira-kira menghabiskan waktu antara 1 sampai 1,5 jam. Keluarga Suwanto mengambil jalur Manado-Tomohon-Tondano. 
Posisi Tomohon berada di atas Manado dan Tondano. Medan yang dilalui cukup menanjak, naik turun dan berkelak-kelok. Kiri kanan jalan diapit tebing dan lembah dengan tanaman tropis sebagai mahkotanya. Berkendara di sepanjang jalur ini saja, sudah cukup menenteramkan hati.

Senin, 02 Oktober 2017

SkyScanner Dan Cerita Jelajah Anak Rantau

Pulau Kecil yang tertangkap kamera, dalam perjalanan menuju Makassar +jelajahsuwanto
 New Hello

“Bun, aku promosi…, tapi ke luar pulau…, gimana?” Siang itu, masih terngiang suaranya di seberang telepon.
Aku bangga dan berbahagia untuk suamiku, tapi mengapa ruangan kantor itu nampak indah, menahanku untuk tetap tinggal di Ibukota yang penuh gairah. Promosi suami, resign dari pekerjaanku sendiri, negeri orang, pindah sekolah anak, jauh dari orang tua sanak keluarga, semuanya berkecamuk meminta porsi.

Saya dan Suami menyukai perjalanan. Masih membekas jawaban seorang senora di film The Way, ketika ditanya pernahkah ia pergi ziarah ke Santiago de Compostella. Ia mengatakan “No never, when I was young, I was too busy, and now that I am older, I’m too tired!”.
Tidak, saya tak ingin terjebak dalam rutinitas semu seperti senora tersebut. Tidak juga berlindung di balik alasan pekerjaan maupun anak-anak. Saya siap merantau dan mengenalkan anak-anak pada indahnya perjalanan.

Maka demikianlah, setelah melalui diskusi suami istri, pergumulan doa, dan restu orang tua, Keluarga Suwanto siap terbang menemukan “new hello” ke tanah rantau.

Kamis, 31 Agustus 2017

Makam Tuanku Imam Bonjol Lotta Minahasa

Makam Tuanku Imam Bonjol di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara +Jelajahsuwanto
Makam Tuanku Imam Bonjol di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara +Jelajahsuwanto
Suatu Sabtu sore yang sejuk, kami menepikan mobil di pinggir jalan lingkar Manado. Buah Matoa dan Durian Montong di mobil bak itu tampak menggiurkan. Manado memang surga buah lokal menurutku.
“Buah ini asalnya dari Lotta. Ada perkebunan di sana,” demikian bapak penjual buah itu menjawab pertanyaanku tentang muasal buah-buahan ini. Lotta, sebuah tempat dengan nama yang unik. Ada perkebunan buah macam matoa dan durian, ah, tentu saja membangkitkan hawa-hawa menjelajah. Dan esoknya, Keluarga Suwanto berangkat menuju Lotta. Tak direncana, ternyata kami malah berkunjung ke Makam Tuanku Imam Bonjol.