Jumat, 12 Februari 2016

Pantai Mandala Ria, Tersembunyi Cantik di Desa Ara

 Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+
Pantai Mandala Ria; Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+


Pantai Mandala Ria menjadi agenda dadakan Keluarga Suwanto di awal Februari 2016. Setelah bolak balik Tanjung Bira, rasanya kami butuh jelajah pantai-pantai sekitar yang masih belum ramai dijamah pelancong. Pantai Mandala Ria masih satu deretan dengan Pantai Tebing Apparalang di Desa Ara. Pantai ini tersembunyi cantik di sebuah lembah. Ada beberapa gua di sekitarnya, antara lain: Goa Passohara, Jabbolang dan Passea. Pasir pantainya putih lembut, meski belum ada yang mengalahkan pasir tepung Tanjung Bira.  


 Pantai Mandala Ria: Petunjuk Jalan Poros Bulukumba +fotojelajahsuwanto+
 Pantai Mandala Ria: Petunjuk Jalan Poros Bulukumba +fotojelajahsuwanto+
Ada dua alternatif jalan menuju Pantai Mandala Ria. Dari poros Bulukumba bisa melalui jalan masuk  Pantai Tebing Apparalang, atau melalui jalur sebelumnya masih di poros yang sama. Perhatikan papan petunjuk pertama di kiri jalan bertuliskan Pantai Mandala Ria ±10km. Ikuti jalan tersebut. Jalan kecil beraspal mulus, melewati perumahan penduduk dan hutan berpepohonan rindang. Musim penghujan memberikan kesuburan dan kehijauan di tanah karang ini.  

Pantai Mandala Ria: Petunjuk Jalan di desa Ara +fotojelajahsuwanto+
Pantai Mandala Ria: Petunjuk Jalan di Desa Ara +fotojelajahsuwanto+
Setelah melewati Indomaret Desa Ara, sekitar 500 meter akan ketemu pertigaan, di tengahnya ada bundaran, berdiri tugu kecil kapal pinisi. Belok kanan dan ikuti jalan menurun tersebut.
Pelankan saja kendaraannya. Banyak anak-anak kecil bermain di jalan. Kambing dan ayam pun banyak yang lewat. Terang saja, jalan kecil itu persis di tengah kepadatan rumah-rumah panggung khas setempat.

Selanjutnya, be careful, jalanan semakin tricky, hanya cukup untuk satu mobil. Setelah melewati SDN 321 Ara, jalanan semakin menurun, curam dan sedikit berbatu.
Ketika kami pulang dari Pantai Mandala Ria, si black metalic sempat berpapasan dengan mobil putih di tikungan menanjak. Woooww... Lumayan dag dig dug. Ban mendecit-decit. Ayah cukup kesulitan mengendalikan mobil.  

Syukurlah, om pengendara si putih menepikan mobilnya mepet di dinding batu. Ia menawarkan bantuan mengemudikan mobil kami sampai di tempat yang cukup aman. 
Om yang topi merah tadi hebat ya”, komentar si adek yang bergeming di Mobil. 

Begitulah, selalu ada interaksi dan cerita kebaikan di setiap jelajah kami.


Pantai Mandala Ria: Jalan yang berbatu dan tricky +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Jalan yang berbatu dan tricky +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria dinamakan demikian karena menyimpan sejarah. Berpuluh tahun yang lalu, di pantai ini Panglima Mandala memesan 24 kapal dalam rangka Pembebasan Irian Barat dari Kolonial Belanda. Secara Administratif, Pantai Mandala Ria berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jarak tempuh sekitar 34 km dari Bulukumba.  


Pantai Mandala Ria: Surga di sebuah lembah Desa Ara  +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Surga di sebuah lembah Desa Ara  +fotojelajahsuwanto
Hari menjelang sore ketika kami tiba di sebuah lembah dengan pemandangan lautan yang tenang. Hening. Serasa pantai milik pribadi. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda petugas atau pengelola di Pantai ini. Mobil diparkir sembarang di depan rumah panggung tak berpenghuni. Hanya jaring-jaring ikan melambai di serambinya. Sebuah petunjuk arah bertuliskan Pajoka mengarah ke kiri, tertempel di batang Nyiur. 

Sebelum mencapai pantai, Tapak Kuda saling membelit merayapi tanah pasir. Dua buah ayunan membelakangi hamparan daun hijau dan bunga ungunya. Abaikan saja kiriman musim barat di pinggir pantai, sampah-sampah yang berserak. Toh, kita tidak dapat menolaknya.

Pantai Mandala Ria: Ayunan menghadap lautan +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Ayunan menghadap lautan  +fotojelajahsuwanto
Kami berayun-ayun menatap lautan, menahan keinginan besar untuk mencebur. Sementara adek kecil tanpa bisa dicegah terlanjur bergelung di air asin. Merdekanya menjadi anak kecil. 

Kalau saja jalanan lebih nyaman dilewati, biar hari semakin gelap, kami akan betah-betah saja terdampar di surga pantai ini. 
 
Pantai Mandala Ria: Tebing Batas Pantai  +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Tebing Batas Pantai  +fotojelajahsuwanto

Mengarah ke Kanan, sebuah tebing menjorok ke laut, menjadi batas Pantai Mandala Ria. "Ayok, bertanding lari mencapai dinding tebing. Bersedia, Siaaap, Ya!"  Bunda, Mas dan Adek Kecik berlomba lari menuju batas pantai.

Hampir sepuluh menit berlari, ujung pantai masih di tatapan mata, kami sudah melambat. 

Hosh hosshh, tersengal-sengal juga.. 

Pantai Mandala Ria: Tempat Pembuatan kapal Pinisi   +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Tempat pembuatan kapal Pinisi  +fotojelajahsuwanto

Ternyata ada sebuah rumah panggung di arah sana. Seorang Bapak berbaju hitam melihat ke arah kami dari belakang kapal Pinisi yang masih belum tuntas. Beberapa Kapal Pinisi sedang dalam proses pengerjaan, menandakan pantai ini berpenghuni.


Pantai Mandala Ria: Hutan pantai yang rimbun  +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Hutan pantai yang rimbun  +fotojelajahsuwanto

Kami melewati Pepohonan rimbun dan bebatuan besar yang memagari bibir pantai. Mungkinkah di belakang batuan besar itu letak Goa Passea yang merupakan situs pemakaman orang-orang Ara Kuno? 

Area itu terlihat semakin gelap karena sore semakin dalam. 

Ayok balik lagi aja” ajakku.

Ayah pun mengingatkan agar kami bergegas.
15 menit lagi ya!” Ayah menjawab rajukan anak-anak yang terus mau berkecipak-kecipuk. 

Okelah, masih bisa berburu cangkang kerang cantik, memotret Waru Laut yang tengah berbuah, dan berselfa-selfie, tentu saja.

Pantai Mandala Ria: Cangkang kerang dan Pohon Waru Laut  +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: Cangkang kerang dan Pohon Waru Laut  +fotojelajahsuwanto

***
Saat hendak mengambil tongsis yang ketinggalan di dashboard mobil, sebuah Avanza putih dari arah Pajoka berhenti di dekat ayah. Dua orang Bapak dan seorang Ibu Bule ditemani driver lokal bertopi merah tersenyum ramah. 

Pak Bule di kursi depan bertanya dimana kami menginap? Mereka ingin sekali menghabiskan waktu di Pantai tersembunyi ini. 

"Kami sudah menyambangi Pajoka, tapi tak ada orang", ujarnya. Karena kami pun buta informasi mengenai Pantai ini, bule-bule yang ternyata dari Amsterdam ini melambaikan tangan dan kembali ke atas. 

Ya, mereka dewa penolong kami di tanjakan. Kami dipertemukan kembali waktu berpapasan di tikungan rumit itu. Driver merekalah yang membantu kami. Rupanya, mereka berhasil menjadikan Pantai Mandala Ria surga mereka untuk beberapa hari ke depan.

Kemudian kami tahu, Pajokka ternyata bahasa Makassar yang artinya suka jalan-jalan. Sementara petunjuk Pajoka di Mandala Ria mengarah pada Pajoka Eco Beach House, tempat dimana para Bule Holland itu akan menginap. Kami memang belum menjelajah sisi kiri Pantai Mandala Ria. 

Pantai Mandala Ria: berlari kembali dari ujung tebi +fotojelajahsuwanto
Pantai Mandala Ria: kembali dari ujung tebing  +fotojelajahsuwanto


Bila masih ada lain waktu, bila Pantai Mandala Ria masih terjaga kesunyiannya, melegamkan kulit di bawah matahari rasanya adalah pilihan terbaik.


6 komentar:

  1. terima kasih banyak untuk ulasannya mengenai Pantai Mandala Ria.
    Kebetulan foto rumah kayu yang di samping kapal phinisi itu adalah milik kami.
    karena pantai Mandala Ria tersebut adalah milik keluarga suami.
    Kami akan senang bila Bapak dan ibu sekeluarga mau singgah kembali ke pantai dan rumah kami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak telah berkunjung di blog kami. Senang sekali dengan komentar bapak/ibu di blog ini. Terima kasih atas undangannya, pasti menyenangkan dapat menghabiskan waktu di Pantai Mandala Ria.

      Salam hormat kami.

      Hapus
  2. kalau mau nanya2 soal penginapa di pantai mandala ria, ada nox gak ?
    makasih sebelumx

    BalasHapus
  3. Hallo Ibu Diah Wahyuni, terima kasih telah berkenan singgah di blog jelajah keluarga suwanto.
    mohon maaf bu, kami kurang tahu mengenai penginapan di sekitar mandala Ria. Kala itu kami menginapnya di Bira.

    BalasHapus
  4. Bisa minta info untuk penginapan dekat mandala ria, untuk sekitar 12 sampai 15 orang.satu hari dua malam.

    BalasHapus
  5. mampir yak di www.jembatandunia.com

    BalasHapus