Sabtu, 30 November 2019

Wedang Uwuh Kebaikan Alami Menghangatkan Jiwa


  “Mbak, biar wajahmu penuh senyum, tapi badanmu ini bicara banyak. Ndak bisa bohong kalau sama aku,” celetuknya mengagetkan. “Semua itu asalnya dari pikiran, Cah Ayu.” Lanjutnya seolah angin lalu.

 

Konsumsi makanan dan minuman dari kebaikan alam adalah salah satu cara mengusahakan gaya hidup sehat



Beberapa hari selepas persalinan si sulung, rasanya merupakan masa-masa terberat dalam hidupku. Tubuh, emosi dan mental remuk redam. Apalagi, kami sepakat sampai sulung selapanan aku tetap di Yogya untuk belajar dulu pada Ibu mertua cara merawat bayi mungil. Jauh dari suami buat ibu muda labil ini adalah tantangan berat. Siapa sangka kebaikan alami wedang uwuh mujarab mengembalikan kewarasanku.

Secerah pagi, senyuman Bu Gito menyapa. Ibu membuat janji temu dengan ahli pijat terkenal di dusun kami. Spesialisasinya mengurut ibu setelah bersalin dan adek bayi. Sulung di antrian pertama. Kentara sekali bayi mungil di depanku itu terbuai menikmati setiap urutan tangan Bu Gito. Ah, beliau memang sakti. Tak kudengar tangisan melengking yang bikin aku tergopoh-gopoh panik.

Rabu, 20 November 2019

Rawat atau Musnah, Segenting Itukah Cagar Budaya Indonesia?



Cagar budaya situs Rante Bori Parinding, Kabupaten Tana Toraja  @jelajahsuwanto


Rawat atau musnah? Diksi ini jelas ditujukan untuk hal krusial dan bermakna esensi. Kini di pundak milenial, Cagar Budaya Indonesia sampai pada pilihan genting tersebut. Sejatinya cagar budaya adalah sumber memori kolektif tentang peradaban leluhur, jati diri dan pembentuk karakter bangsa Indonesia. Namun, apakah kita, masyarakat Indonesia sungguh mengenal dan bangga akan cagar budayanya sendiri?

“Mas, tahu gak cagar budaya itu apa?” Iseng, aku ingin tahu sejauh mana si sulung memahami cagar budaya.
“Tahu. Kayak Museum, Sumpang Bita, Leang-leang, sama Makam Tuanku Imam Bonjol, kan?” balasnya datar saja.
“Iya, kurang lebih seperti itu. Sebenarnya cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan. Wujudnya bisa berupa benda, struktur, situs, kawasan, dan bangunan, seperti yang Mas sebut tadi.” Aku terpancing menjelaskan pada wajah kurang antusias itu.  “Menurut Mas, jelajah cagar budaya kita seru gak?
“Jelajah sama keluarganya seru, tapi cagar budayanya enggak terlalu. Kurang menarik. Sepi." Itulah jawaban jujur remaja 14 tahun.

Percakapan di atas memang tidak bisa digeneralisasi sebagai cara pandang milenial. Namun harus diakui, cagar budaya kita masih kurang menggugah minat untuk sekadar berkunjung. Padahal menyambangi cagar budaya adalah pintu masuk bagi rasa cinta yang harapannya dapat menumbuhkan kebanggaan sebagai seorang Indonesia. Kalau sudah bicara cinta, dengan kesadaran sendiri tanpa diminta setiap kita akan merawatnya biar tidak ambyar apalagi musnah.