Senin, 11 Mei 2015

Rest Area Pantai Marina Korong Batu, Bantaeng: Sekilas Pandang

Keluarga Suwanto dalam perjalanan dari Makassar menuju Tanjung Bira. Kira-kira 3 jam berkendara, panggilan jiwa untuk ke "kamar kecil" sudah tidak tertahankan. 
Syukurlah sebuah spot rest area nampak jelas memanggil-manggil. Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng, disinilah kami berhenti sejenak. 

Pantai Marina memiliki pantai yang landai dan luas.Walaupun terik mentari amat menyengat, berlarian bersama anak-anak di tepi pantai tetaplah menyenangkan.
Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng Rest Area +fotojelajahsuwanto+
Sisi lain Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng +fotojelajahsuwanto+

Selasa, 05 Mei 2015

Pulau Samalona: Pohon Kalumpang dan Hal-hal Menarik Lainnya

Pohon Kalumpang, ikon pulau samalona versi jelajah suwanto +fotojelajahsuwanto
Yang menarik perhatian saya dari Samalona adalah sebuah pohon raksasa yang berdaun rimbun. Pohon inilah yang memberi warna hijau paling menonjol di Pulau ini.
Memuaskan rasa penasaran, saya bertanya pada seorang warga penghuni Pulau. Menurutnya, orang pulau biasa menyebutnya Pohon Kalumpang. Buahnya dapat dimakan sementara daunnya bisa untuk obat. Konon, Pohon Kalumpang ini sudah hidup ratusan tahun, sejak munculnya Pulau Samalona.

Sepulang dari Samalona, saya masih teringat dengan Kalumpang yang gagah itu. Dari Google saya masuk ke Wikipedia Indonesia, benar memang ciri-ciri pohon di pulau itu teridentifikasi sebagai Kalumpang atau Kepuh. Ternyata banyak manfaat dan kegunaan dari Kalumpang atau Kepuh ini.  Berikut, penampakan buah dan daun Kalumpang dari wikipedia:


Buah dan daun pohon Kalumpang, sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kepuh +fotojelajahsuwanto


Senin, 04 Mei 2015

Pulau Samalona: Aktivitas & Serba-Serbi

 Belajar berenang di perairan samalona +fotojelajahsuwanto
Pak Enal, begitu nama tukang perahu yang mengantar kami, merapatkan perahunya di pasir putih.
Seorang gadis berbadan bongsor mengulurkan tangan, membantu para ibu dan anak-anak turun dari perahu. Gadis itu ramah, dandanannya cukup "kota". Ia memakai baju pantai bunga-bunga hijau ditutupi scarf , juga dilengkapi kacamata hitam, gaul.

Tadinya kupikir dia pengunjung pulau yang berbaik hati. Ternyata gadis itu menawarkan bale-bale bambu yang menghadap langsung ke pantai. Bale yang berukuran kecil harganya 50 ribu, dan yang sedikit lebih besar 75ribu. Selain itu, ia juga masih memberitahukan beberapa hal yang bisa ia tawarkan untuk kami, antara lain:
- Sewa alat snorkeling, satu paket seharga 50ribu;
- Sewa Kamar mandi untuk buang air kecil atau ganti baju saja, sekali masuk harganya 5 ribu; 
- Sewa kamar mandi untuk mandi, harganya 10ribu;
- Menyediakan pesanan makanan, ikan dan nasi, harga tergantung pesanan;
- Kamar untuk menginap seharga 500ribu per malam
Karena kelompok kami lumayan besar, bale-bale bambu seharga 75ribulah yang dipilih. Bale-bale ini diteduhi pohon rindang saja. Beruntung hari itu tidak hujan.

Samalona: Sebelum meninggalkan Makassar harus ke Pulau Samalona dulu


Samalona: Pulau Samalona dilihat dari perahu motor, redup tanpa matahari  +fotojelajahsuwanto
Sudah sejak lama, mungkin enam bulan yang silam, ajakan ke Pulau Samalona itu berkumandang.
Sudah berapa kali arisan, Samalona disebut-sebut.
Sudah sejak dulu, saat geng bolang masih komplit.
Cuaca, ombak, hujan, sibuk, apalah, apalah, adalah alasan yang sering terlontar.
Sampai satu kawan bolang sudah meninggalkan makassar
Samalona hanyalah sebuah rencana yang entah kapan bakal diwujudkan.

Sampai kabar itu datang . . .”Geng bolang bakal berkurang lagi…..”
Geng bolang tadinya empat, sudah dikurangi Satu
Kalau dikurangi satu lagi, bukan geng namanya, Cuma duet saja..
Maka, Sabtu siang itu, Samalona adalah tujuan jelajah sebelum meninggalkan Makassar.
Janjian Pk. 12.00 bertemu di Indomaret Pattimura. Di sana ada kursi tunggunya,  jadi akan cukup nyaman, jika ada kawan yang terlambat datang. Bisa numpang duduk :D