Senin, 02 Oktober 2017

SkyScanner Dan Cerita Jelajah Anak Rantau

Pulau Kecil yang tertangkap kamera, dalam perjalanan menuju Makassar +jelajahsuwanto
 New Hello

“Bun, aku promosi…, tapi ke luar pulau…, gimana?” Siang itu, masih terngiang suaranya di seberang telepon.
Aku bangga dan berbahagia untuk suamiku, tapi mengapa ruangan kantor itu nampak indah, menahanku untuk tetap tinggal di Ibukota yang penuh gairah. Promosi suami, resign dari pekerjaanku sendiri, negeri orang, pindah sekolah anak, jauh dari orang tua sanak keluarga, semuanya berkecamuk meminta porsi.

Saya dan Suami menyukai perjalanan. Masih membekas jawaban seorang senora di film The Way, ketika ditanya pernahkah ia pergi ziarah ke Santiago de Compostella. Ia mengatakan “No never, when I was young, I was too busy, and now that I am older, I’m too tired!”.
Tidak, saya tak ingin terjebak dalam rutinitas semu seperti senora tersebut. Tidak juga berlindung di balik alasan pekerjaan maupun anak-anak. Saya siap merantau dan mengenalkan anak-anak pada indahnya perjalanan.

Maka demikianlah, setelah melalui diskusi suami istri, pergumulan doa, dan restu orang tua, Keluarga Suwanto siap terbang menemukan “new hello” ke tanah rantau.

Kamis, 31 Agustus 2017

Makam Tuanku Imam Bonjol Lotta Minahasa

Makam Tuanku Imam Bonjol di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara +Jelajahsuwanto
Makam Tuanku Imam Bonjol di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara +Jelajahsuwanto
Suatu Sabtu sore yang sejuk, kami menepikan mobil di pinggir jalan lingkar Manado. Buah Matoa dan Durian Montong di mobil bak itu tampak menggiurkan. Manado memang surga buah lokal menurutku.
“Buah ini asalnya dari Lotta. Ada perkebunan di sana,” demikian bapak penjual buah itu menjawab pertanyaanku tentang muasal buah-buahan ini. Lotta, sebuah tempat dengan nama yang unik. Ada perkebunan buah macam matoa dan durian, ah, tentu saja membangkitkan hawa-hawa menjelajah. Dan esoknya, Keluarga Suwanto berangkat menuju Lotta. Tak direncana, ternyata kami malah berkunjung ke Makam Tuanku Imam Bonjol.

Senin, 28 Agustus 2017

Bukit Pulisan: The View From The Hill Are Breathtaking!


Pemandangan dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Pemandangan dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Ikuti hatimu! Bisa dikatakan itu adalah falsafah dasar jelajah keluarga suwanto. Sejauh ini, mengikuti kata hati terbukti ia akan menuntun, membebaskan dan mendamaikan. Seperti jelajah Bukit Pulisan.
Kami telah berpamitan pada Pantai Surabaya tengah hari tadi, chek in di Cassabaio dan siap menuju Pantai Pal di Desa Pulisan yang terkenal berpasir putih.

“Ayah pernah melewati jalan ini, waktu kalian belum datang ke Manado.” sembari menyetir si Ayah bercerita.
 “O ya? Lalu apa yang ada di sana?”, balasku antusias.
“Jalannya mentok, terus ayah balik arah. Kita coba lagi yuk?” sambil tetap lurus mengemudi.
 “Ok, ayo!"

Semangatku menjelajah menular pada anak-anak di jok belakang.

Jumat, 25 Agustus 2017

Pantai Surabaya: Potensi Wisata Likupang Timur Yang Terlupakan?

Pantai Surabaya, Wineru, Likupang Timur +jelajahsuwanto
Pantai Surabaya, Wineru, Likupang Timur +jelajahsuwanto

Siang itu, Kamis di bulan Juli 2017. Keluarga Suwanto dalam perjalanan menuju Likupang. Di saat orang lain mudik merayakan Idul Fitri, baiklah kita melipir mengobati rindu kampung kelahiran. Google Maps menunjukkan beberapa meter di depan adalah Pantai Surabaya.
Berhubung ini jelajah ala-ala keluarga, menuruti rasa ingin tahu, kami belok saja. Sangat fleksible.

Hanya sekitar 500 meter dari jalan utama, sebuah tugu informasi bertuliskan Pantai Surabaya. 

Di jalan, tadi kami berpapasan dengan gerobak pak tani yang ditarik dua ekor sapi besar. Syukurlah sapi-sapi kompak menepi dalam jarak aman. Jalan-jalan di Manado memang agak sesak, menurut saya.
 

Rabu, 23 Agustus 2017

Hutan Pinus Lahendong Tomohon Perlu Berdandan Kembali

hutan pinus lahendong tomohon
Hutan Pinus Lahendong, Tomohon, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto

Apa yang terlihat cantik di foto, indah dan menawan, belum tentu aslinya se-spektakuler itu. Minggu yang cerah Keluarga Suwanto meninggalkan Manado. Hutan Pinus Lahendong menjadi pilihan kami hari itu. Di media foto-foto Hutan Pinus Lahendong nampak memukau. Penasaran kami akan terjawab. Semangat menjelajah.

Beberapa hari belakangan Manado memang bermandi matahari. Mungkin, panasnya cuaca berdampak pada keringnya rumput-rumput di pelataran Lahendong. Sekilas terlihat gersang.
Seorang Nyong muda menyambut kami. Tiket masuk objek wisata unggulan Tomohon ini Rp.20.000,- per orang. Anak balita free. Tiket dapat ditukar dengan segelas kopi atau teh dan Pisang Goroho Goreng di kafe. Letaknya di muka sebelum masuk area wisata.

Kamis, 03 Agustus 2017

Rammang-Rammang: Sungai Pute hingga Padang Ammarrung


Mendaki Padang Ammarrung Rammang-Rammang, Maros, Sulsel +jelajahsuwanto
Rammang-Rammang, Maros, Sulsel: Mendaki Padang Ammarrung +jelajahsuwanto

Suatu hari di bulan November, serombongan sahabat tertawa gembira di ketinggian Padang Ammarrung di tengah gugusan karst Rammang-Rammang. Siang itu terik, seterik jiwa petualangan mereka. 
Semenjak membaca liputan Festival Full Moon Rammang-Rammang, pesona kawasan karst ini kian menggoda. Rammang-Rammang sendiri termasuk di dalam kawasan karst ketiga terbesar dunia. Luasnya membentang sekitar 45.000 hektare dari Kabupaten Maros hingga Kabupaten Pangkajene & Kepulauan (Pangkep). Selain Rammang-Rammang, Taman Nasional Bantimurung, termasuk di dalamnya. 

Senin, 17 Juli 2017

Ranger Station : Suaka Alam Perairan Raja Ampat Wagieo Sebelah barat


Ranger Station Raja Ampat JelajahSuwanto
 Ranger Station Raja Ampat, Suaka Alam Perairan (SAP) Waigeo Sebelah Barat +jelajahsuwanto

Setelah berdebar-debar melewati ayunan ombak, Keluarga Suwanto memasuki wilayah tenang. Pasir putih nun di sana memendarkan tosca, biru kehijauan pada air laut. Lalu menyebarkan damai pada kami di atas boat yang baru saja lepas dari was-was.
Pulau hijau yang membentengi perairan teduh ini termasuk pada zonasi Suaka Alam Perairan (SAP) Waigeo Sebelah Barat. Orang lebih mengenal kawasan SAP ini sebagai Ranger Station. Biasanya wisatawan yang akan menuju Laguna Wayag akan dibawa ke tempat ini terlebih dahulu. Ranger Station bisa dikatakan sebagai gerbang menuju Wayag. 

Rabu, 17 Mei 2017

Danau Tondano Masih Kelabu Pesonamu

Kelabu sehabis hujan Danau Tondano, Tondano, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Danau Tondano, Tondano, Sulawesi Utara; Kelabu sehabis hujan +jelajahsuwanto

“Tahukah kamu mas, apa danau terluas di Provinsi Sulawesi Utara?”, tanyaku memecah gerimis. 

Sabtu siang itu, Keluarga Suwanto kembali napak tilas menyusuri jalur Air Madidi menuju Tondano. 

“Aku tahu, pasti Danau Tondano”, jawab si Mas dengan mantap.
Yess, seratus buat kamu Mas”, aku menimpalinya senang.

Ini adalah kedua kalinya kami mengunjungi Tondano. Suasananya nyaris sama dengan kunjungan kami yang pertama, hujan. Ah Tondano, tak maukah kau bersahabat denganku?

Senin, 08 Mei 2017

Talaip Homestay: Sanctuary Di Mulut Teluk Aljui Waigeo Barat

Talaip Homestay, Raja Ampat; semburat merah daun Ketapang Laut +jelajahkeluargasuwanto
Talaip Homestay, Raja Ampat; semburat merah daun Ketapang Laut +jelajahkeluargasuwanto

Hari menjelang senja, ketika Boat Kawe Star merapat di dermaga Talaip. Sebuah jembatan yang tersusun dari jalinan kayu, memanjang hingga ke tepi pasir putih. Jetty, demikian sebutan untuk dermaga atau jembatan kayu di Raja Ampat. Tepat di muka homestay, di ujung jetty yang eksotis, Ketapang Laut menyambut Keluarga Suwanto. Meski Ketapang Tua ini sedang menggugurkan daun-daun, semburat merah yang tersisa tetap memancarkan keanggunannya. Siapa tidak terpesona?

Kamis, 06 April 2017

RAJA AMPAT Unfinished Journey

Wayag Raja Ampat
Raja Ampat: Father&sons; Ayah yang berbahagia membawa buah hatinya ke Puncak Wayag, surga Indonesia Timur +jelajahsuwanto

Raja Ampat adalah wish list jelajah Keluarga Suwanto sejak dua tahun lalu. Bahkan, demi mewujudkan mimpi tersebut, Bunda menempel brosur Raja Ampat di tempat yang tak akan luput dari pandangan. 
Waktu terus berjalan, Raja Ampat tak selalu di benak, apalagi Keluarga Suwanto ternyata malah pindah ke Utara Sulawesi. 
Mungkin cara kerja semesta itu berlaku. Tak tahu tepatnya kapan, sekilas saya melihat di koran lokal, telah dibuka penerbangan langsung Manado-Raja Ampat. Wah, Raja Ampat bersemi kembali.


Mendadak Raja Ampat

Ayah mau kasih kabar nih, Ayah bisa cuti tanggal 30 Maret-2 April ya, …”, tiba-tiba Pak Suami mengejutkanku. Hari itu sekitar seminggu sebelum keberangkatan.
Tidak pernah ada peristiwa kebetulan dalam hidup bagi mereka yang percaya. Keluarga Suwanto telah mengamini dan menghidupi kalimat itu.
Dan akhirnya pada tanggal tersebut, Keluarga Suwanto spontan “Mendadak Raja Ampat”.

Selasa, 21 Maret 2017

Danau Linow, Kumpulan Air dan Kepingan Surga

Danau Linow, Tomohon, Sulawesi Utara; Kepingan surga +jelajahsuwanto
Danau Linow, Tomohon, Sulawesi Utara; Kepingan surga +jelajahsuwanto

Hari menjelang senja ketika Keluarga Suwanto memandang jauh ke seberang danau. Pemandangan alam yang luar biasa bukan? 
Gubuk-gubuk kecil nun di sana, kepulan asap belerang dan dinding hutan hijau. 
Hati mana yang tak luluh melihat keagungan Sang Kuasa.

Ayah, sementara aku katakan Danau Linow lebih keren dari danau di New Zealand”, kataku terpesona sambil tetap memandang jauh ke seberang danau.
Baiklah, sampai kita membuktikannya sendiri”, timpalnya. Kurasa, si Ayah juga terpukau.
 
Bau belerang tercium samar-samar ke tempat kami duduk. Padi yang tengah menghijau, pohon-pohon pisang, ladang dan ternak sapi menandakan kehidupan para petani. Ada tangan-tangan penuh harapan yang merawat alam menjadi sesubur itu.

Entah mengapa ada perasaan damai, betah sekali memandangnya.