Senin, 07 Desember 2015

Gua Maria Watansopeng Sulawesi: Sisi Lain Perjalanan


Gua Maria Paroki Santa Maria Bunda Pengharapan Wattansoppeng +fotojelajahsuwanto

The Other Side of Celebes

Di pagi hari itu kami sudah memiliki agenda untuk pergi ke Gua Maria Watansoppeng. Satu-satunya Gua Maria yang teridentifikasi google berada di Sulawesi Selatan. Hanya ada satu informasi yang sama. Gua Maria Paroki Santa maria Bunda Pengharapan, Jl. Samudera No. 48 Wattansoppeng. Jarak Makassar-Watansoppeng diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.

Jam di dinding kamar telah lama melewati angka 8. Kami masih juga berbenah. Padahal rencananya kami akan kembali ke Makassar pada sore hari. Jam tubuh kami memang harus segera diperbaiki, karena di saat hari libur secara otomatis mata akan terbuka ketika jarum jam melewati angka 7. Bepergian dengan dua orang putera berusia 10 dan 3 tahun tentu membutuhkan persiapan ekstra. Masih juga ditambah dengan sarapan bubur, mengisi nitrogen, pertamax dan mampir ATM. Jangan heran jika perjalanan menuju Watansoppeng baru benar-benar dimulai ketika jam mobil menunjuk angka 10:17. 

Matahari sudah memancarkan panasnya. Mengiringi kami yang sudah panas menyambut perjalanan. Avanza black metalic kami yang setia telah selesai menyusur tol dalam kota, kemudian masuk Kabupaten Maros. 
“Soppeng bisa ditempuh dari dua jalur, Bun. Jalur Buludua dan Camba.” ayah memberi penjelasan 
“Terus, kita mau lewat mana?” 
“Temen Ayah bilang, jalur Buludua jalannya rusak parah. So, kamu akan melihat the other side of Celebes” 
“Hmm, kayak apa tuh?” 
“Lihat saja dan nikmati” 
Baiklah jika begitu, mari kita nikmati saja jelajahnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Leang-Leang: Menelisik Jejak Prasejarah Dari Masa Ribuan Tahun Silam

Leang-Leang Maros, Bantimurung, Sulsel +jelajahsuwanto
Leang-leang: Tebing karts yang megah di sekitar kompleks Taman Prasejarah Leang-leang +jelajahsuwanto
Memasuki jalan desa menuju Taman Prasejarah Leang-leang, memang terasa sempit. Namun ia membelah pesawahan yang tengah ranum berbulir padi. Belum lagi, tebing-tebing karts yang mengelilingi kompleks cagar budaya ini, anggun berbalut selimut hijaunya pepohonan. Di tengah harmoni megahnya gugusan karts dan heningnya alam, kita akan dibawa pada sebuah situs yang berisi jejak prasejarah dari masa ribuan tahun silam.

Papan petunjuk Taman Prasejarah Leang-leang tertangkap mata, saat Keluarga Suwanto hendak arisan di Taman Nasional Bantimurung.
”Nanti, kalau nggak kesorean, kita ke sana ya” Ajakku pada ketiga lelaki tercinta itu.
“Okeeee” jawab mereka serempak.


Kamis, 12 November 2015

Jelajah Pulau Liukang Loe: Kesederhanaan yang Bersahaja

TK Satap di Kampung Buntutuleng Pulau Liukang Loe, Bira, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+

Bukan Jelajah Keluarga Suwanto namanya, jika tidak apruk-aprukan alias menjelajah dalam perjalanan kami. Pun pada kesempatan kali ini, di suatu pulau, bernama Pulau Liukang Loe.

Setelah malam dan pagi yang menyenangkan karena acara Berkemah di Pulau Liukang Loe, Ayah dan bunda minta pendapat mas dan adek, apakah mereka mau ikut menyusur Pulau atau istirahat di penginapan?
Anak-anak memilih bermain di tenda. Mas siap sedia menjaga adiknya.
"Adek tidak akan cari-cari Ayah Bunda, mau main hotwheel sama mas saja"  Begitu janji adek.

Kami sepakat sebelum waktu makan siang, Ayah dan Bunda sudah kembali ke penginapan. Itu berarti ada waktu sekitar 1,5 jam untuk menjelajah. Ok, Let’s eksplor the island!

Selasa, 13 Oktober 2015

Berkemah di Pulau Liukang Loe

Berkemah di Pulau Liukang Loe +fotojelajahsuwanto+
Setelah senja di Pulau Liukang Loe, Keluarga Suwanto akhirnya kembali ke Pulau itu pada Medio Mei 2015. Kami sepakat akan berkemah. Mas dan adek begitu antusias mempersiapkan perlengkapan Jelajah Suwanto kali ini. 

Seperti di tulis dalam serba-serbi Tanjung Bira sebelumnya, bulan Mei air laut cukup horor bagi kami “manusia darat”. Perjalanan laut membutuhkan waktu hampir setengah jam. Biasanya 15-20 menit sudah sampai. 

Nyaris di tengah laut, mendadak mesin mati. Hufft, doa, doa, dan doa. Untunglah bapak yang mengantar kami begitu tenang, hal seperti ini biasa ia hadapi. Pula, memang beliau adalah “manusia laut”, lahir dan besar bersama laut.

Selasa, 06 Oktober 2015

Amatoa Resort Tanjung Bira : a perfect view from your bedroom, Sebuah Review

Perfect View from your bedroom at Amatoa Resort, Tanjung Bira
+fotojelajahsuwanto+
 . . . Tonight I celebrate my love for you
And soon this old world will seem brand new
Tonight we will both discover
How friends turn into lovers
When I make love to you . . ..


Begitulah kira-kira semestinya alunan musik menyambut kami, ketika memasuki bungalow Amatoa Resort yang akan menjadi tempat menginap malam itu.

Tapi ahhhh krucil – krucil itu begitu bahagia menemukan tempat ini, mereka sudah berkejar-kejaran saja mengitari tempat tidur. Lupakan saja merayakan cinta berdua, kita rayakan saja kebersamaan sebagai sebuah keluarga, ayah. .:D

Jumat, 02 Oktober 2015

Tebing Pantai Apparalang: Pesona Wisata Baru di Bulukumba yang sedang Berbenah

Keluarga Suwanto menyambangi Tebing Apparalang, destinasi wisata baru Kabupaten Bulukumba
Apparalang, nama itu nampaknya sedang menjadi pembicaraan hangat. Maka, pada Jelajah Tanjung Bira kali ini, Keluarga Suwanto harus menyambanginya. "Apparalang" dalam bahasa setempat berarti ujung dalam. Sekilas mirip-mirip Uluwatu di Bali. Tapi menurut kami, pemandangan lautnya lebih cantik Apparalang. Secara administratif tebing Apparalang berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Bagaimana Menuju Tebing Apparalang?
Dari poros Bulukumba - Tanjung Bira kami berbelok arah ke desa Ara. Sebagai ancar-ancar belok di Pertigaan SMKN 6 Bulukumba. Jalanan kecil beraspal mulus membelah kawasan hutan. Sekitar 2.5 Km akan ditemui papan petunjuk bertuliskan Pantai Apparalang. Kontur jalan telah berubah menjadi jalanan beton yang menurun curam, hanya cukup untuk satu mobil. Mulanya, kami sempat khawatir jika harus berpapasan dengan kendaraan lain. Ternyata, pengelola telah mengatur agar jalur keluar masuk kendaraan dibuat berbeda. 

Kira-kira 15 menit menuruni jalan curam di tengah hutan, tiba juga kami di tempat parkir kawasan tebing Apparalang. Mobil diwajibkan membayar Rp.20.000,-. namun tidak ada tiket masuk bagi pengunjung. Apparalang kelihatan masih dalam tahap pengembangan. Masih perlu polesan di sana - sini.

Anak-anak malah terlelap, terlalu capai rupanya mereka #bighug.  
Tebing Apparalang, destinasi wisata baru Kabupaten Bulukumba

Itinerary Jelajah Tanjung Bira 4 Hari 3 Malam

Keluarga Suwanto: Jelajah Tanjung Bira September 2015

Libur Idul Adha tahun 2015 ini, jatuh pada hari Kamis, 24 September. Pas ada hari kejepit, saat yang tepat untuk cuti. Keluarga Suwanto sepakat untuk kembali berkunjung ke Tanjung Bira. Berhubung hari kejepit tidak berlaku di sekolah Mas, maka dengan terpaksa Mas meliburkan diri satu hari saja. Sebenarnya ada beberapa pantai baru yang ingin kami jelajahi, namun hanya dua yang dapat direalisasikan yaitu Pantai Lemo-lemo dan Tebing Apparalang.

Berikut itinerary Keluarga Suwanto selama 4 hari 3 malam:


Tanjung Bira: Serba-Serbi Wisata, Waktu Terbaik, Transportasi dan Akomodasi

Pantai Tanjung Bira kala surut pada medio Agustus
Tanjung Bira. Saya rasa nama itu semakin berkumandang di kalangan pencinta pantai baik itu domestik maupun mancanegara.
Keluarga Suwanto sudah empat kali menjelajahi pantai berpasir putih ini. Dan kami jatuh cinta. Selalu ingin kembali untuk sekedar melepas lelah dan tentu saja merayakan hidup.

Maka, inilah serba-serbi Jelajah Tanjung Bira ala keluarga Suwanto:

Tanjung Bira, Selayang Pandang
Tanjung Bira adalah daratan di ujung selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang menjorok ke Laut Flores. Tanjung Bira memiliki pesisir pantai berpasir putih yang indah, laut yang tenang dan bawah laut yang cantik. 
Pesonanya tentu sudah terkenal luas, bahkan mungkin lebih dulu dikenal oleh para petualang Mancanegara. Terlihat dari banyaknya wisatawan asing di kawasan wisata ini.
Penginapan dan tanah di kawasan Bira – Bara pun banyak dimiliki oleh warga negara asing.

Tanjung bira terletak sekitar 40 KM dari Kabupaten bulukumba. Secara administratif berada di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Saya melihat, telah tejadi perkembangan yang cukup pesat di Tanjung Bira, sejak kedatangan pertama Keluarga Suwanto pada Agustus 2013.  
Kawasan wisata ini semakin ramai pengunjung. Penginapan baik milik WNA maupun pribumi semakin banyak dan bersaing. 
Infrastruktur jalan sudah beraspal sampai hampir ke Pantai Bara. 
Sinyal Indosat dan Smartfren (kami pakainya ini) sudah kencang, tahun 2013 termasuk dasusi (daerah susah sinyal). Wifi mudah ditemukan. 
Kehidupan ekonomi penduduk sekitar sepertinya semakin membaik, terlihat dari maraknya rental sepeda motor dan mobil pribadi yang parkir di rumah warga.

Bagaimana Menuju Tanjung Bira
Lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai di Tanjung Bira. 

Jarak tempuh dari Makassar ± 200 KM atau sekitar 5 jam perjalanan. Poros (Jalan Utama) Makassar – Tanjung Bira sudah mulus. 
Dari Makassar kita akan mengambil rute melewati poros Kabupaten Gowa – Takalar – Jeneponto – Bantaeng – Bulukumba. 
Selama perjalanan mata akan dimanjakan dengan panorama khas Sulawesi Selatan yang mencengangkan, perbukitan di satu sisi dan pesisir pantai di sisi lainnya. Perjalanan menuju Tanjung Bira merupakan bonus tersendiri sebelum mencecap indahnya laut.

Bagi yang tidak mau repot-repot jalan sendiri, search saja di internet paket wisata Tanjung Bira, banyak Tour & Travel yang menawarkan jasa wisata all in. Tinggal pilah pilih mana yang sesuai di hati, cocokkan waktu dan budget, jalan deh.

Bagi para petualang, ada banyak cara menuju Tanjung Bira
Dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, jika berangkat rombongan mungkin lebih enak dan murah menggunakan jasa rental mobil, agar bisa leluasa bertualang. 


Atau bisa juga dengan kendaraan umum, dengan rute sebagai berikut:
- Dari Bandara menuju Terminal Mallengkeri.
Bisa menggunakan Bis Damri turun di Lapangan Karebosi, lalu naik pete-pete (angkot) merah arah Gowa turun di Terminal Mallengkeri. Total ongkos sekitar 30ribuan.
Bisa juga menggunakan taksi (±150ribuan), Ojek (±80ribuan).


- Dari Terminal Mallengkeri – Bulukumba (Tanjung Bira)

Bisa dengan moda Bis AC tujuan Selayar (±75ribuan) turun di Pelabuhan Selayar, lanjut naik pete-pete atau ojek menuju Tanjung Bira

- Dengan Angkutan umum plat kuning semacam sharing car berupa mobil Avanza, Inova, Panther, dan lain sejenisnya. Sebelum naik tanyakan dulu kepada sopirnya apakah langsung ke Tanjung Bira atau hanya sampai Bulukumba. 

Jika sampai di Tanjung Bira harga sekitar 50-65ribuan. Jika sampai di Bulukumba saja berkisar antara 45-55ribuan. Nah dari bulukumba masih harus naik pete-pete antara 10-15ribuan.
 
Penampakan Tanjung Bira dari atas ke bawah pada Agustus 2013, September 2014, Mei dan September 2015



Waktu Terbaik Mengunjungi Tanjung Bira
4 kali Keluarga Suwanto menjelajah Tanjung Bira, 4 kali pula menikmati sensasi yang berbeda.

Rabu, 23 September 2015

Serba Serbi Jelajah Manado, Itinerary 3 Malam 3 Pagi 2 Siang



Pemandangan Gunung Lokon yang terletak antara Tomohon-Manado diambil dari Pesawat
Gegara Air Asia promosi tiket Makassar – Manado dengan harga menggoda, Keluarga Suwanto sepakat untuk menjelajahi Manado pada awal 2014. Hanya Rp.199.000,- saja pemirsah ... bayangkan . .
Tiket sudah dipesan sekitar 6 bulan sebelum keberangkatan. Kami mendapat tanggal yang available: pergi 30 Januari  dan pulang 2 Februari 2014. 

Dengan penuh semangat kami hunting info tentang Manado dan hotel untuk menginap. Beruntungnya saya, ada kawan baik di Manado, Sir Art Merung. Segera saya menghubunginya. Keperluan sewa mobil dan rekomendasi tempat wisata selama di Manado sudah diserahkan pada ahlinya. 
Selanjutnya Aston Manado Hotel menjadi pilihan kami selama 3 malam. Beres!. Tinggal menunggu hari "H"

Kamis, 10 September 2015

Wisata Keluarga ke Gunung Galungung: Mengajak Adek Bayi Mendaki!

Yeaaay, adek sudah sampai di Gunung Galunggung . .
September 2011, lebaran yang penuh berkah. 
Keluarga Suwanto pulang kampung ke Nagaraherang, tempat lahirnya bunda. Walau pulang kampung tak pernah lengkap tanpa ‘kehadiran’ aki, tapi kali ini terasa penuh karena kakak beradek bisa kumpul bersama. Hari itu kami sepakat menjelajah Gunung Galunggung yang fenomenal.

Nini, neneknya mas dan adek pernah bercerita kala itu bunda baru sekitar dua bulan dilahirkan, kampung kami gelap gulita diguyur abu Galunggung. Suara dentuman dan gemuruh, pijar api di kejauhan membuat suasana mencekam. Bunda kecil dibawa lari aki dan nini menuju tempat aman. Popok bunda pun tercecer di jalan. Tak dapat dibayangkan bagaimana situasi saat itu. Letusan itu tercatat tanggal 5 Mei 1982 (Skala VEI Volcanis Exploxivity Index 4). Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan, berakhir pada 8 Januari 1983. Tentu saja menimbulkan kehilangan nyawa, kerugian harta benda, bahkan 22 desa ditinggal tanpa penghuni. Bahkan sebuah pesawat boeing milik British Airways berpenumpang 263 orang dikabarkan mengalami kerusakan empat mesinnya karena terbang di debu vulkanik Gunung Galunggung. Untungnya pesawat dapat melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusumah.


Kamis, 03 September 2015

Jelajah Rasa: Sop Kikil Andi Rahim Pangkep


Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel+jelajahsuwanto
Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel+jelajahsuwanto

Penampakan rumah makan sop kikil ini biasa saja. Kurang menggugah selera malah. 
Tetapi yang disajikannya dimuat di Kompas Travel. Rasa penasaran itulah yang mendorong Keluarga Suwanto melakukan perjalanan sekitar dua jam dari Makassar menuju Pangkep (Pangkajene Kepulauan). Demi mencicipi semangkuk Sop Kikil resep warisan Andi Makmur! Niat bangeet :D

Warung Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel+jelajahsuwanto
Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel: Warung makan +jelajahsuwanto
Siang itu, hari Jumat di penghujung Juli. Orang-orang sedang bersiap-siap untuk sholat Jumat. Waktu yang tepat bagi kami, karena rumah makan sepi, hanya kami sekeluarga.

Apa yang istimewa dari Sop Kikil ini? Yang katanya diminati banyak orang, langganan para pejabat pula. Mari kita Coba!


 
Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel+jelajahsuwanto
Sop Kikil Andi Rahim Pangkep, Sulsel; Yummy +jelajahsuwanto

Di hadapan kami telah mengepul tiga piring (bukan mangkok) sop kikil, sebakul kecil nasi untuk 3 orang porsi Makassar (cukup untuk kami berempat, ayah dan mas bisa nambah), 3 botol air mineral dan sepiring kerupuk singkong.

Senin, 17 Agustus 2015

Wisata Keluarga ke Candi Prambanan

Komplek Candi Prambanan pada petang hari
Pada jaman dahulu kala . ..

Di Pulau Jawa, di sebuah daerah bernama Prambanan, berdiri dua Kerajaan Hindu, yaitu Kerajaan Pengging dan Keraton Boko.
Kerajaan Pengging diberkahi dengan kesuburan dan kemakmuran. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Moyo. Ia mempunyai seorang putra laki-laki bernama Raden Bandung Bondowoso.

Sementara itu Kerajaan Keraton Boko yang berada pada wilayah kekuasaan Kerajaan Pengging diperintah oleh seorang raja yang kejam dan penuh angkara murka. Ia berwujud raksasa besar bernama Prabu Boko. Meskipun begitu, ia memiliki seorang putri yang cantik dan jelita seperti bidadari, bernama Putri Loro Jonggrang.

Prabu Boko dibantu oleh patih yang juga berwujud raksasa bernama Gupolo. Prabu Boko berencana untuk memberontak dan ingin menguasai Kerajaan Pengging. Bersama dengan Patih Gupolo, kekuatan dibentuk, para pemuda Boko dilatih menjadi prajurit. Harta benda rakyat dikumpulkan untuk bekal selama pemberontakan.

Senin, 10 Agustus 2015

Traveling Aman Bersama Anak, Siap Sedia Obat Andalan Keluarga!

Tas obat mungil keluarga suwanto
Bepergian dengan anak-anak, apalagi salah satunya balita, tentu memerlukan kesiap-sediaan dalam banyak hal. Obat-obatan termasuk dalam daftar “siap sedia” saya.
Tas obat mungil ini selalu diikutsertakan hampir kemanapun kami pergi. Sedikit rempong tak apalah, untuk berjaga-jaga.

just sharing: obat-obat andalan keluarga suwanto

Mohon maaf apabila tidak berkenan dalam penyebutan merk. Isi obat tas saya ini murni hanya sebagai sharing obat apa saja yang dibawa keluarga kami dalam perjalanan. Tidak dimaksudkan untuk kepentingan apapun. 

Berikut, obat-obatan dan alat kesehatan yang hampir selalu menemani Jelajah Keluarga Suwanto:

1. Minyak Telon 
Minyak telon ini menjadi andalan saya. Selain karena aromanya yang menenangkan, juga tidak terlalu panas jika dibalurkan pada balita. Minyak telon adalah campuran minyak kayu putih, minyak adas dan minyak kelapa. Campuran ini memberikan rasa hangat karena merangsang pembuluh darah membesar sehingga aliran darah menjadi lebih cepat. Secara umum kegunaan minyak telon adalah untuk meringankan perut kembung, mencegah dan mengobati masuk angin, mengatasi rasa gatal dan mencegah keinginan untuk menggaruk, Melegakan pernafasan karena hidung tersumbat, batuk, flu dan pilek, juga dapat Meringankan sakit kepala. 
Minyak telon yang saya pilih adalah: Balsem Telon Tresno Joyo, Minyak telon spray dan Minyak telon plus roll on cap Gading. Minyak telon plus cap gading telah ditambah dengan Lavender Oil dan Jojoba Oil, untuk mencegah gigitan nyamuk dan melembabkan kulit yang kering. 
 
2. Obat Turun Panas untuk Anak
Saya memakai Proris Ibuprofen yang merupakan obat penurun demam, pereda nyeri dan sekaligus sebagai anti inflamasi (obat yang dapat menghilangkan radang) untuk anak.

3. Termometer digital untuk mengukur suhu tubuh

4. Heparin Sodium
Heparin sodium ini sering saya gunakan ketika anak-anak terjatuh dan memar. Heparin dapat mencegah pembekuan darah dan membantu proses fibrinolisa. Mikrotrombi (butir-butir bekuan darah) yang terdapat di sekitar kulit dapat diserap lebih cepat. Heparin juga berkhasiat sebagai anti-radang, sehingga dapat menyembuhkan bengkak dan menghilangkan rasa nyeri. Obat ini menurunkan ketegangan otot-otot pembuluh darah, sehingga melancarkan peredaran darah. Heparin sodium cepat diserap kulit dan langsung bekerja pada jaringan yang sakit.  

Selasa, 04 Agustus 2015

Mari Menjelajah Bersama Anak-anak, Sekarang!

"Have u ever walked the camino, Senora?"
"No never, when I was young, I was too busy, and now that I am older, I'm too tired"


Cuplikan percakapan dari Film "The Way" di atas, begitu berbekas di hati saya.
Sebagian dari kita mungkin memimpikan untuk pergi ke suatu tempat, tapi untuk beberapa alasan tertentu, pada akhirnya niat itu urung dijalankan. 

Saya tidak mau menjadi senora di film tersebut.


Bagaimana jika sekarang saya sudah berkeluarga dan mempunyai anak-anak?

Sejak kecil, ayah saya selalu mengajak saya hampir ke setiap tempat, kemanapun ia pergi. Entah ke sawah, ke hutan, ke kolam, ke tempat dia mengajar, ke kota, kemana saja. Dari beliau itulah, saya menyukai perjalanan. 

Ayah saya walaupun pengajar agama, tetapi hanyalah seorang petani miskin yang bersusah payah menghidupi dan menyekolahkan kami. Tetapi, Ayah saya selalu punya cara mengajak kami liburan. Mengunjungi pantai, ziarah rohani, mendaki gunung, kemping, atau hanya sekedar botram* di hutan pinus.

Perjalanan itu tidaklah harus mahal.

Jika ayah saya saja dengan segala keterbatasannya bisa menunjukkan keindahan alam dan kasih sayang pada kami, maka sekarang saya pun harus bisa membaginya dengan anak-anak saya. 

Tulisan inspiring di kaos bali :D

Rabu, 29 Juli 2015

Taman Purbakala Sumpang Bita, Pangkep: Mendaki Seribu Tangga Demi Melihat Jejak Prasejarah

Percaya atau tidak, Lagu The Prayer tetibaan berkumandang sendiri persis ketika kami hampir sampai ke mulut Gua Sumpang Bita. Lagu yang dinyanyikan Celine Dion feat Andrea Bocelli ini berada di playlist blackberry di folder music. Tersimpan di dalam celana ayah. Artinya, perlu niat khusus untuk menyalakannya, tidak mungkin kepencet begitu saja. Entah bagaimana ceritanya, lagu itu bisa berkumandang sendiri. Merinding. Sebuah kebetulan yang kedua.

“I pray you’ll be our eyes, And watch us where we go And help us to be wise, In times when we don’t know. Let this be our prayer, As we go our way, Lead us to a place, Guide us with your Grace To a place where we’ll be safe”

Kuberdoa Kau kan jadi mata kami, dan mengawasi kami kemana pun. Dan membantu kami 'tuk bertindak bijak di saat-saat kami bingung. Jadikanlah ini doa kami saat kami tersesat. Tuntunlah kami ke suatu tempat, bimbing kami dengan rahmat-Mu Ke suatu tempat dimana kami akan selamat.

 

Sumpangbita Prehistoric Park: Kolam di tengah Taman Purbakala Sumpang Bita  +jelajahsuwanto
 

Taman Purbakala Sumpang Bita, bukan agenda jelajah Keluarga Suwanto, Jumat siang itu. 
Kami hanya sedang menikmati perjalanan di bulan Juli yang bermandi matahari. 
Kami baru saja kembali ke arah Makassar dari menikmati Sop Kikil Andi Makmur di Pangkep. 
Niat sebenarnya memang survei jalan menuju Ramang-ramang sih, tapi salah belok. Jika saja kami tidak salah arah, kami tidak akan menemukan papan petunjuk kecil bertuliskan Sumpang Bita Prehistoric Park. Itulah kebetulan yang pertama.

Dan seperti biasanya, sinyal jelajah kami menjadi “excelent“ tak dapat dibendung. 

Sumpangbita Prehistoric Park: Bukit-bukit karts di sepanjang perjalanan Sumpang Bita, Balocci, Pangkep  +jelajahsuwanto 

Langsung saja Cuss! Dari arah poros Pangkep Makassar, belok kiri. Ada jalan kecil menuju Pabrik Semen Tonasa. 
Batu-batu gamping menjulang di kiri kanan. Kami memasuki area pabrik dan perumahan Semen Tonasa di kecamatan Balocci, Pangkajene Kepulauan (Pangkep). 
Truk-truk pengangkut semen banyak melalui jalan ini. Tidaklah heran jika, jalanannya agak berguncang-guncang.  

Sumpangbita Prehistoric Park: Petunjuk arah menuju Taman Purbakala Sumpang Bita, harus jeli menemukannya  +jelajahsuwanto


Sabtu, 25 Juli 2015

Akkarena, Sebuah Kisah Tentang Persahabatan

Sepasang sahabat menunggu ombak di pantai akkarena pada suatu sabtu yang cerah.

 "Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti... sebuah kisah klasik untuk masa depan...
Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan
Di hari tua... woooh..."

Tiada Sabtu sore yang lebih pantas diingat, selain Sabtu ini. Sabtu yang cerah di penghujung Juli tahun 2015. Sebuah senja di Pantai Akkarena berkisah tentang persahabatan.

Adalah kisah persahabatan. Dua pasang sahabat. Kakak Beradik. 

Jelajah Keluarga Suwanto kali ini akan dimulai dengan kisah persahabatan Mas dan adeknya.

Suatu sore, sehari setelah kami tiba di sebuah negeri Anging Mamiri. Pintu sebuah rumah besar di sebelah rumah baru kami terbuka. Muncul seorang ibu muda. Ia tersenyum cantik. 


Bermula dari senyum itulah kisah persahabatan ini dimulai.

Senin, 20 Juli 2015

Malino Highland, Paket Komplit Wisata Keluarga

Kawasan ekowisata Malino highland dilihat dari Green Pekoe Cafe
Hari kedua Jelajah Malino, waktunya berpetualang!
Dari penginapan, Keluarga Suwanto berkendara terus ke atasnya Malino. Melewati hutan pinus, kebun strawberi, terus sampai ke perkebunan penduduk. Sampai jalan yang dilalui terasa tidak nyaman dilewati. Tengah hari kami memutuskan untuk merapat ke Malino Highland, turun kembali.

Melihat gerbangnya yang representatif, saya berharap-harap semoga fasilitas yang ditawarkan pun menarik. Harga tiket masuk per orang Rp.50.000,- untuk dewasa, Rp.25.000,- untuk mas dan gratis untuk adek kecil.

Dan, ketika masuk ke dalam kawasan ini, wow! Sepadan dengan yang diharapkan.
Pucuk – pucuk teh di perbukitan menghijau segar. Penataannya begitu apik. Kaca jendela mobil dibiarkan terbuka lebar-lebar, menghirup aroma bunga teh dan hembusan angin. Kami terus ke atas menuju parkiran. 
Area parkir yang luas, istal kuda dan ranch kuda dan domba di kawasan Malino Highland
Parkiran yang luas berada di atas ketinggian, pemandangannya spektakuler. Gunung gemunung seperti membingkai tempat ini. Petugas di Malino Highland ini ramah-ramah, tak berhenti tersenyum jika bersitatap.
Tidak jauh dari parkiran ada Istal kuda. Nama-nama kuda tercantum di setiap biliknya, ada JIGSY, RETSY, GINGER ROSE, BRAVE, dll.  
Kuda - kuda yang cantik dan domba serta gembala narsis di ranch Malino Highland
Kuda dan domba asyik merumput, tak peduli kalau kami perhatikan. Kuda-kuda yang sangat cantik dan terawat. Pengunjung dapat berkuda mengelilingi kawasan ini. Anak-anak sesungguhnya tertarik untuk berkuda, tetapi kami memutuskan untuk melihat Green Peko cafe terlebih dahulu.
 
Green Pekoe, sebuah cafe di kawasan Malino Highland
Green Pekoe siang itu sangat ramai. Sepertinya ada acara reunian sebuah sekolah dari Makassar. Tidak memungkinkan untuk bersantai dengan tenang. Rasanya lebih bijak jika kami terlebih dahulu menjelajahi kawasan yang luasnya 200 hektare ini.
 
Perkebunan teh yang berbukit-bukit di kawasan malino highland
Apa yang dapat dikatakan ketika melihat lukisan alam seperti itu?
Dari pelataran green Pekoe, kami dapat melihat bebas keindahan di setiap penjuru. 
Pak Satpam yang murah senyum tadi menginformasikan di kawasan ini ada air terjun, mini zoo (yang tertutup jaring-jaring), trampolin dan kebun bunga. 
 
Hiking ke air terjun di kawasan malino highland
Baiklah, mari kita jalan-jalan ke air terjun!

Kamis, 16 Juli 2015

Kapel Panti Samadi Ratna Miriam Malino, Tempat Bersejarah yang Damai

Kompleks Panti Samadi Ratna Miriam, Malino
Hari Kedua Jelajah Malino, hari Minggu yang penuh berkat. 
Pagi itu dengan penuh semangat, Keluarga Suwanto berjalan kaki menuju Kapel Panti Samadi Ratna Miriam untuk merayakan Ekaristi. Syukurlah, malam sebelumnya, kami telah survei ke kapel ini. Biarpun digonggong anjing hitam yang bawel, tapi kami beruntung, karenanya muncul dua lelaki muda berkulit legam. Dari merekalah, kami mendapatkan jadwal misa hari minggu pagi Pk.07.00 WITA. 

Kapel Panti Samadi Ratna Miriam Malino
Kapel ini dikelola oleh para suster Kongregasi JMJ (Jesus, Maria dan Josef) di Jalan Waspada No. 4 Malino, Gowa, Sulawesi Selatan. Seperti halnya semua tempat samadi yang dikelola biarawan-biarawati, ada aura damai yang lembut. Saya percaya dari doa tulus yang didaraskan setiap waktu dari tempat inilah yang menciptakan harmoni yang selaras dengan alam. Dari harmoni inilah, rasa damai dapat langsung tersampaikan kepada setiap jiwa yang mau merasakannya.

Jumat, 10 Juli 2015

Air Terjun Takapala, Lembah Sunyi Diantara Tebing-tebing Batu

Air Terjun Takapala
Siang hari yang sejuk menyambut kami di Hari Pertama Jelajah Malino. Atas rekomendasi staf Hotel Bukit Indah, agenda siang itu adalah mengunjungi Air Terjun Takapala. Butuh waktu sekitar 30 menit dari penginapan atau sekitar 6 Km berkendara. Jalan yang sempit, mendaki dan menurun, membutuhkan konsentrasi dan kehati-hatian. Apalagi setelah kita sampai di sebut saja gerbang air terjun, jalan semakin ekstrim, masih tanah, terus menurun dan bersebelahan dengan jurang. Wow. 
Di gerbang tadi, pengunjung akan ditarik retribusi yang masih terbilang murah, hanya Rp.3.000 untuk dewasa dan Rp.2.000,- untuk anak-anak.
Tebing batu air terjun takapala

Air Terjun Takapala ini turun dari tebing batu setinggi 109 meter. Lokasinya sendiri, bagi saya sangat eksotis. Seperti lembah sunyi yang tersembunyi, dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang berselimut hijaunya perdu. 

Senin, 06 Juli 2015

Pastikan Harga, Sebelum Menyantap Renyahnya Nila Goreng Bili-Bili


Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa

Kurang lebih pukul 11.30 WITA, Keluarga Suwanto sudah berkendara sekitar 30km dari Makassar ke arah Malino. Ada sebuah Bendungan besar yang sangat penting bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bendungan itu tidak lain adalah Bendungan Bili-bili.

Menurut informasi, ikan goreng Bili-bili terkenal enak dan renyah, apalagi dilengkapi dengan cah kangkung dan sambal mangga yang menggiurkan. Pas pula jam-nya makan siang. Maka tak buang waktu, singgahlah kami di Bendungan Bili-bili ini.

Pintu Gerba Bendungan Bili-bili
Pemilik warung makan ramai-ramai melambaikan tangan mengajak pengunjung untuk singgah di warung lesehan mereka. Karena bingung oleh banyaknya suara dan tangan

Jelajah Malino, Perjalanan dan Penginapan

Perbukitan, Persawahan dan Bebatuan Sungai Jeneberang, dalam perjalanan Makassar - Malino
Weekend telah tiba, horee!. Keluarga Suwanto kala itu sepakat untuk menjelajahi Malino. Kawasan wisata Malino identik dengan Kawasan Puncak Bogor yang sejuk dan asri. Malino sendiri adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Tinggimoncong, Gowa, Sulawesi Selatan. Jarak dari Makassar sekitar 90km atau dapat ditempuh antara 2-3 jam berkendara. Selain lanskap alam-nya yang indah, ternyata Malino merupakan tempat bersejarah bahkan sejak jaman pendudukan Belanda.
Pemandangan alam dalam perjalanan malino-makassar
Setelah mencari informasi dari sana-sini, kami siap berangkat ke Malino pada hari Sabtu pagi. Malino berada di ketinggian 900-1500 Mdpl. Tidak heran jika perjalanannya mendaki dan berkelak–kelok. Perbukitan dengan pepohonan rimbun, persawahan dan aliran Sungai Jeneberang memukau mata. Kala itu kami beruntung dapat menyaksikan gerombolan kupu-kupu di rumpun saliara.
Dalam perjalanan, banyak dijumpai truk - truk besar yang membawa material tanah dan pasir. Selalu berhati-hati dalam berkendara dan berdoalah sebelum memulai perjalanan.

Rabu, 24 Juni 2015

Unaccompanied Minor, Dukung Anak Berani Terbang Sendiri

 
Young Traveler dengan Unaccompanied Minor +jelajahsuwanto


“Bunda, nanti jangan nangis ya, nanti Mas malu kalo bunda nangis”
Whaaat …  Itulah yang dikatakan anak lelakiku yang baru saja berusia 11 tahun, saat kami mengantarnya ke Bandara. Ia akan terbang solo pertama kalinya dari Makassar tujuan Yogyakarta. 

Kelak, engkau akan tahu rasanya khawatir setelah menjadi orang tua, Nak.

Libur sekolah telah tiba. Ajakan menjelajah Bromo dari tantenya yang tinggal di Yogyakarta rupanya membakar keberanian anak lelakiku. Dia setuju terbang sendiri dari Makassar. Sebagai Ibu, saya mendukung keputusannya. Namun tetap saja perasaan khawatir itu datang tanpa diminta.

Berhubung ini adalah terbang perdananya, maka kami memastikan ia terbang dengan aman dan nyaman. Kami memilih Maskapai Garuda Indonesia.
Sehari sebelum keberangkatan, kami mendatangi Counter Garuda di Jl. AP. Pettarani Makassar untuk chek in. Ternyata, bagi anak-anak yang melakukan perjalanan tanpa didampingi orang tuanya akan dilayani sebagai Unaccompanied Minor (UM). Kami diarahkan agar langsung saja ke Counter Customer Service Garuda Indonesia di Bandara, 2 jam sebelum terbang. 


Jumat, 19 Juni 2015

Puntondo, Nuansa Syahdu Pesisir Teluk Laikang

salah satu nature wisdom
dari PPLH Puntondo
Tidak mau kalah dengan para suami yang subuh – subuh sudah punya agenda gowes Makassar–Puntondo, para ibu dan pasukan krucils keukeuh  membuntuti. Dari kata orang, Pantai Puntondo ini cantik dan indah, oleh karena itu kami begitu bersemangat. 

Bebatuan di laut puntondo
Meeting point kami dengan para suami ditetapkan di PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Puntondo. Menurut leaflet yang diterbitkan PPLH, jarak tempuh Makassar – Putondo sekitar 60 km. Tetapi sepertinya lebih jauh dari itu, kami merasa tidak sampai-sampai. Hampir 3 jam kami berkendara. Memang dasarnya baru berangkat dari Makassar sekitar pukul sembilan WITA, makanya tak perlu heran jika para goweser malah lebih dulu tiba. 

Kompleks PPLH berada di pesisir Teluk Laikang. Tepatnya di Dusun Laikang, Mangarabombang, Takalar, Sulawesi Selatan. Begitu memasuki Laikang, hiruk pikuk poros Sungguminasa-Takalar langsung meruap, digantikan kesederhanaan pesisir. Ruas jalan menyempit, ditambah beberapa lubang yang cukup dalam. Ban mobil kami sempat selip.

Rabu, 17 Juni 2015

Bukit Doa Tomohon: Untaian Litani Syukur Tiada Henti

Selamat pagi Manado. 

Keluarga Suwanto menyambut Pagi pertama di Manado dengan penuh sukacita. Hari ini kami akan diajak menjelajah kota Tomohon. Tempat pertama yang diagendakan adalah Bukit Doa Tomohon.

Perjalanan menuju Bukit Doa Tomohon diperkirakan dapat ditempuh sekitar 1 jam dari Kota Manado. Jalan menuju Tomohon mendaki, berkelak-kelok, dan ruas jalannya terhitung sempit. Namun kali ini, Ayah bebas tugas dari menyetir, sudah diserahkan pada ahlinya, Om Sandy, kawan baru dari Manado.

Sepertinya khasnya perjalanan menuju pegunungan, di sepanjang Manado-Tomohon ini pun kita akan dimanjakan dengan hijau segarnya alam.
Rumah adat di tengah hijaunya alam, dalam perjalanan Manado - Tomohon  +fotojelajahsuwanto+
Dari ketinggian dapat pula terlihat Kota Manado dengan latar belakang laut dan Gunung Manado Tua.
Gunung Manado Tua +fotojelajahsuwanto+

Bukit Doa Tomohon atau dikenal juga dengan nama Jalan Salib Mahawu berada di Kaki Gunung Mahawu, Desa Kakaskasen II, Tomohon Utara. Terdapat dua pintu Masuk untuk menuju Bukit Doa. Pertama bisa dengan jalan kaki melalui jalur Jalan Salib Mahawu.