Jumat, 28 September 2018

Rambu Solok, Kemeriahan Mengantar Keabadian



Lakkian, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Semua bermula setelah tanjakan itu. Lelah menapaki undak-undakan Londa, gubuk peristirahatan kecil menarik kami. Di sanalah, semesta memeluk mimpi-mimpimu. Seorang ibu dan kerabatnya tiba sementara kami mengaso. Mereka pun ngos-ngosan. Percakapan khas ibu-ibu meluncur begitu saja. Lalu, entah kebetulan yang mana, Ibu setengah baya itu mengundang Keluarga Suwanto untuk datang ke pesta Rambu Solok keluarganya. Kami memang ingin sekali menyaksikan upacara sakral itu.

Rambu Solok adalah upacara adat kematian suku Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan. Ritual upacara penyempurnaan kematian ini bisa jadi yang paling meriah dan mahal di Indonesia. Seorang kawan Toraja pernah mengatakan upacara kematian, Rambu Solok merupakan yang terpenting dari rentang kehidupan seorang Toraja, bahkan melebihi upacara kegembiraan, Rambu Tuka. Megah dan meriahnya Rambu Solok, menentukan status sosial keluarga yang merayakan. 

Hiruk pikuk Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Melihat betapa kompleksnya ritual adat Rambu Solok, tentu acara seperti ini tidak sering diselenggarakan. Terkadang, sejak hari kematian, upacara ini baru bisa digelar setelah tempo berminggu, bulan, bahkan tahun. Sampai keluarga yang ditinggalkan memiliki cukup dana untuk menyelenggarakannya. Oleh karena itu, bagi pelancong seperti jelajahsuwanto, suatu keberuntungan dapat menyaksikannya secara langsung. Bisa memang minta informasi dan panduan guide dari Tourist Information, tapi ya, tentu tidak gratis. Kalau tidak salah dengar, untuk turis yang ingin melihat upacara ini harus membayar kisaran 300-500 ribu rupiah. Sungguh istimewa bagi Keluarga Suwanto dapat menghadiri upacara ini di Rantepao.


Rante tempat Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Upacara Rambu Solok yang kami hadiri digelar di sebuah tanah luas, dinamakan rante. Melewati bentang alam pedesaan Toraja yang luar biasa, jalanan menanjak dan cukup tricky. Sempat, si black metalic berdecit-decit di tanjakan tanah. Syukurlah, masyarakat sigap membantu. Seperti halnya juga pada upacara Rambu Solok, warga setempat, kerabat dan handai taulan, semua saling menolong dan bergotong royong.


Menuju tempat Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Bu Desi, tangan semesta yang membawa kami berkisah untuk upacara ini para kerabat datang menyumbangkan kerbau, babi atau uang kepada keluarga yang berduka. Hewan yang telah diterima akan dihitung oleh keluarga disaksikan aparat desa dan masyarakat adat. Sumbangan ini dicatat sebagai ‘utang’ keluarga almarhum (mendiang), yang nantinya akan dikembalikan bila keluarga penyumbang tadi mengadakan Rambu Solok. 



Memasuki rante, kami takjub dengan kemeriahannya. Seperti sebuah festival, banyak sekali orang, ornamen adat dan ritual budaya. Hitam dan merah adalah warna dominan di sana. Selain itu kerbau dan babi yang telah disembelih menjadi pemandangan tak terhindarkan. Saya yang tak kuat lihat darah harus menahan-nahan diri melawan mual. 








Bu Desi menjamu kami selayaknya keluarga. Ia juga membawa keluarga Suwanto berkenalan dengan sanak kerabatnya di lantang-lantang mereka. Lantang adalah semacam bilik-bilik dari bambu yang diperuntukkan bagi para tamu. Ada nomor-nomor yang di pasang di muka lantang. Bentuknya seperti rumah panggung yang panjang dan bersekat-sekat. Karena Rambu solok bisa berlangsung beberapa hari, lantang ini menjadi tempat tinggal sementara para tamu yang datang. Mereka menginap di sini hingga upacara selesai digelar.  


Lantang untuk penerimaan tamu  Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Suasana di lantang  Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
 


RAMBU SOLOK BAGI SUKU TORAJA


Suku Toraja meyakini sebelum terjadinya Rambu Solok, orang yang sudah meninggal belum benar-benar ‘mati’. Mendiang dianggap sebagai orang sakit, sehingga masih diperlakukan selayaknya masih hidup. Kebiasaan mendiang tetap dijalankan, misalnya disediakan makanan, minuman, juga diajak bicara & ditemani. Jenazah mendiang yang telah diberi cairan khusus dibaringkan di tempat tidur di sebuah tongkonan. Lamanya disimpan tergantung sampai kapan keluarga mampu menyediakan segala keperluan prosesi adat ini. 
Tau-tau Oma Martha,  Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Rambu Solok menjadi sebuah bentuk penghormatan sekaligus mengantar arwah mendiang menuju alam roh. Puya, itulah tujuan terakhir manusia, sebuah alam keabadian bersama para leluhur. Konon dipercaya, keseluruhan prosesi adat ini turut menentukan posisi arwah mendiang, apakah akan menjadi bombo (arwah gentayangan), to-membali puang (arwah yang mencapai tingkat dewa) atau menjadi deata (dewa pelindung).

Itulah mengapa, Rambu Solok menjadi begitu penting dan seperti sebuah kewajiban bagi para keluarga yang ditinggalkan. Keluarga Toraja akan semaksimal mungkin mengadakan Rambu Solok sebagai tanda pengabdian pada orang tua yang telah meninggal.





PROSESI RAMBU SOLOK



Keluarga Suwanto, tiba ditengah prosesi penerimaan tamu, ketika  jenazah sudah berada di rante. Bila sesuai tradisi leluhur, prosesi Rambu Solok sangat kompleks dan rumit, ada 7 tahapan katanya. Tetapi kini, sejak masuknya Kristen, Katolik dan Islam di Tana Toraja, prosesinya dipangkas menjadi empat. Adalah mapalao (pemindahan jenazah menuju tongkonan di pusat prosesi), penerimaan tamu, penyembelihan kerbau, dan terakhir penguburan. 

 Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Mapalao

Rangkaian prosesi adat dimulai ketika jenazah dipindahkan ke tongkonan pertama tempat ia berasal atau tongkonan tammuon. Di tongkonan ini disembelih seekor kerbau untuk kurban. Di hari kedua, jenazah akan dipindahkan ke tongkonan di tempat yang lebih tinggi, tongkonan barebatu. Seekor kerbau dipersembahkan kembali. 

Di hari berikutnya, setelah kebaktian dan makan siang akan dilakukan pengarakan jenazah menggunakan keranda khas Toraja bernama duba-duba. Jenazah kembali dipindahkan dari tongkonan barebatu menuju rante. Jenazah akan dibaringkan di lakkian sebuah menara yang paling tinggi diantara lantang-lantang. Seperti halnya lantang, lakkian juga terbuat dari bambu, namun berbentuk tongkonan, rumah adat Toraja. 2 ekor kerbau akan dipersembahkan di sini. 

Lakkian, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Dari yang diceritakan, saya membayangkan perarakan itu berlangsung sakral dan megah. Berurutan, orang dengan gong yang sangat besar, umbul-umbul atau tompi saratu, barisan tedong, para wanita dari keluarga mendiang yang menarik lamba-lamba, lalu terakhir para lelakinya mengusung duba-duba. Lamba-lamba adalah kain merah panjang yang letaknya di depan duba-duba.


Penerimaan Tamu

Setelah prosesi mapalao, keluarga menyambut penerimaan tamu. Bunyi lesung yang ditabuh sejumlah wanita menjadi tanda kedatangan tamu. Sanak keluarga mendiang Oma Martha datang dari berbagai daerah. Anak-anaknya Oma sudah banyak yang merantau. Kami sempat bertegur sapa dengan keluarga dari Makassar, Palembang, Bekasi Barat, dan Papua. Dengan saudara kandung Oma Martha pun kami bertukar salam. Beliau seorang wanita toraja yang hangat dan menawan.

Tabuh lesung, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Mengantar hidangan, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Penerimaan tamu akan terus dilakukan hingga semua tamu datang dan ditempatkan di lantang-lantang yang telah dipersiapkan. Kepada para tamu dipersembahkan hidangan dan aneka hiburan. Diantaranya adalah adu kerbau atau Ma’pasilaga Tedong. Acara ini menjadi primadona karena selalu ditunggu-tunggu masyarakat Toraja. Tanduk-tanduk kerbau itu akan dipasang di tongkonan mendiang. 
Derajat sosial masyakarat Toraja dapat dilihat dari tingginya susunan tanduk-tanduk tedong di tongkonan mereka. Adu kerbau akan berlangsung setiap sore hingga hari penguburan tiba. 

Ma’pasilaga Tedong, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Selain Ma’pasilaga Tedong, masih terdapat beberapa pertunjukan, seperti tarian dan persembahan musik. Kami menyaksikan Ma’badong, satu tarian yang dilakukan secara berkelompok. Para penari, pa’badong yang berpakaian merah dan hitam membentuk lingkaran dan saling berpegangan tangan. Mereka melantunkan alunan kidung yang menggambarkan sejarah hidup mendiang. Kadong-kadong atau syair yang dilagukan menceritakan asal-usul, serta segala hal terpuji yang menyangkut mendiang. Disematkan pula harapan agar mendiang dengan segala kebaikannya dapat memberkati orang-orang yang masih hidup.

Ma’badong, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Sendratasik, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Iringan suling, penerimaan tamu Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto



Penyembelihan Kerbau

Ritual khas Toraja ini berupa penyembelihan dengan sekali tebasan saja pada leher kerbau. Kemudian daging kerbau akan dibagi-bagikan kepada yang hadir. Ma’tinggoro Tedong, demikian bahasa Toraja-nya. Mereka percaya mendiang memerlukan banyak kerbau agar perjalanannya cepat tiba ke puya.

 
Tedong Bonga, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Kerbau tidak bisa dipisahkan dari ritual Toraja. Kerbau adalah penentu strata sosial. Semakin banyak kerbau yang dikurbankan, semakin tinggi pula derajat sosialnya. Bangsawan Toraja bisa mengurbankan 24 hingga 100 ekor tedong untuk upacara ini. Tidak heran harga si tedong ini sangat fantastis, puluhan hingga ratus juta rupiah. Apalagi kalau tedong bonga, kerbau berwarna bule. Kayaknya, jadi peternak kerbau di Toraja, bakal kaya raya deh.



Penguburan

Tahapan terakhir dari prosesi Rambu Solok adalah penguburan. Keselamatan arwah mendiang di Puya, sangat tergantung dari terpenuhinya syarat-syarat adat. Bekal kubur, korban persembahan tedong, serta perlakuan khusus terhadap mendiang. Di Tana Toraja, kuburan biasanya berupa bukit-bukit batu, bukan di bawah tanah. Jenazah akan disemayamkan di liang batu. Orang dengan kedudukan tinggi akan dikuburkan di tempat yang paling tinggi.

Penguburan, Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto
Keluarga Suwanto tidak turut menyaksikan prosesi penguburan Oma Martha. Kami hanya melewatkan setengah hari yang luar biasa di sana, dari siang hingga menjelang maghrib. Tetapi, begitu banyak hal yang dapat kami lihat, dengar dan rasa. Rambu Solok adalah warisan tradisi leluhur yang adiluhung. Harus tetap dimuliakan dan dirawat, diteruskan kepada generasi - generasi yang akan datang.


Lain waktu, ketika ada kesempatan menyapa Toraja kembali, suami dapat sedikit mengabadikan situasi prosesi penguburan Toraja. Siang itu hujan, namun perarakan jenazah menuju bukit batu tetap berlangsung khidmat. Sayup, syair-syair dalam bahasa Toraja mengantar jenazah ke peristirahatan terakhirnya. Para lelaki mengangkat peti jenazah untuk dimasukkan ke liang batu.

Prosesi Penguburan Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

Tak salah jelajahsuwanto memilih Rambu Solok sebagai wishlist aktrasi budaya. Ketika jelajah Toraja dimulai, terucap harap dapat menyaksikan kemegahan upacara ini. 

Bagaimana bisa, seseorang nun dari Palembang tergerak hati mengajak pasangan Jawa & Sunda (yang baru saja ia temui) datang ke prosesi sakral Rambu Solok keluarganya?

Adalah kebetulan yang tepat waktu. 

Terima kasih Bu Desi, sebuah kehormatan bagi keluarga Suwanto dapat berbaur dan menjalin persaudaraan di pelosok Rantepao, Toraja Utara. 


 Rambu Solok di Tana Toraja +jelajahsuwanto

24 komentar:

  1. Mbak Sri...Saya takjub bacanya!
    Menjadi saksi acara Rambu Solok, prosesi kematian yang menjadi bagian terpenting dari kehidupan orang Toraja pasti berkesan sekali. Semoga prosesi seperti ini akan terus ada dan lestari sehingga anak cucu kita bisa ikut menyaksikan dan mempelajari maknanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa, Mbak Dian. Sangat berkesan.
      Amin, semoga tetap lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang.

      Hapus
  2. Whuaa Indonesia mah jangan ditanya soal tradisi ya, banyak banget salah satunya ya Rambu solok ini. Saya pikir awalnya ini di daerah Sumatera ada nama soloknya ternyata di Sulawesi Selatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir di jelajahsuwanto Mbak Dwi. Indonesia memang kaya tradisi. Iya, itu nulisnya ada yang solo’ ada juga solok. “K”nya buat penekanan kali ya๐Ÿ˜

      Hapus
  3. Rambu Solok ini memakan banyak biaya yah mba, makanya bisa sampai tahunan baru di selenggarakan. Saya punya teman asli Toraja, bisa ratusan juta bahkan ada yang milyaran katanya. Tapi ini sudah tradisi dan adat istiadat dari leluhur, mau bagaimana lagi. Tapi saya pribadi justru pengen banget melihat langsung. Seru kayaknya, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti biayanya ndak sedikit buat acara semegah itu, Mbak. Amin, semoga bisa kesampaian menyaksikan langsung ya, Mbak HeNee๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡

      Hapus
  4. Rambu Solok budaya suku Toraja yang patut dilestarikan. Wah keren nih mb bisa menghadirinya. Suiiipp...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyees beruntung sekali kami๐Ÿ˜๐Ÿ™
      Terima kasih sudah mampir di jelajahsuwanto, ya.

      Hapus
  5. Beruntung bisa menyaksikan Rambu Solok ini ya mba, saya jadi tahu dari kecipratan membaca dan membayangkan prosesinya dari foto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, jelajasuwanto memang beruntung๐Ÿ˜๐Ÿ˜
      Lain waktu semoga bisa melihat dari langsung Mbak Primastuti.
      Terima kasih sudah singgah di jelajahsuwanto ya๐Ÿ˜

      Hapus
  6. Tradisi di Indonesia memang luar biasa unik. Beruntung banget Mbak, bisa menyaksikan langsung. Wah, aku pasti melongo kalau berada di sana saking takjubnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha, iya melongoo๐Ÿ˜
      Memang luar biasa Indonesia kita๐Ÿ˜

      Hapus
  7. Dari dulu kepengin banget bisa traveling ke Tana Toraja. Seru banget ya. Wah jadi semakin mupeng hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayook, Mbak Steffi. Ndak bakal nyesel traveling ke Tana Toraja๐Ÿ˜ recommend

      Hapus
  8. Mbak Sri tinggal di Sulawesi kah mbak? Bagaimana caranya bisa diundang ke acara Rambu Solok ini ya mbak?
    Btw ulasannya suangatt komplit, saya jadi serasa ikut di acara tersebut.
    Nice review mbak. ๐Ÿ‘๐Ÿ˜—

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kala itu tinggal di Makassar, Mbak. Memang wishlist untuk jelajah Toraja. Mumpung lagi di Sulsel, kan๐Ÿ˜
      Nah, bagaimana bisa diundang, saya pun ndak tahu, hanya bisa bersyukur atas kebaikan semesta. Sebuah kebetulan, Mbak Nanik.
      Terima kasih sudah membaca blog jelajahsuwanto ya๐Ÿ˜๐Ÿ™

      Hapus
  9. Wah serunya jalan-jalan ke sana Mba. Gimana ceritanya Mba kok bisa jalan-jalan ke sana? Foto-fotonya bagus lagi ☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaap seru Bunda Erysha, memang sudah rencana mau jelajah toraja. Mumpung stay di sana.
      Fotonya hasil karya pak suami itu, bagi tugas๐Ÿ˜

      Hapus
  10. Wah mirip sama ngaben di Bali kali ya mba .. megah dan sangat sakral. Beruntung sekali dirimu bisa menyaksikannya for free hehhe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngaben aku malah lom pernah tahu, Mbok.
      Mirip ya?
      Ahahaha bagian for freenya ini lho, sukaa sekali saya๐Ÿ˜ Beruntung pokokna mah๐Ÿ˜

      Hapus
  11. Bagus sekali ulasannya Mbak. Indonesia memang kaya budaya ya. Keren sekali. Budaya tana toraja ini pun menarik. Apalagi sy tak banyak tahu ttg budaya di provinsi lain. Yuk kenalkan pada dunia, budaya di Indonesia

    BalasHapus
  12. Halooooo mba Sri apa kabar? Hehehe cerita kali ini tidak kalah kece dengan cerita yg sebelumnya. Selamat udah bis liat prosesi adat ini sya entah kapan hahahahaha

    BalasHapus
  13. Berbicara tentang kebudayaan memang seru ya mbak. Sepertinya zaman dulu hartanya berlimpah dan suka sedekah. Lihat saja ini prosesinya menghabiskan dana yang luar biasa banyak. Mereka meninggalkan warisan yang sarat makna berbagi yg luar biasa. Terimakasih mbak informasi nya

    BalasHapus
  14. Beruntung banget Mbak bisa menyaksikan langsung prosesi adat luar biasa ini.

    BalasHapus