Tampilkan postingan dengan label Tana Toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tana Toraja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2018

Rambu Solok Tana Toraja, Kemeriahan Mengantar Keabadian

Semua bermula setelah tanjakan itu. Lelah menapaki undak-undakan Londa, gubuk peristirahatan kecil menarik kami. Di sanalah, semesta memeluk mimpi-mimpimu. Seorang Ibu dan kerabatnya tiba sementara kami mengaso. Mereka pun ngos-ngosan. Percakapan khas ibu-ibu meluncur begitu saja. Lalu, entah kebetulan yang mana Ibu setengah baya itu mengundang Keluarga Suwanto untuk datang ke pesta Rambu Solok keluarganya. Kami memang ingin sekali menyaksikan upacara sakral itu.

Apa itu Rambu Solok?

Rambu Solok adalah upacara adat kematian suku Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan. Ritual upacara penyempurnaan kematian ini bisa jadi yang paling meriah dan mahal di Indonesia. Seorang kawan Toraja pernah mengatakan upacara kematian Rambu Solok merupakan yang terpenting dari rentang kehidupan seorang Toraja. Bahkan melebihi upacara kegembiraan, Rambu Tuka. Megah dan meriahnya Rambu Solok menentukan status sosial keluarga yang merayakan. 

Senin, 02 Oktober 2017

SkyScanner Dan Cerita Jelajah Anak Rantau

Pulau Kecil yang tertangkap kamera, dalam perjalanan menuju Makassar | © jelajahsuwanto
Pulau Kecil yang tertangkap kamera, dalam perjalanan menuju Makassar | © jelajahsuwanto
 
 
New Hello
“Bun, aku promosi…, tapi ke luar pulau…, gimana?” Siang itu, masih terngiang suaranya di seberang telepon. Aku bangga dan berbahagia untuk suamiku, tapi mengapa ruangan kantor itu nampak indah, menahanku untuk tetap tinggal di Ibukota yang penuh gairah. Promosi suami, resign dari pekerjaanku sendiri, negeri orang, pindah sekolah anak, jauh dari orang tua sanak keluarga, semuanya berkecamuk meminta porsi.

Saya dan Suami menyukai perjalanan. Masih membekas jawaban seorang Senora di film The Way, ketika ditanya pernahkah ia pergi ziarah ke Santiago de Compostella. Ia mengatakan “No never, when I was young, I was too busy, and now that I am older, I’m too tired!”.
Tidak, saya tak ingin terjebak dalam rutinitas semu seperti Senora tersebut. Tidak juga berlindung di balik alasan pekerjaan maupun anak-anak. Saya siap merantau dan mengenalkan anak-anak pada indahnya perjalanan.

Maka demikianlah, setelah melalui diskusi suami istri, pergumulan doa, dan restu orang tua, Keluarga Suwanto siap terbang menemukan “new hello” ke tanah rantau.

Minggu, 20 November 2016

Kete Kesu: Desa Adat yang Mistis

hiruk pikuk pengunjung di desa ada Kete Kesu Tana Toraja || JelajahSuwanto
Hiruk pikuk pengunjung di desa adat Kete Kesu Tana Toraja || jelajahsuwanto


Kete Kesu sedang hiruk pikuk ketika Keluarga Suwanto datang. Nanti malam akan digelar Toraja International Festival. Panitia berpacu dengan waktu mempersiapkan panggung bernuansa etnik. Sementara Wisatawan mancanegara dan domestik berbaur di desa adat ini. Penuh dan ramai. Masing-masing tak mau kelewatan mengabadikan deretan Tongkonan di kompleks desa adat Kete Kesu.

Kete Kesu hanya sekitar 15-20 menit dari Rante Karassik. Secara Administratif Kete Kesu berlokasi di Bonoran, Tikunna Malenong, Sanggalangi, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Keluarga Suwanto mengikuti petunjuk jalan, seperti diarahkan Pak tua yang kami temui di situs cagar budaya Rante Karassik.

Senin, 24 Oktober 2016

Rante Karassik, Kuburan Purba di tengah Pemukiman Rantepao

Kawasan Situs Cagar Budaya Rante Karassik Rantepao Toraja Utara || JelajahSuwanto
Situs Cagar Budaya Rante Karassik Rantepao Toraja Utara || JelajahSuwanto

Menyambut pagi pertama di Rantepao, Keluarga Suwanto begitu antusias. Kami memang belum menyiapkan itinerary yang pasti. Pokoknya, menjelajah Toraja. Itu saja.

Ketika resepsionis Hotel Indra menyodori peta wisata Toraja Utara, kami langsung semangat ingin menyambangi sebanyak mungkin tempat yang unik di tanah para raja ini. Jumat pagi, kami memutuskan akan melihat Rante Karassik terlebih dahulu. Karena jaraknya yang sangat dekat dari Hotel Indra, Rantepao. Tertulis lebih kurang 1 Km.

 

Minggu, 23 Oktober 2016

Bori Kalimbuang: Menhir di Nusantara

Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Mendadak bayangan Obelix yang membawa menhir di punggungnya numpang lewat di ingatan saya. Menhir yang pernah saya baca di komik Bangsa Galia versus Romawi ini sungguh nyata di Tana Toraja.
Pembuatan batu-batu Menhir atau Simbuang Batu dalam Bahasa Toraja adalah tradisi yang berusia ratusan tahun lampau. 
Konon, Kalimbuang Bori adalah tempat pertama yang menjadi lokasi upacara pemakaman adat Rambu Solo. Kala itu tahun 1657.

Selasa, 30 Agustus 2016

Jelajah Tana Toraja: 4hari 3Malam

 
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto


Natalan pertama di tanah rantau, masih belum dapat jatah pulang kampuang.Daripada merana, mending melanglang buana. Tana Toraja kami datang.

Hari Pertama Jelajah Tana Toraja

Hari pertama Jelajah Tana Toraja dihabiskan untuk perjalanan yang menyenangkan. Keluarga Suwanto sepakat  pergi pada saat Festival Lovely December. Kami berangkat dari Makassar tanggal 26 Desember menggunakan kendaraan pribadi. Anak-anak selalu menikmati berkendara, apalagi hampir sepanjang perjalanan wiper bergerak terus menyapu rintik hujan. Dua kakak beradik punya kecocokan imajinasi dari wiper yang bekerja. Entah apa. Pastinya seru.