Sabtu, 25 Juli 2015

Akkarena, Sebuah Kisah Tentang Persahabatan

Sepasang sahabat menunggu ombak di pantai akkarena pada suatu sabtu yang cerah.

 "Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti... sebuah kisah klasik untuk masa depan...
Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan
Di hari tua... woooh..."

Tiada Sabtu sore yang lebih pantas diingat, selain Sabtu ini. Sabtu yang cerah di penghujung Juli tahun 2015. Sebuah senja di Pantai Akkarena berkisah tentang persahabatan.

Adalah kisah persahabatan. Dua pasang sahabat. Kakak Beradik. 

Jelajah Keluarga Suwanto kali ini akan dimulai dengan kisah persahabatan Mas dan adeknya.

Suatu sore, sehari setelah kami tiba di sebuah negeri Anging Mamiri. Pintu sebuah rumah besar di sebelah rumah baru kami terbuka. Muncul seorang ibu muda. Ia tersenyum cantik. 


Bermula dari senyum itulah kisah persahabatan ini dimulai.
Mami (begitu akhirnya kami semua memanggil Ibu yang penuh kasih ini) mengenalkan putra dan putrinya pada kedua putraku. Putra pertamanya sudah kelas dua SD, dan putrinya hampir berusia 4 tahun. Putra pertamaku masuk kelas 4 SD dan yang kedua baru saja berusia 2 tahun. Sejak pertemuan itu, hari-hari keempat anak ini selalu penuh warna. Mereka menjadi sepasang sahabat yang saling melengkapi. 

Si Mas dan Si kakak, kepalanya penuh imajinasi - imajinasi absurd yang hanya mereka berdua saja yang mengerti. Setiap sore mereka berbagi kisah. Kadang tertawa terbahak-bahak, berkerut serius, atau fokus pada objek permainan mereka. Lain waktu mereka berkeringat di halaman, berlari-lari. Bermain bola di lapangan. Atau balap Sepeda keliling kompleks. Seru! Tak pernah kudengar mereka bertengkar.

Si Kakak cantik dan si adik, lain lagi. Yang satu lincah imajinatif, dan yang satunya mengikuti. Yang satu usil, yang lain tidak mau kalah. Yang satu cerewet, yang lain ceriwis. Yang ini penuh dinamika, ada kalanya mereka bombe. Tapiiii, mereka pasangan sahabat yang romantis. 
Suatu waktu, adek sakit, si Kakak atas inisiatifnya sendiri menyelipkan kertas di bawah pintu. "semoga cepat sembuh, Ken". 
Lain waktu kakak yang sakit, si adek mengumpulkan bunga kamboja merah muda yang berjatuhan di halaman rumah. Ia meminta bunda membuat kalung bunga. Setelah dirangkai ia berlari ke sebelah rumah. menitipkan kalung bunga pada maminya. Sweet!

Tanggal 27 Juli yang akan datang, Anak pertamaku  sudah kelas 6 SD dan sahabatnya sudah kelas 4 SD. Adiknya sudah 4 tahun dan sahabat cantiknya sudah akan kelas 1 SD. Begitulah persahabatan mereka pun terus meningkat. 

Biarpun mereka setiap hari selalu bermain bersama di rumah, tapi mereka belum pernah pergi bersama. Sore tadi, pantas diingat karena anak-anak pergi bermain bersama di Pantai Akkarena. Sudah sejak pagi anak-anak ribut ingin membuat istana pasir. Juga rindu bermain-main di air asin. Maka, sore ini Jelajah Keluarga Suwanto dimeriahkan dengan tambahan dua krucils sahabatnya anak-anak.

Anak-anak siap membangun istana pasir di Pantai Akkarena, Makassar
Hanya 20 menit, kami sudah tiba di Akkarena. Tanpa membuang-buang waktu, anak-anak langsung berkreasi. Pasir Akkarena yang hitam lembut memang cocok untuk membuat istana pasir. Ombaknya juga cukup tenang, anak-anak menikmati setiap datangnya buih-buih putih itu. Ada banyak pecahan kerang di pasir. Tentu saja, cangkang kerang ini tidak luput dari incaran anak-anak heboh ini. selamat menikmati masa kecil kalian nak. Bunda dan Ayah, sudah amat berbahagia melihat kalian bersukacita.

Penampilan Pantai Akkarena
Pantai Akkarena letaknya memang tidak jauh dari Pantai Losari. Tepatnya di Tanjung Bunga. Sekitar 4 km dari pusat kota Makassar. Akkarena memiliki pantai berpasir hitam yang lembut. Berbeda dengan Losari yang sudah direklamasi. Oleh karena itu, pengunjung dapat berenang dan bermain di pantainya. Fasilitas di Pantai Akkarena cukup lengkap, terdiri dari ruang pertemuan, kursi-kursi dan bambu untuk pengunjung, taman bermain anak, musholla, kamar mandi, ruang bilas dan ganti. Aktivitas yang ditawarkan jetski, banana boat. Dan tiket harga masuknya cukup terjangkau. Harga Masuk: dewasa dan anak-anak di atas 5 tahun Rp.10.000,- per orang. Parkir Mobil Rp.5.000,-
 
Mari membuang sampah di tempat yang benar wahai pengunjung Pantai Akkarena!


Mungkin karena menjelang malam minggu, juga terakhir liburan sekolah anak-anak, Akkarena sore itu didatangi banyak pengunjung. Sahabat-sahabat yang berbagi kisah. Pasangan muda-mudi yang memadu rindu. Keluarga-keluarga yang berbagi ria. Ramai dan penuh aktivitas. Namun sayang sekali, mereka juga terbawa suasana, berbagi sampah dimana-mana. Duuuuh, kebiasaan kayak begini mbok ya ayook ditinggalin. Pasti Akkarena lebih nyaman untuk berbagi kisah persahabatan kalau tempatnya bersih.

Aktivitas pengunjung pantai Akkarena

Tahu-tahu, Mas sudah nyerocos "Bunda, lihat kingdom of the sand-nya cuma ini yang bertahan, lainnya sudah tumbang dihempas tsunami kecil".
Kompleks  Kingdom of the sand yang megah luput diabadikan bunda dan ayah karena sibuk dengan urusan lain, hahaha. Tapi kalian tetap ingat setiap detailnya hingga malam tiba. Syukurlah.

Kingdom of the Sand yang bertahan, karya Mas Gabriel dan Kak Odza

Tsunami kecil yang melanda kingdom of the sand anak-anak menandakan pasang merayap datang. Matahari bulat jingga pun beringsut menuju peraduannya. Pasangan muda-muda yang merindu pasti sedang terharu biru memandangi sunset yang romantis.
Sunset di Akkarena
 “Anak-anak ayook, waktunya bilas“. Teriakan bunda cukup merusak suasana.
Anak-anak cemberut tidak mau pulang. Tapi tetap, mereka harus bergegas. Buku-buku tangan sudah keriput, badan sudah menggigil, bahaya kalau diteruskan. 
Apa-apa yang terlalu lama, tidak baik nak!.

Berbagi cemilan dengan sahabat di Akkarena, semoga menjadi kisah klasik untuk masa depan
Sambil menunggu kedua kakaknya bilas dan ganti baju, si kakak cantik dan si adek asyik berbagi cemilan ditemani ayah yang melirik iri, hehehe . .


"Sampai jumpa kawanku... semoga kita selalu...
Menjadi sebuah kisah klasik... untuk masa depan..."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar