Kamis, 10 September 2015

Wisata Keluarga ke Gunung Galungung: Mengajak Adek Bayi Mendaki!

Yeaaay, adek sudah sampai di Gunung Galunggung . .
September 2011, lebaran yang penuh berkah. 
Keluarga Suwanto pulang kampung ke Nagaraherang, tempat lahirnya bunda. Walau pulang kampung tak pernah lengkap tanpa ‘kehadiran’ aki, tapi kali ini terasa penuh karena kakak beradek bisa kumpul bersama. Hari itu kami sepakat menjelajah Gunung Galunggung yang fenomenal.

Nini, neneknya mas dan adek pernah bercerita kala itu bunda baru sekitar dua bulan dilahirkan, kampung kami gelap gulita diguyur abu Galunggung. Suara dentuman dan gemuruh, pijar api di kejauhan membuat suasana mencekam. Bunda kecil dibawa lari aki dan nini menuju tempat aman. Popok bunda pun tercecer di jalan. Tak dapat dibayangkan bagaimana situasi saat itu. Letusan itu tercatat tanggal 5 Mei 1982 (Skala VEI Volcanis Exploxivity Index 4). Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan, berakhir pada 8 Januari 1983. Tentu saja menimbulkan kehilangan nyawa, kerugian harta benda, bahkan 22 desa ditinggal tanpa penghuni. Bahkan sebuah pesawat boeing milik British Airways berpenumpang 263 orang dikabarkan mengalami kerusakan empat mesinnya karena terbang di debu vulkanik Gunung Galunggung. Untungnya pesawat dapat melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusumah.


 
Gunung jadi di tengah danau kawah Gunung Galunggung


Sejarah mencatat Gunung Galunggung pernah meletus pada 8-12 Oktober 1822 (VEI=5) memuntahkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.
Letusan berikutnya terjadi pada Oktober 1894. Lahar panas mengalir pada alur sungai yang sama dengan letusan tahun 1822 menghancurkan 50 desa.

Letusan berikutnya disertai gempa bumi terjadi pada 6 Juli 1918 menimbulkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Dan pada 9 Juli, terjadi pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560x440 m yang kemudian dinamakan gunung Jadi.
Suasana puncak Gunung Galunggung
Bertahun-tahun kemudian kami bersyukur atas abu Gunung Galunggung tersebut yang telah menyuburkan tanah pertanian aki dan nini. Dan baru kali ini, seumur hidup, bunda berkesempatan mendaki gunung aktif Galunggung yang kini tengah tertidur, bersama ayah, mas, adek, 'mamang' dan 'bibi'. What a beautiful day!

Pada September itu, adek baru saja berusia 4 bulan. Dalam nama Tuhan, semoga pendakian adek yang pertama, aman dan nyaman. Adek masih minum asi, jadi praktis tidak perlu menyiapkan perlengkapan yang ribet. Cukup membawa pampers, baju ganti dan minyak telonnya. Lagipula Jarak tempuh Gunung Galunggung tidak terlalu jauh dari Nagaraherang, hanya sekitar satu jam perjalanan.
Pendakian perdana adek ke Gunung Galunggung, Puji Tuhan aman dan adek tampak menikmatinya
Gunung Galunggung berada di ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut. Tepatnya berlokasi di Desa Linggajati, Kecamatan Sukaratu, Tasikmalaya. 
Berikut link google maps Gunung Galunggung dari arah Rajapolah:

Jalan menuju Gunung Galunggung adalah jalan kecil di pedesaan, kala itu masih banyak yang rusak. Namun suasana pedesaan yang bersahaja, keramahan warga, areal pesawahan yang kuning ranum siap panen, serta kawasan hutan hijau mampu memulihkan mata yang lelah. 


620 anak tangga menuju kawah Gunung Galunggung dipadati pengunjung

Galunggung, siang itu penuh sesak. Mungkin karena bertepatan dengan libur hari raya Idul Fitri, semua orang ingin berbagi gembira di kawasan wisata yang terkenal di Tasikmalaya ini. Kendaraan roda empat dan roda dua tidak dapat ditampung di tempat parkir yang kecil. Untunglah sudah ada warga yang membantu mengaturkan parkir, hingga di tepi-tepi jalan. Tiket masuk perorang masih murah Rp.4.200,-

Nah, siap-siap kencangkan gendongan adek! Mari mendaki 620 tangga untuk sampai ke Puncak Galunggung. Tarik napas dulu yang banyaaak. Go!
Istirahat di tengah perjalanan naik tangga menuju kawah Gunung Galunggung
Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di puncaknya. Lega rasanya, adek kecil tetap anteng di gendongan, malah senyam-senyum dan melat-melet.

Dari puncak tertinggi Gunung Galunggung, kami bisa melihat kawah hijau yang cantik. Mendengar ramainya orang-orang bersua dengan sanak famili. Merasakan sejuknya udara gunung yang ternyata kalah oleh panas tubuh hasil menaiki tangga. Dan cemal-cemil jajanan kenyal-kenyil khas sunda.
Tiba di puncak Gunung Galunggung

Cilok (aci dicolok) yang disiram saus kacang, cimol dan tebu ada di atas gunung. Banyak dijumpai warung penjual makanan di sini. Tapi ada yang bikin miris, banyak pula sampah yang berserakan. Kenapa ya masih banyak orang yang belum sadar menjaga lingkungan?. Apa sih susahnya membuang sampah pada tempat yang telah disediakan?
Ada tebu, cilok dan cimol yang kenyal kenyil di Gunung Galunggung
Kawah tempat sang Gunung memuntahkan lahar panas telah berubah menjadi danau berair jernih yang nampak hijau dari kejauhan. Jalan menuruni kawah cukup menantang. Inilah jelajahnya. Let’s have some fun!
Jalan menuruni kawah Danau Gunung Galunggung
Sekitar 15 menit kemudian, kami sudah berada di muka danau. Sebuah lembah yang terlindung oleh dinding alam yang hijau mempesona. Banyak orang mendirikan tenda di sekitar kawah ini. Ada pula yang memancing. Bahkan sekumpulan anak muda sedang  mengibarkan Sang Saka Merah Putih di gugusan gunung jadi di tengah danau.

Di kawah ini tidak terlalu penuh orang seperti puncak tadi. Tidak semua orang suka bersusah payah untuk melihat lebih dekat keindahan yang terlihat juga dari kejauhan. Suasana menjadi jauh lebih tenang, kami dapat bercengkrama lebih dekat. Lihat saja kelakuan mamang dan bibi yang kompak lucunya.
Kekompakan kakak beradek di Gunung Galunggung
Mas, sudah menjelajahi pinggiran danau, ia menemukan ikan, siput kecil, batu-batu yang berwarna, dragonfly alias papatong alias capung, bunga liar yang cantik dan elang yang terbang tinggi di langit.
Warna warni kawasan wisata Gunung Galunggung
Ia juga tertawa gembira bersama ayahnya menerobos ilalang, bertanya ini itu pada bunda, dan tak luput mengamati mamang dan bibinya. 
Mas yang imajinatif di Kawah Gunung Galunggung
Senang sekali melihat anak yang imajinatif seperti mas. Lain hal adek kecil, dia sudah kelelahan, tertidur bergantian dalam dekapan ayah dan bunda. Menjadi orang tua adalah hal terbaik dalam hidup.
Menemani anak bereksplorasi di Gunung Galunggung

Dari kejauhan kami melihat anak tangga beton yang langsung menuju ke kawah. Ternyata itu merupakan jalur pendakian melalui terowongan pembuangan air. Sebuah artikel menceritakan bahwa volume air yang besar di kawah Gunung Galunggung memberikan potensi bencana yang lebih mematikan. Jika Gunung Galunggung meletus lagi, maka 7.8 ton meter kubik air yang berada di kawah akan mendidih karena aliran lahar di bawahnya. Ketika suatu waktu nanti bencana letusan Galunggung terjadi lagi, maka air mendidih di kawah tersebut akan membawa jangkauan material lahar lebih mematikan. Oleh sebab itu, proses pengurangan volume air di kawah Galunggung terus dilakukan dengan mengalirkan air melalui terowongan buatan yang membuang aliran airnya ke sungai Cikunir. Usaha ini bertujuan untuk tetap menjaga risiko ancaman bencana letusan Galunggung sekecil mungkin terhadap perkampungan di sekitarnya.
Jalur terowongan pembuangan air menuju kawah Gunung Galunggung
Jadi menuju kawah ini bisa melalui 620 tangga seperti yang kami lalui atau melalui jalur terowongan air ini.

Masih terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain: wanawisata dengan areal sekitar 120 hektar dibawah pengelolaan Perum Perhutani, berupa air terjun dan kawah. Obyek wisata lainnya berupa pemandian air panas (cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas seluas kurang lebih 3 hektar. Tersedia juga tempat bermain anak, panggung hiburan, saung ranggon tempat botram (makan-makan), kios wisata, juga arena camping. Namun karena banyaknya pengunjung saat itu, kami urung untuk menjelajah lebih lanjut.
Waktu kami pulang masih banyak saja pengunjung yang mendatangi kawasan wisata Gunung Galunggung ini.

Sedikit informasi, bagi pengunjung yang ingin mencapai lokasi ini dengan kendaraan umum, bisa turun di Terminal Indihiyang kemudian lanjut menggunakan angkot jurusan Galunggung. sesampainya di kawasan wisata bisa naik ojek atau jalan kaki menuju pelataran parkirnya untuk kemudian mendaki ke puncak.
Dari terminal ini masih sekitar 5 -10 km menuju Gunung Galunggung. Jika berangkat berombongan bisa carter angkot kisaran 150-200ribu rupiah. 

Demikianlah kamis di awal september itu, keluarga suwanto beserta mamang dan bibi merayakan kebersamaan di Gunung Galunggung.
Keluarga Suwanto di Gunung Galunggung

3 komentar:

  1. informasi menarik wisata lainnya ada di

    http://notetravelling.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Keren Gan ulasannya, saya malah belum sampai ke dasar kawah.

    BalasHapus
  3. Bagus nih artikelnya, mengingatkan masa masa muda saat masih giat berpetualang gunung ke gunung, salam kenal, semangat terus berbagi pengalamannya ya...

    BalasHapus