Sabtu, 11 Juni 2016

Pantai Kaluku, Menjemput Matahari, Merayakan Persahabatan

Pantai Kaluku: Semburat jingga di ufuk timur +fotojelajahsuwanto+
Pagi baru saja merekah. Apa yang dapat kukatakan untuk dapat mendeskripsikan semburat cahaya langit itu? Satu kata dariku, Majestic!
Atau begini saja. Pergilah ke Pantai Kaluku. Bangunlah pagi sekali, susurilah pantai. Dan ketika saatnya tiba, menghadaplah ke timur jauh. Jika kau beruntung, alam tak akan mengecewakanmu.
 
Pantai Kaluku: Matahari bulan Januari +fotojelajahsuwanto+
Selamat datang Matahari bulan Januari. Meski bayang-bayang awan hitam masih membayang, cahaya emas kemerahannya tetap berpijar menghangatkan. 

Lain Matahari Januari, lain pula langit September. Begitu pula, lainlah kondisi pesisir dan lepas pantai Kaluku. Dua kali Jelajah Keluarga Suwanto mengunjungi tempat ini, untuk tujuan yang sama. Melepas sahabat dan menjemput matahari. 

Pantai Kaluku: Cahaya pagi bulan September +fotojelajahsuwanto+
Baiklah, mari kuajak kembali ke masa dua puluh dua bulan lampau. Semburat cahaya langit memiliki pesonanya sendiri bagiku. 
Berjuang sedikit, membuka mata di awal hari, setimpal dengan rasa agung yang kuperoleh. Lihatlah betapa tenangnya langit, laut dan cahaya lembut bulan September. 
Fajar nun di ufuk timur bulat penuh, percaya diri siap menghangatkan bumi. Tanpa awan hitam, tanpa kekhawatiran.

Pantai Kaluku: Matahari bulan September +fotojelajahsuwanto+

Pantai Kaluku berada sebelum Pantai Tanjung Bira yang sudah dikenal lebih dulu sebagai primadona wisata pantai di Sulawesi Selatan. Posisi Pantai Kaluku tersembunyi di balik tebing di kiri jalan poros Bulukumba.
Setelah melewati Pinisi yang megah di Pantai Panrangluhu (terlihat dari poros Bulukumba), siap-siap perhatikan jalan kecil menurun di kiri jalan. Ikuti jalan itu. Deretan nyiur segera menyambutmu. Tak sampai 5 menit, kita sudah tiba di Pantai Kaluku. Kaluku dalam bahasa Bugis berarti Kelapa.
Pantai Kaluku: Deretan nyiur meneduhi penginapan +fotojelajahsuwanto+
Atau alternatif lainnya, biasanya dari Poros Bulukumba terus saja sampai ke Pelabuhan Bira. Masuk ke Dermaga Bira belok ke arah utara, ikuti jalan kecil di pinggir laut. Setelah melewati semacam kampung nelayan, kita akan menemukan deretan nyiur dan halaman luas yang hijau, disitulah kami menginap. Tidak ada papan nama di penginapan. Lokasinya berdekatan dengan Kaluku Cottages. Ada satu villa besar dan dua bungalow yang disewakan. Semuanya berbentuk panggung. Asyiknya dapat menampung kami hampir 70 orang, termasuk anak-anak. Harga cukup terjangkau. Nomor pengelola yang dapat dihubungi 081543438088, 081342060941

Pantai Kaluku: Penginapan berbentuk panggung +fotojelajahsuwanto+

Penduduk setempat menyebut pula Pantai Kaluku sebagai Pantai Timur. Marumasa, Mandalaria dan Apparalang adalah pantai-pantai cantik lainnya di pesisir timur yang layak untuk dijelajahi. Ada juga Pantai Kasuso dan Samboang.
Dari pengalaman jelajah Pantai Kaluku, bulan September adalah waktu terbaik menikmatinya. Pantai begitu tenang dan bersih. Air laut pun surut, tidak bergelora. Pantai Timur ini berbatasan langsung dengan laut lepas, berbeda dengan Tanjung Bira yang dilindungi Pulau Liukang Loe dan Pulau Kambing.

Pantai Kaluku: Pesisir pantai bulan September +fotojelajahsuwanto+
Sementara di pertengahan Januari tahun 2016 ini, Pantai Kaluku sedang dilanda musim barat. Perairan nampak penuh sedikit bergejolak.
Pantai Kaluku: Pesisir pantai bulan Januari +fotojelajahsuwanto+
Musim barat juga menghempas banyak sampah dari lautan. Tepian pantai menjadi kurang nyaman karena onggokan sampah-sampah plastik, kayu, bahkan kain-kain bekas. Namun tetap saja, semuanya itu bukan halangan bagi kami untuk bersenang-senang. Apalagi, bersama sahabat-sahabat tercinta, kondisi apapun bisa dinikmati dengan ceria.

Pantai Kaluku: musim barat di awal Januari +fotojelajahsuwanto+

Melepas sahabat, adalah bagian yang pasti harus kami lalui. Proses hidup yang memperkaya. Menambah daftar sahabat, kerabat yang tak hanya sebatas canda tawa. Ada proses mengenal, berbagi, saling support dan mendoakan. Mungkin juga ada salah paham, perselisihan kecil yang tak akan diambil hati. Sedih sesaat harus berpisah, namun, kemanapun, dimanapun kami mendapat amanah, doa dan dukungan akan mengiringi.

Pantai Kaluku: merayakan persahabatan +fotojelajahsuwanto+
Seperti sebuah tradisi bagi kami, berkumpul di suatu tempat sebagai malam perpisahan. Selepas makan malam, biasanya seluruh keluarga besar berkumpul membentuk lingkaran. Ada ramah tamah, saling memberi ucapan, bertukar kado, adapula yang karaokean. Anak-anak menanti bebakaran di api unggun, ada pula yang bermain playstation, atau berkejar-kejaran di bawah bintang. Karena waktu tempuh perjalanan yang cukup jauh, ibu-ibu dan anak-anak biasanya lebih dulu beristirahat di rumah panggung. Sementara para bapak, bisa terjaga hingga pagi.

Pantai Kaluku: aktivitas seru +fotojelajahsuwanto+
Esok harinya adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang di pantai. Bermain air, membangun istana pasir, mencari kerang, apa saja yang penting happy. Pernah juga berkunjung ke Bira kemudian menyeberang ke Liukang Loe. Tapi jika waktu tak memungkinkan bakar ikan di halaman villa pun tidak masalah. Ikan segar didapat dari kampung nelayan di sebelah penginapan. Apalagi sambel tomat racikan ibu pengelola villa di sini, mantap sangaat. 


Pasir di Pantai Kaluku relatif stabil, putih, lembut juga landai. Tidak seperti pasir di Tanjung Bira yang terkadang habis terbawa angin ke arah Pantai Bara. Deretan nyiur dan Pohon Bintaro di pinggir laut meneduhi matahari yang semakin terik. Masih cukup aman bagi anak-anak untuk bermain di lokasi ini. Tentu saja selama tetap masih dalam pengawasan orang tua. Selalu pakaikan sunblock terlebih dahulu sebelum bermain langsung di bawah sinar mentari.

Pantai Kaluku: tinggal pasang hammock, surga! +fotojelajahsuwanto+
Barang lain yang tak boleh dilupakan dalam perjalanan adalah Topi lebar, Hammock, dan alas untuk duduk di pantai. Apalagi deretan nyiur di Pantai Kaluku jaraknya berdekatan, cocok untuk mengikatkan hammock.

Pantai Kaluku: dua sahabat kecil +fotojelajahsuwanto+
Adek kecil dan sahabatnya, dua sahabat kecil yang tak peduli dengan sekitarnya. Tak peduli hangatnya mentari. Tak peduli betapa indahya kebersamaan mereka. Mereka asyik dengan dunianya sendiri di tepi Pantai Kaluku.

Begitulah di Pantai Kaluku kami merayakan persahabatan. Menjemput matahari yang selalu baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar