Senin, 20 Juni 2016

Tanjung Bara Yang Kian Membara

 Tanjung Bara: Sunset +fotojelajahsuwanto+
Pertama kali Jelajah Suwanto menjejakkan kaki di Tanjung Bira, air laut sedang surut sesurut-surutnya. Ceruk-ceruk di tepian tebing karang yang biasanya terendam air, kini nampak ke permukaan. Berupa karang-karang yang licin dan basah. 
Kami mengobrol dengan keluarga Bu Bahri yang  membuka warung di pinggir Pantai Bira. Katanya di ujung barat tanjung ini, masih ada sebuah pantai yang indah.

Sebenarnya bisa menyusuri pantai ini kalau sedang surut, tapi orang biasanya pilih lewat atas (jalan darat di atas pantai Bira)”. 

Pada dasarnya, semangat menjelajah itu memang melekat pada keluarga Suwanto. Dari Tanjung Bira, kami nekat menyusur pinggir pantai, melewati pasir lembut, menyisir tepian tebing karang, juga berkecipak di air laut. Sekitar 45 menit kemudian kami berlabuh di sebuah pantai berpasir lembut seperti Bira. Pantai ini bernama Tanjung Bara, atau lebih dikenal dengan Pantai Bara.
 

Tanjung Bara: laksana private beach +fotojelajahsuwanto+
Pantai Bara kala itu masih sepi laksana private beach milik bule-bule mancanegara. Kami yang lokal, merasa terasing di Taman Eden milik sendiri. 
Saat itu kami hanya bertemu, sesekali melempar senyum pada Tante dan Om bule yang cukup banyak. Mereka sedang menikmati kelembutan Pantai Bara dengan caranya masing-masing. Om Tante bule ini bebas sekali berjemur, bahkan tak malu joging di sepanjang Bara dengan bikini Two Pieces

Bule biasanya lebih suka di Bara, mereka juga tahu malu, tak mau jadi tontonan orang lokal” terngiang perkataan Pak Bahri, suami bu Bahri yang juga pengemudi boat dan pembuat perahu. 
Benar adanya memang. Mungkin mereka merasa aman dan nyaman di pantai Bara ini. Saya saja sempat menutup mata si Mas karena ada Om Tante bule yang lagi berciuman panas di pinggir pantai. Tapi, tidak ada bule lain yang usil, walau ada juga yang melihat.

Tanjung Bara: Sanctuary +fotojelajahsuwanto+
Pantai Bara seperti sebuah sanctuary. Di Pantai yang tenang ini, kami menghabiskan sore mengantar Matahari ke peraduannya. Esok paginya, kami sudah tahu akan menghabiskan waktu di mana. Sebuah hidden paradise.
Kakak dan adik ini selalu berdua. Mereka sama-sama mencintai Pantai. Di Pantai Bara, mereka berimaji menatap ombak bulan Mei yang cukup besar. Hanya berdua, dijaga oleh ayah dan bundanya dari pinggiran pantai. Tak ada hiruk pikuk seperti di Bira, yang waktu itu penuh sesak pengunjung. Pantai Bara benar-benar seperti milik kami saja. Tapi itu dulu. Dulu sekali. Medio 2013. 


Tanjung Bara: Pencinta Pantai +fotojelajahsuwanto+
Coba tebak, ini tepung atau pasir? Yaa..ini pasir yang seperti tepung. Inilah Pasir Pantai Bara. Sepanjang tahun, pasirnya akan stabil seperti ini. Tidak seperti sebagian pasir pantai Bira, yang akan hilang tersapu gelombang di waktu-waktu tertentu.

Tanjung Bara: Pasir Tepung +fotojelajahsuwanto+
Meski Pasirnya selalu sama lembutnya, tetapi dalam waktu-waktu tertentu itu juga (saat itu September), Pantai Bara dipenuhi Ganggang laut. Namun tidak menganggu pemandangan sama sekali. 

Tanjung Bara: Gangang Laut +fotojelajahsuwanto+
Sebagai bonusnya, burung-burung laut, sejenis camar, datang beterbangan ke pantai. Mereka mematuk-matuk di area ganggang. Ada juga yang berkecipak di air dangkal. Mungkin mencari ikan kecil yang terperangkap. Takjub saya pada karya Tuhan di wilayah pesisir ini.

Tanjung Bara: Burung Laut +fotojelajahsuwanto+

Tanjung Bara berada di sebelah barat Tanjung Bira. Untuk mencapai lokasi ini, cukup membayar satu tiket di loket masuk objek wisata pantai Bira.
Tak jauh dari pintu masuk, di arah kanan, ada sebuah jalan kecil yang sudah beraspal mulus. Lewati jalan tersebut, ikuti petunjuk yang disediakan. Butuh waktu sekitar 10-15 menit berkendara untuk mencapai Pantai Bara. Bila kita sudah masuk ke jalan berkerikil, siap-siap, Pantai Bara sudah tak jauh lagi. 

Bara Beach Bungalow adalah tanda bahwa kita memang di jalan yang benar. Tepat, disampingnya sebuah jalan kecil menurun, langsung menuju pantai. Mobil dan motor dapat di parkir di rumah tua yang dijaga seorang ibu dan anaknya. Rumah itu berbatasan langsung dengan hutan lindung. Kami pernah bertemu babi hutan dan monyet di depan parkiran.
 
Tanjung Bara: sunshine  +fotojelajahsuwanto+

Ini adalah pagi terbaik di Pantai Bara. Pukul 05.00 WITA kami menyusur tepian pantai menyongsong sang fajar. Laut masih tenang. 
Pantainya yang landai menantang kita untuk berlari-lari. Siluet hitam di ujung timur adalah pesisir Tanjung Bira.
 
Tanjung Bara: ujung barat hutan lindung +fotojelajahsuwanto+

Sementara itu, ujung barat nun di sana adalah hutan lindung milik negara. Jika cukup nekat, dari karang di ujung Bara sana, kita dapat menyaksikan terbenamnya matahari yang spektakuler. Saya pernah menyaksikannya, sendirian. Anak-anak dan ayahnya sedang asyik bermain air waktu itu. Saya hanya dapat mengabadikannya dalam ingatan. Sebuah me time yang marvelous.
 
Tanjung Bara: Cadas karang +fotojelajahsuwanto+

Tepian Pantai Bara adalah cadas-cadas karang. Pepohonan khas tropis tumbuh subur di sini. Entah siapa yang pertama kali menemukan Tanjung Bara ini, yang jelas hampir semua penginapan di pinggir Bara dimiliki oleh warga negara asing. Di situ saya merasa sedih.
Bangunan bercorak bungalow menghias sepanjang tepian pantai. Harganya di atas rata-rata penginapan di Bira. Kisaran satu juta per malam.
 
Tanjung Bara: Penginapan view pantai +fotojelajahsuwanto+

Pantai Bara yang landai dirindangi nyiur-nyiur. Cocok sekali untuk memasang hammock
Me time ayah di Pantai Bara termasuk salah satu yang sempurna. Bagaimana tidak, berayun-ayun di atas hammock sambil membaca buku favorit? Serasa dunia hanya miliknya. 
Ah, kalau pak suami bahagia, pastinya saya juga. Bahagia untuk kebahagiannya. 
Tanjung Bara: me time yang sempurna +fotojelajahsuwanto+
Dari Pantai Bara, kita juga dapat melihat Pulau Liukang Loe dan Pulau Selayar di kejauhan. Bagi yang ingin menyeberang ke Pulau Liukang Loe, tersedia Perahu atau boat untuk disewakan. Harga perahu bisa tawar menawar dengan pemiliknya. Di sini terdapat juga tempat penyewaan peralatan diving milik warna negara asing berikut pemandunya. 
 
Tanjung Bara: Liukang loe dan selayar terlihat dari Bara +fotojelajahsuwanto+

O ya, ombak di Pantai Bara terasa lebih lepas, tak setenang bira.  Mungkin karena perairan Bara lebih terbuka. Berbatasan dengan Laut Flores. Jadi, tetap harus waspada dan berhati-hati, apalagi membawa anak kecil. Ekstra caring, wajib hukumnya.
 
Tanjung Bara: Ombaknya cukup besar +fotojelajahsuwanto+

Setahun, dua tahun, tiga tahun kemudian, Pantai Bara menjadi lebih bising. Keindahan Pantai Bara tersebar dari mulut ke mulut. September 2015, kami menginap di Bara Beach Bungalow. Dan kali ini takjub dengan hiruk pikuk di Pantai Bara. Rasanya, Bara bukan lagi sanctuary, ramai sekali. Wisatawan lokal mendominasi pantai. Ada yang bertenda, ada yang bermain bola, memetik gitar dan menyanyi dengan kerasnya. Ada pula yang sedang foto prewedding. Tak terlihat bule yang sedang jogging atau berjemur. Hanya satu dua yang bersiap-siap untuk diving.
 
Tanjung Bara: perlu pengaturan yang tertata +fotojelajahsuwanto+
Warung – warung kecil mulai berdiri di tepi pantai. Sesungguhnya sah-sah saja mencari nafkah. Namun, menurut saya, jika ingin Pantai Bara semakin mendunia, hendaknya pemerintah mulai turun tangan. Diperlukan pengaturan yang mumpuni dan ramah lingkungan. Sebelum menjamur, dan tak dapat dikendalikan. 
Tempat parkir, Kamar mandi adalah hal utama yang harus segera dibangun dengan baik.

Tanjung Bara:Leyeh-leyeh +fotojelajahsuwanto+
Sorry to say, menurut saya, perbedaan terbesar antara wisatawan lokal dan Mancanegara ada dalam hal tepo seliro, tenggang rasa. 
Wisatawan mancanegara lebih tahu menghargai ketenangan dan privasi. Tidak ada kegaduhan dan euphoria berlebihan. 

Kejadian ajaib di Pantai Bara setahun lalu. Kami sudah menggelar alas dan menyiapkan kursi di pinggir pantai. Jika anak-anak lelah bermain, mereka bisa leyeh-leyeh. Dari tempat itu, saya leluasa memantau anak-anak, sambil menjaga barang-barang bawaan. Kali ini tak dapat ditinggalkan karena pantai ramai, memang sedang long weekend. Tiba-tiba saja, serombongan pengunjung tak tahu adat, menggelar tikar. Tepat di depan saya, kurang dari satu meter. Tanpa permisi, tanpa basa basi. Padahal samping kiri kanan saya masih lowong. Cuma spot yang saya pilih lebih teduh. Mereka menghidangkan makan siang seperti untuk orang sekampung. Belum lagi mengobrol, cekakak cekikik persis toa rusak. Duuh, luar biasa. Saya tahu, pantai itu milik seluruh umat, tetapi saya juga tahu untuk menghargai orang lain. Eheemm.. jadi curcol kan. Maaf yaa. 

Semoga, kita juga bisa menjadi wisatawan yang tak hanya bisa menikmati alam, tapi lebih dari itu, dapat menghargai sesama. 

Tanjung Bara: My Trip My Adventure yeaa +fotojelajahsuwanto+
Setiap tahun, bisa sekali dua kali kami mengunjungi Pantai Bara. Saya merasakan perbedaan yang cukup signifikan. Rasanya, wisatawan mancanegara menjadi lebih pemalu, jumlah mereka kalah banyak oleh wisatawan lokal. 

Tanjung Bara itu gaungnya sudah tingkat internasional. bisa-bisa para wisatawan mancanegara berpindah ke lain hati jika Pantai Bara tidak segera berbenah.
 
Tanjung Bara: keluarga suwanto +fotojelajahsuwanto+
Dari Jelajah Tanjung Bara, Keluarga Suwanto berharap Pesona Bara semakin Membara. 

Bagi semua kalangan tak terkecuali. Mari saling menghormati. Karena alam pun tak pernah lelah menjaga kita umat manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar