Minggu, 20 November 2016

Kete Kesu: Desa Adat yang Mistis

Kete Kesu Tana Toraja: Persiapan Toraja International Festival  +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja: Persiapan Toraja International Festival  +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu sedang hiruk pikuk ketika Keluarga Suwanto datang. Nanti malam akan digelar Toraja International Festival. Panitia berpacu dengan waktu mempersiapkan panggung bernuansa etnik. Sementara Wisatawan mancanegara dan domestik berbaur di desa adat ini. Penuh dan ramai. Masing-masing tak mau kelewatan mengabadikan deretan Tongkonan di kompleks Kete Kesu.

Berpose di tongkonan Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja; Adek kecik berpose di Tongkonan  +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu hanya sekitar 15-20 menit dari Rante Karassik. Secara Administratif Kete Kesu berlokasi di Bonoran, Tikunna Malenong, Sanggalangi, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan.
Keluarga Suwanto mengikuti petunjuk jalan, seperti diarahkan Pak tua yang kami temui di Rante Karassik.
Inilah jelajah ala kami, terbuka kepada semesta. Niscaya ada banyak kebaikan tak terduga yang membuat hidup terasa kaya.


situs desa adat Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja : Situs desa adat +Fotojelajahsuwanto
Pedesaan Toraja tengah menghijau. Segar dan Damai. Dari jauh tergambar sebuah situs yang dominan unik. Deretan Tongkonan kontras di hijaunya alam.
Pikiran saya mengembara ke sebuah novel James Redfield, The Celestine Prophecy. Membayangkan itulah Shambala  #Halaaah . .
 

deretan tongkonan di Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja: Deretan Tongkonan  +Fotojelajahsuwanto

Kete Kesu adalah salah satu ikon wisata Toraja Utara. Kawasan ini menawarkan keunikan sebagai desa adat yang berusia ratusan tahun.
Wisatawan dapat melihat satu kompleks Tongkonan atau rumah adat Toraja, 
tanah seremonial yang ditanami menhir
museum koleksi benda adat dan pusaka, 
serta kompleks purbakala pemakaman dan kubur batu di tebing gua

Selain itu apabila pas waktu kunjungnya, kita dapat beruntung menyaksikan ritual acara adat masyarakat Toraja. 

Di Kete Kesu sering diselenggarakan upacara adat rambu solok dan ritual adat lainnya.  

Souvenir khas Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja: Menjual Souvenir khas +Fotojelajahsuwanto
Fasilitas bagi pengunjung di kawasan wisata ini cukup lengkap. Tempat parkir walaupun pada saat kami datang terasa sempit (karena banyaknya pengunjung), cukup baik dikelola oleh warga. Tersedia sederet toilet umum, letaknya sebelum loket tiket masuk kawasan wisata. Tempat sampah juga ada di sepanjang jalan dan di dalam kompleks desa, jadi tidak perlu alasan buang sampah sembarangan ya.
Warga juga membuka warung-warung souvenir. Pengungjung dapat membeli cindera mata seperti: aksesoris khas Toraja, manik-manik, kaos, kain tenun Toraja, lukisan, pahatan dan sejenisnya .

Tiket masuk kawasan Kete Kese per orangnya cukup murah, kala itu hanya Rp.5.000,-
Desa adat Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Desa adat +Fotojelajahsuwanto

Memasuki kompleks Kete Kesu, kami terpukau oleh bangunan rumah adat Toraja ini. Yang tadinya cuma lihat di gambar, kini nyata di depan mata. 

Bangunan rumah yang atapnya melengkung ini tak menampakkan keuzuran ratusan tahun lalu. Ia masih gagah dan kokoh. 

Lumut yang tebal di atap bambu bisa jadi adalah saksi hidup perjalanan waktu sang tongkonan.

Terdapat 6 Tongkonan dan 12 Alang Sura atau lumbung padi yang saling berhadap-hadapan.
Tongkonan sendiri adalah rumah tradisional Toraja yang terbuat dari kayu. Atapnya melengkung serupa perahu, terjalin dari susunan bambu.
Tongkonan berasal dari bahasa Toraja (Kete’Kesu): “Tongkon” yang berarti duduk bersama. 


Tongkonan ini awalnya dibangun oleh Puang Ri Kesu, kemudian diwariskan turun temurun kepada sanak familinya.
Hebatnya Tongkonan ini masih terawat dan terjaga kelestariannya. Sebuah penghargaan yang tak terhingga.

Kayu uru untuk tongkonan Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Kayu Uru untuk tongkonan +Fotojelajahsuwanto
Kayu yang menjadi bahan dasar tongkonan ini eksotis menurut saya. Warna abu-abu tuanya melambangkan kekuatan.
Kata ibu penjual souvenir, kayu ini bernama Kayu Uru. Banyak ditemui di hutan sekitar. Memang merupakan kayu lokal Sulawesi. 

Kualitasnya tentu saja sudah teruji dengan sangat baik. Bayangkan kayu ini sudah melewati masa ratusan tahun. Katanya tongkonan yang tertua lebih dari 300 tahun. 

Ornamen kepala kerbau dan status sosial Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Ornamen kepala kerbau dan status sosial +Fotojelajahsuwanto

Tongkonan yang khas dan megah ini seakan memiliki ruh. Bentuk, arah, ornamen dan segala aspeknya dibuat dengan matang. Saya percaya, pasti sarat dengan makna filosofis.

Sekilas ornamen dan motif setiap tongkonan seakan sama. Saya tidak tahu pasti yang sesungguhnya. 
Tapi ibu penjual souvenir bilang, motif-motif tersebut selalu dilukis memakai empat warna dasar.  Putih, merah, hitam dan kuning. Keempat warna yang ternyata berasal dari tanah liat ini tidak sembarangan. Mereka mempunyai arti khusus. 
Kalau saya tak salah ingat, putih melambangkan kesucian, merah: kehidupan manusia, hitam: kematian dan kuning melambangkan anugerah kekuasaan Tuhan (Puang Matua).


Kerbau menjadi lambang status sosial Toraja; Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Kerbau penanda status sosial +Fotojelajahsuwanto
Di depan Tongkonan tersusun vertikal tanduk kerbau. Kerbau tidak bisa dipisahkan dari adat masyarakat Toraja. Tanduk kerbau merupakan lambang status sosial bagi mereka. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau di muka tongkonan, semakin tinggi status sosial tuan rumah. Harga Kerbau di Toraja sangat mahal bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah per ekornya.

Seorang lelaki separuh baya, baru saja membuka pintu tongkonan. Salah satu tongkonan di Kete Kesu telah dialihfungsikan menjadi museum.

Berhubung di luar masih riuh dengan wisatawan yang berfoto, tepat bagi kami melipir masuk Museum. Masih sepi. Puas mengamati setiap koleksinya.


Jangan ambil benda keramat Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel: Jangan ambil benda keramat +Fotojelajahsuwanto
Jangan coba-coba mengambil benda keramat dari situs ini, atau apapun dari Tana Toraja.

Karena tak tahan, setiap saat dibayangin mimpi buruk, wisatawan dari Manchester ini terpaksa mengembalikan hasil colongannya. Begitu kata bapak kurator museum Kete Kesu, saat menjelaskan koleksi yang dipamerkan. Ihh, horor.


Koleksi Museum Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Koleksi museum +Fotojelajahsuwanto

Museum Kete Kesu menyimpan koleksi pusaka dan keramat yang terbilang lengkap. Benda-benda pusaka disimpan dalam lemari kaca dengan pencahayaan yang temaram. Semua koleksi dipajang di dua lantai bangunan tongkonan.
Senjata, keris bersepuh emas dan Bendera Merah Putih yang konon pertama kali dikibarkan di Tana Toraja tersimpan baik di sana.


Saya kagum dengan kehidupan Masyarakat Toraja, sejak dahulu mereka sudah mempunyai ciri khas dan ketelitian seorang ahli. 

Koleksi aksesorisnya mudah dikenali karena warnanya yang khas. Ukiran dan hasil pahatan cantik dan rapi. Peralatan rumah tangga mereka juga yang terbuat dari besi, kayu dan tembikar, begitu halus hasilnya.

Lukisan dan Patung Tau-Tau di Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel: Lukisan dan patung tau-tau +Fotojelajahsuwanto

Koleksi museum ini sebagian besar adalah milik sesepuh setempat yang dihormati, Indo’ Ta’dung. Beliau adalah kolektor dan pedagang barang antik. Tak heran jika ada keramik dan kain dari Cina menjadi bagian dari koleksi. Pula terdapat berbagai pecahan mata uang yang digunakan kala itu.

Selain itu koleksi museum juga mendapat sumbangan dari kerabat keluarga lainnya.

Kira-kira 15 menit berlalu, orang-orang mulai menyerbu Museum. Terasa gaduh dan sumpek. Gantian deh.
 
Keluarga Suwanto  kemudian mampir ke bengkel pahat dan ukiran di sebelah Museum.
Di sini saya mengobrol dengan ibu pemiliknya. Ukiran dan pahatan di warung ini dibuat pribadi oleh putranya. Ibu ini ramah, sabar menghadapi kebawelan saya.

Kami diberitahu ada situs purbakala tempat pemakaman persis di belakang Kete Kesu.
Maka ayolah kita melihatnya.

Makam warga di gua batu Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; gua batu makam warga +Fotojelajahsuwanto

Gua batu kapur ini diperkirakan berusia lebih dari 500 tahun. Peti mati atau erong dalam bahasa setempat dipahat mirip sampan. Diletakan tergantung di tebing mulut gua batu.

kubur batu di Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Kubur Batu +Fotojelajahsuwanto
Sampai di atas gua, peti, tengkorak, tulang-tulang dan sesajen berserak di dalam kubur batu. Saya sih berasa mistis yaa..
Saya lihat ada juga kipas angin, kursi, buku, rokok.
Katanya itu adalah barang - barang yang dulunya digunakan almarhum semasa hidup.
Jangan coba-coba ambil apapun dari sana, ingat cerita bapak pengelola museum tadi. 


Menjelajah bersama anak di Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto


Dalam hati saya berdoa terus. Soalnya bawa anak kecil. Doanya sih biar dia gak minta gendong. Hehe. Gak ding.

Adek kecik ini cukup tangguh koq, semangatnya manjat ke gua batu luar biasa. Turunnya saja yang sempat mogok sedikit. Sudah resiko bundanya untuk membopong si kecik sejenak.
 
Patene di Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; Patene, makam khas toraja +Fotojelajahsuwanto


Sebelum mendaki gua batu, kami melewati bangunan ini. Tempat ini adalah Patene atau makam modern yang berbentuk rumah. Di dalam tempat ini bisa tersimpan banyak peti.  Ada juga tau-tau atau patung yang digunakan untuk upacara pemakaman adat toraja. Tau-tau dikunci di dalam ruangan khusus, berjaga-jaga dari tangan usil yang ingin mencurinya.

Menghirup udara segar Kete Kesu Tana Toraja Sulsel +Fotojelajahsuwanto
Kete Kesu Tana Toraja Sulsel; menghirup udara segar +Fotojelajahsuwanto
Hari semakin siang, tetapi tidak terik di sini. Udara pegunungan bulan desember menyegarkan jiwa. 
Keluarga Suwanto cukup puas menjelajahi Kete Kesu. Situs Shambala khayalan bunda.

1 komentar:

  1. berani banget ya yang ngambil benda-benda keramat disana, alhasil mereka kembalikan lagi, horor juga ya..

    BalasHapus