Sabtu, 06 April 2019

Kawah Putih, Misterius dan Membius

Kawah Putih @jelajahsuwanto


Hari itu selepas lohor, setelah beberapa kelokan dan tanjakan, Keluarga Suwanto akhirnya tiba di Kawah Putih. Meski, pituin Urang Sunda, baru kali ini saya sowan ke Kawah Putih. Takjub.
Ketika sekumpulan putih berbaur hijau, terciptalah pendar rona indah. Sekilas memang dominan putih. Mungkin demikianlah danau di ketinggian 2.194 mdpl ini dikenal sebagai Kawah Putih yang tersohor.

“Bunda, ini bau apa?” adek kecik bertanya ketika samar-samar angin membawa aroma khas belerang. Kawah Putih atau White Crater dalam Bahasa Inggris merupakan satu dari dua kawah Gunung Patuha. Jika Kawah Putih lebih beken di kalangan wisatawan, maka Kawah Saat (Sunda: Surut, Susut, Kering) di sisi barat gunung, kondang bagi para pendaki. Kawah Saat terbentuk dari letusan pertama Gunung Patuha pada abad ke-10. Kemudian setelah tidur panjangnya, pada abad ke-13 Gunung Patuha kembali mengukir sejarah melahirkan Kawah Putih yang adiwarna.

Tebing Kapur Kawah Putih @jelajahsuwanto

Bebatuan putih & hutan Cantigi di Kawah Putih @jelajahsuwanto


Mencapai Kawah Putih
Tak sulit mencapai Kawah Putih. Dari jalur keluar Tol Buah Batu kami mengikuti rute yang diarahkan Google Maps. Jarak tempuh menuju lokasi di Jl. Raya Ciwidey-Rancabali, Panundaan, Pasirjambu, Bandung, Jawa Barat 40973 sekitar 50 kilometer. Ancer-ancernya bisa dilihat di sini:




Price List Wana Wisata Kawah Putih
Diceritakan ada saja pungutan liar dari oknum tak bertanggungjawab di Kawah Putih, ketika kami datang nyatanya tidak! Jadi jangan ragu untuk berwisata.
Ketika Google Maps bersuara: “You have arrived at your destination,” kami langsung masuk ke tempat parkir besar. Petugas yang membantu parkir mengarahkan kami agar menjuju loket resmi. Adapun harga tiket masuk kawasan wisata kawah putih per 1 Maret 2019 telah mengalami penyesuaian, seperti foto berikut:
 
Penyesuaian tarif masuk Kawah Putih per 1 Maret 2019 @jelajahsuwanto

Ternyata, dari lokasi parkir besar ini, pengunjung masih harus menempuh perjalanan sekitar 5km ke puncak. Kalau niatnya untuk hiking dan mendaki, jarak segitu tinggal jalan saja. Namun bagi pengunjung yang ingin cepat dan aman, jangan khawatir, pengelola memberikan beberapa alternatif. Pertama, pengunjung bisa menggunakan Ontang-anting, semacam kendaraan terbuka kapasitas 12 orang. Harga tiket per orang saat ini @Rp.18 ribu. Sayangnya Ontang-anting ini akan jalan bila penumpangnya sudah terisi penuh. Take time untuk menunggu.

Kedua, pengunjung boleh langsung membawa mobilnya parkir di atas, dekat dengan pusat kawah. Opsi kedua ini dikenakan tarif jasa lingkungan, yang lumayan besar @Rp.150 ribu. Hanya kendaraan roda 4 yang boleh masuk ke area ini. Pengelola beralasan, selain area parkir yang terbatas, juga agar tidak terlalu banyak kendaraan yang naik untuk meminimalisir polusi.

Area parkir atas dekat puncak Kawah Putih @jelajahsuwanto

Tadinya Keluarga Suwanto ingin sekali ikut merasakan sensasi ontang-anting. Kami membeli tiket untuk 4 orang. Sayang, pengunjung lain tak jua datang. Baru ada sepasang kekasih (dilihat dari gelagatnya) yang lebih dulu mengantri. Mengingat waktu telah menunjuk ke angka 1, terpaksa kami mengembalikan tiket ontang-anting dan menggantinya dengan jasa tarif lingkungan. Sebenarnya ingin mengajak 2 orang yang juga kelihatan gelisah itu, tapi urung karena supirnya lebih gusar melihat kami batal naik. Perlu dicatat jam operasional Kawah Putih mulai Pk.07.00 – Pk.17.00 WIB. Sebaiknya datang lebih pagi agar bisa mengeksplor kawasan wisata ini.


Ada Apa di Kawah Putih?

Peta situasi area Kawah Putih @jelajahsuwanto

Sejak 1987, Pemerintah setempat dibawah Perum Perhutani KBM Ecotourism mulai mengembangkan area Gunung Patuha, atau Kawah Putih pada khususnya. Fasilitas-fasilitas pendukung dibangun untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Area parkir di dua titik, mushola, toilet, warung-warung, gazebo, area plaza dan shelter untuk lansia disediakan dengan memadai. Ada pula menara pandang dan pusat informasi.

Catatan kecil, masuk ke toilet harus membayar untuk kebersihan @Rp.2 ribu. Semestinya fasilitas seperti ini dibuat free, include tiket masuk. #justsaying

Danau Kawah Putih letaknya sekitar 100 meter dari pusat informasi. Jalan menuju kawah telah dipaving berundak-undak, sangat nyaman bagi pengunjung. Apalagi jalan ini membelah wana wisata yang dipenuhi Cantigi Hutan. Angin mengirimkan semilir pegunungan. Sejuk dan lembab. Temperatur di puncak berkisar antara 8-22 derajat celcius.

Pintu gerbang menuju pusat Kawah Putih @jelajahsuwanto

Undak-undakan menurun menuju pusat Kawah Putih @jelajahsuwanto


Mengikuti zaman kekinian, pengelola juga giat memperbaiki sarana dan prasarana, diantaranya membuka wahana Dermaga Ponton, Sky Walk Cantigi dan Jalur Treking View Deck Sunan Ibu. Kawah Putih melayani sebagai tempat foto pre wedding, shooting film maupun video clip.

Dermaga Ponton adalah jembatan kayu terapung yang akan membawamu sepanjang 50 meter ke tengah danau. Wahana ini menjadi favorit pemburu swa foto ataupun foto pre wedding. Untuk mengabadikan diri di Dermaga Ponton, dikenakan biaya tambahan yang dibayarkan pada petugas yang berjaga, on the spot.
Menangkap peluang dari para pencinta foto, para fotografer polaroid menawarkan keahliannya di sekitaran wahana ini. Foto yang dibuat bisa langsung cetak.

Sementara itu, bagi sunset & sunrise hunter, Tebing Sunan Ibu katanya bisa menjadi pilihan tepat. Suatu hari Keluarga Suwanto akan menjelajahinya.

Dermaga Ponton Kawah Putih sebagai latar belakang @jelajahsuwanto

 Tebing Sunan Ibu Kawah Putih @jelajahsuwanto
Sejarah
Bersyukur atas kegigihan seorang Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman (lalu Belanda) yang tak menyerah pada mitos. Sejak letusan dashyatnya, Gunung Patuha mendapat stigma seram dari penduduk setempat. Bukan tanpa alasan, penduduk memperhatikan burung yang terbang melintas di atas kawasan tersebut akan mati. Tak ingin berakhir naas seperti burung-burung itu, tak satu pun penduduk berani mendekat. Mistis.

Atas nama ilmu pengetahuan, pada 1837 Dr. Junghuhn berhasil mencapai puncak, mematahkan keangkeran Gunung Patuha. Di sanalah, dikelilingi tebing terjal dan rimbunnya Cantigi, sebuah danau menghamparkan keelokan misterius. Warnanya biru kehijauan menghembuskan bau pekat belerang. Terjawab sudah, mengapa burung-burung itu tak selamat. Kandungan belerangnya sangat tinggi.

Zat sulfur berserak di pinggir Kawah Putih @jelajahsuwanto
Pemerintah Kolonial Belanda merayakan penemuan besar Dr. Junghuhn dengan membangun tambang belerang. Didirikanlah Pabrik Zwavel Ontgining Kawah Putih. Tak hanya cantik, Kawah Putih memakmurkan pundi-pundi kompeni. Bahkan Jepun setelah mengambil alih kekuasaan pun menikmati hasil dari tambang ini. Mereka menyematkan nama Kenzanka Yokoya Ciwidey.
Saat ini pabrik sudah tidak beroperasi. Gua yang dahulunya menjadi pusat semburan belerang telah dipasangi papan larangan. “Jangan terlalu lama di dekat gua!”

Gua bekas semburan belerang Kawah Putih @jelajahsuwanto
 
Cahaya langit menyinari Kawah Putih @jelajahsuwanto

Legenda
Di pinggir danau, tertinggal zat sulfur berwarna kekuningan. Sekali-kali bau serupa kentut terbawa angin. Pohon-pohon meranggas tanpa daun. Hawa dingin menusuk. Kabut dan cahaya langit meremang sakral, membangun aura misterius yang dalam. Para tetua setempat menggangap Gunung Patuha sebagai gunung suci. Legenda mengatakan di Gunung Sepuh ini berhimpun para leluhur yang menjaga Kawah Putih. Eyang Jagasatru, Eyang Ngabay, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong. Perusakan dan pelanggaran yang bersifat pamali atau tabu dipercaya akan menampakkan sosok domba lukutan sebagai jelmaan roh leluhur.

Maka, sebagai pengunjung bersikaplah arif. Menjaga kebersihan dan keasrian Kawah Putih selayaknya menjadi tugas kita bersama. Kelak betapa bahagianya bila generasi penerus dapat juga menyaksikan dan menikmati pesona Kawah Putih.

Pohon mati di Kawah Putih @jelajahsuwanto

Pepohonan meranggas di Kawah Putih @jelajahsuwanto
Cantigi Hutan
Pucuk-pucuk merah Cantigi terasa kontras disinari mentari. Di Kawah Putih inilah pertama kalinya kami mengenal Cantigi. Pohonnya besar, daunnya lebat dan rindang. Hutan begitu menawan dipenuhi pucuk-pucuknya yang merekah.

Secara alami, flora Indonesia dengan nama latin Vaccinium Varingifolium ini merupakan vegetasi pegunungan tinggi. Cantigi mampu bertahan dari asap belerang dan tanah kawah yang beracun. Akarnya kuat hingga dapat dijadikan pegangan bagi para pendaki. Buah dan pucuk kerabat cranberry ini dapat pula dikonsumsi. Selain itu ragam manfaat bagi kesehatan dan kecantikan ditemukan dalam Cantigi. Diantaranya, sebagai: anti radang, penurun demam, analgestic, obat bengkak & luka bakar, mengatasi keriput dan membuat awet muda, dll.
Kini kami paham, mengapa di area kawah banyak orang lokal menjajakan potongan-potongan Cantigi kering.

Rona merah pucuk Cantigi di Kawah Putih @jelajahsuwanto

Bergaya di wana wisata Kawah Putih @jelajahsuwanto

Putat
Selain Cantigi di Kawah Putih terdapat juga Putat atau Barringtonia Spicata BI. Dari papan informasi yang ditempel di bawah pohon, kami baru tahu kalau Putat memiliki sifat anti kanker yang telah teruji secara ilmiah. Pucuk putat dapat dijadikan lalapan, buahnya bisa dibikin jus minuman atau diparut untuk cream wajah. Rebusan akar Putat dapat diminum untuk menghentikan keputihan dan pendarahan. Akarnya mengandung saponin yang memberi efek sejuk jika dipakai untuk air mandi. Kulit batangnya dapat mengurangi komplikasi darah kotor. Wow, multi guna.

Salah satu oleh-oleh dari perjalanan adalah mendapat informasi serupa ini. Menambah sedikit pengetahuan yang mana tahu dapat berguna bagi mereka yang membutuhkan.

Putat mengobati kanker, informasi di Kawah Putih @jelajahsuwanto
Membawa mobil hingga ke area parkir atas adalah keputusan tepat. Karena seperti halnya naik, turun gunung pun, pengunjung harus sabar mengantri Ontang-anting.
Membawa anak-anak dalam perjalanan harus selalu siap dan fleksibel. Termasuk ketika mereka ingin berhenti, makan yang hangat-hangat berkuah. Pilihan jatuh pada abang Cuanki di area parkir bawah. Meski rasanya so-so, cukuplah mengobati penasaran. Strawberi gendut merah ranum, cheese stick dari pewarna alami buah bit, bayam dan original, serta mochi khas Ciwidey menjadi oleh-oleh kami selain cerita dan foto hari itu.

Keluarga Suwanto di Kawah Putih @jelajahsuwanto

Secara keseluruhan Kawah Putih sungguh memesona. Alamnya elok, fasilitas memadai,  tempatnya pun mudah dijangkau. Yuk, turut serta melestarikannya.



Mari lestarikan lingkungan; Kawah Putih @jelajahsuwanto
Sumber Referensi:
1.    Wikipedia/Gunung Patuha
2.    Situs resmi Objek Wisata Kawah Putih: kawahputihciwidey.com  
3.    Papan informasi yang disediakan pengelola Kawah Putih


Sejarah, Legenda, Flora & Fauna di Kawah Putih @jelajahsuwanto

Manfaat Cantigi; Kawah Putih @jelajahsuwanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar