Minggu, 14 April 2019

Wisata Konservasi Mangrove Jakarta

TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Dua minggu tinggal di Metropolitan, gelagat istri dan anak-anak Pak Suwanto sudah terbaca ganjil. Sepertinya mereka rindu rimbun-rimbun hijau. Beruntung Pak Suwanto cepat tanggap. Sepulang misa di  Stella Maris, Keluarga Suwanto berkunjung ke tempat tak biasa di utara Jakarta. Bukan gedung pencakar langit, mal raksasa atau hutan beton, tapi hutan mangrove. Tepatnya Taman Wisata Alam Mangrove Angke yang berlokasi di Pantai Indah Kapuk, Jl. Garden House, Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara.


Taman Wisata Alam (TWA) Mangrove Angke mudah dijangkau karena dekat dengan akses Tol Dalam Kota maupun Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR). Selain itu dilewati transportasi umum seperti TransJakarta. Patokan lokasi menggunakan Google Maps, sebagai berikut:



Menemukan pemandangan hijau di hiruk pikuknya Ibukota, lumayan mengembalikan kewarasan, hehe. Bagi kami orang gunung, Jakarta terasa pengap, tapi begitu memasuki TWA Mangrove Angke kerindangannya membuat gandrung. Bakau, Dadap, Ki Hujan, Waru Laut, juga Flamboyan rukun membentuk eksositem mangrove. Ya, taman ini memang tempat konservasi tanaman mangrove yang dikembangkan pula untuk pariwisata alam.

TWA Mangrove termasuk satu dari tiga area dalam kawasan Hutan Angke yang memiliki luas 99,82 hektare. Area lainnya adalah Suaka Margasatwa Muara Angke (tidak dibuka untuk umum) dan Hutan Mangrove yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. TWA Mangrove sendiri dikelola oleh PT. Murindra Karya Lestari sejak 1997.

Atraksi Wisata di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Di loket saya membayar biaya masuk dewasa @Rp.30 ribu dan Rp.10 ribu untuk Adek Kecik. Pada hari kerja harga tiket lebih murah, sebesar Rp.25 ribu. Sementara itu wisatawan mancanegara dikenakan tarif lebih tinggi. Update biaya masuk bisa dilihat di situs resmi jakartamangrove.

Beres urusan pertiketan, petugas memeriksa tas bawaan. Tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar taman. Sebab kelangsungan kantin di dalam tentu ditentukan oleh jajannya para pengunjung. Selain itu kamera profesional tidak boleh dibawa masuk sembarangan. Ada aturan mainnya.

Hijau diantara belantara pencakar langit Jakarta - TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto
Burung besi melintas di atas TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Menurut kami, pengelola berhasil mempertahankan fungsi taman konservasi ini sebagai area hijau Jakarta. Pun mereka cukup jeli melihat peluang dan tren wisata kekinian. Kawasan TWA disulap agar nampak jelita dalam bidikan kamera. Baik untuk photoshoot maupun shooting film & videoklip. Seperti disinggung di atas mengenai aturan kamera, ada tambahan biaya untuk penggunaannya, sebagai berikut:
  • Kamera Pocket, Polaroid, GoPro dikenakan charge sebesar Rp.150 ribu per kamera.
  • Kamera  DSLR (Digital Single Lens Reflex) untuk keperluan pribadi sejumlah Rp.300 ribu per kamera.
  • Kamera  DSLR untuk: Photoshoot Event, PreWedding, Model, Buku Tahunan, dll bertarif Rp.1,5 juta per kamera.
  • Shooting videoclip Rp.4 juta per hari
  • Shooting sinetron & film Rp.5 juta per hari
  • Kamera handphone, Ipad dan Drone tidak dikenakan biaya.

Rasanya hari itu kami cukup mengabadikan momen pakai hape pintar saja. Pak Suami balik badan mengembalikan kamera DSLRnya. Minuman dan snack yang selalu siap sedia pun terpaksa harus menemani kamera di mobil. Sedikit kecewa sih karena nyatanya menu kantin belum siap. Sementara anak-anak yang masih bertumbuh ini tak kuasa melawan lapar.

Area Outbond TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Bermain bersama di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto
Syukurlah arena mancakrida atau lebih familiar dengan sebutan outbond mampu mengalihkan fokus anak-anak. Meski wahananya tak terlalu banyak, mereka riang bermain. Puas mencoba spider web serta burma bridge, anak-anak dan ayahnya berlomba ke menara pandang. Saya yang memakai rok merasa tak elok buat manjat-manjat.

Nah, biar tak salah kostum, baik jika tujuan jelajah disepakati bersama paling tidak malam sebelumnya. Meski kadang yang ndadakan model begini yang asik buat dikenang.

Warna-warni TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Sendiri di saung peristirahatan, saya melamunkan pemandangan senja dari atas menara. Saat cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat. Gerombolan burung pesisir lekas-lekas pulang ke hangatnya rumpun mangrove. It sound wonderful.
Lalu sadar ini siang bolong. Ketiga mahluk ribut telah kembali, merusak momen :)

Kami beranjak menyusuri jembatan kayu di tengah rawa. Belekok, Cekakak Sungai, bayi Biawak, Kecebong, dan Nyamuk menyapa di perjalanan. Keberadaan ekosistem hutan mangrove ini sangat berperan menjaga kelangsungan hidup lingkungan, utamanya pesisir.

Menyusuri jembatan bambu di rawa-rawa TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Berpose di jembatan bambu TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto


Jembatan kayu membelah rawa mangrove terbuat dari potongan bambu yang dijalin sempurna. Ada juga yang disusun dari kayu. Artistik, selaras dengan alam. Untuk menyusurinya lebih baik menggunakan alas kaki yang nyaman. Sepatu model keds lebih direkomendasikan.
Melihat jembatan bambu begini saja Adek Kecik gembira luar biasa. Ia lari ke sana, lari ke sini, lompat-lompat. Sungguh butuh pengawasan ekstra karena di beberapa titik ada bambu yang keropos, paku yang mencuat dan bersebelahan dengan rawa.

Berjalan santai mengelilingi TWA Mangrove mengundang banyak tanya dari anak-anak. Tentang hutan mangrove sebagai habitat dan rumah bagi berbagai jenis satwa. Tentang nama-nama pohon, binatang kecil, ikan gelosoh, serangga atau burung yang tak sengaja dijumpai. Tentang hutan mangrove yang memiliki peranan penting meredam gelombang, termasuk tsunami. Tentang bagaimana hutan mangrove mampu menyerap karbondioksida lebih banyak dari hutan tropis di dataran tinggi. Dan tentang banyak lainnya, Ayah Bunda punya stok cerewet dan sabar lebih banyak. Karena pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membuka pengetahuan mereka tentang betapa kayanya alam Indonesia. Percakapan sederhana yang pelan-pelan mengajak mereka untuk mencintai alam.

Penginapan di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Di suatu tempat diantara hutan bakau dan rawa-rawa hijau, deretan bangunan berbentuk tenda terbuat dari kayu dengan warna mahagoni yang eksotis. Bangunan panggung ini adalah pondok penginapan. Terlihat cantik diabadikan dalam jepretan kamera.

Tak terbayang ketika gelap memeluk hutan mangrove. Ah, tapi ini Jakarta, sangat modern dan gempita. Mungkin suara-suara binatang malam dan desau angin kalah saing oleh deru burung besi di langit taman.

Barangkali ada yang membutuhkan info untuk reservasi penginapan, dll dapat menghubungi pengelola melalui telephone (021) 2903 3066 / 55, WhatsApp  08777 888 6778 / 0819 3225 4370.

Salah satu wahana outbond di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Suatu siang di  TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Atraksi wisata lainnya yang ditawarkan TWA Mangrove Angke adalah wisata air, seperti: speed boat, perahu kano, perahu dayung dan sepeda air kodok. Kisaran harga sewa perahu Rp.100 ribu per waktu yang ditentukan. Sewa speed boat jauh lebih mahal mulai dari Rp.350 ribu tapi bisa untuk 6-8 orang.

Ada juga edukasi menanam mangrove. Pengunjung dapat berpartisipasi langsung dalam proses konservasi. Tarif untuk atraksi ini dibandrol Rp.150 ribu per bibit. Bila ditambahkan papan nama harganya menjadi Rp.500 ribu per paket.

Konservasi Mangrove, sumber kemerahan.id -  TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Dua belas tahun perjuangan untuk memulihkan kawasan ini sebagaimana mestinya perlu diapresiasi. Dahulu rawa-rawa yang terbengkalai dijadikan tambak ikan oleh para penggarap dan penambak liar. Pepohonan dan ekosistem mangrove jelas terusik. Berkat kegigihan berbagai pihak, kini TWA Mangrove Angke dapat dinikmati sebagai objek wisata tanpa menganggu ekosistemnya.

Secara umum fasilitas publik yang disediakan cukup merespon kebutuhan pengunjung. Parkir, kantin, toilet dan mushala tertata rapi. Saung-saung peristirahatan ada di beberapa lokasi. Disediakan juga jalur khusus sepeda mengelilingi kawasan ini. Taman Wisata Alam Mangrove Angke dibuka mulai pk.07.00 – Pk 18.00 WIB setiap hari. Silakan datang nikmati suasana hutan hijau di riuhnya metropolitan.

Ekosistem Mangrove di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Udara Jakarta masih belum bersahabat dengan kami. Panasnya terasa berbeda, ngelekeb kalau bahasa saya mah. Adek Kecik mulai tak betah karena keringat dan rasa pliket. Belum lagi 2 jam muter-muter bikin kami dehidrasi. Secara persediaan air tak boleh dibawa masuk, dan kantin letaknya di depan kawasan. Setelah puas mengaso di teras rumah panggung di tengah rawa, kami mencukupi jelajah tipis-tipis di Taman Wisata Alam Mangrove Angke.

Tetaplah hijau dan lestari. Terima kasih!

Bapak Ibu Suwanto di TWA Mangrove Angke @Jelajahsuwanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar