Jumat, 25 Januari 2019

Narablog: Istimewa Ketika Tulus & Bermanfaat



Bangga menjadi narablog

Pada Senja Itu

Pada suatu senja dengan rintik hujan, seorang ibu berputera dua duduk di depan cermin. “Aku harus menulis catatan perjalanan keluarga kecilku!”, ucapnya pada wajah bulat yang menatap lekat. 
Kelak anak-anakku dapat bertualang kembali ke masa kecil mereka. Tulisan itu adalah prasasti cinta Keluarga Suwanto. Kisah tentang jelajah dan limpah kasih sayang semesta.”
Demikianlah malam itu, pada medio 2015 di suatu senja dengan rintik hujan, jelajahsuwanto mulai direka.

Catatan perjalanan Keluarga Suwanto kurangkai di penggal lempengan maya. Wadah itu tertanam dalam sebuah blog gratisan, Blogpsot. Tak mengapa, bentuknya carut marut, aku hanya ingin menulis. Jelajahsuwanto cuma coretan seorang ibu untuk kedua puteranya. Coretan yang kadang kala berasal dari ingatan lampau yang diabadikan Pak suami lewat foto.  

Kutumpahkan saja, apa yang ingin kutulis. Pengalaman menarik, tidak menarik. Petualangan menegangkan maupun membosankan. Surga yang tersembunyi atau fasilitas tak memadai. Indah, buruk, suka, duka. Tak peduli baik dan benarnya kaidah penulisan.

Hamburan kata-kata tak beraturan itu hanyalah cerita hatiku, untuk kami, untuk Keluarga Suwanto. Keluarga akan tetap mafhum walau bahasaku amburadul. 

Meski bersifat pribadi, catatan itu ada di ruang publik. Mungkin yang berjodoh, dapat saja menemukannya.

Kini baru kutahu, di zaman era digital, kegiatan macam aku ini, bisa disebut sebagai narablog atau blogger. Dilansir dari laman Wikipedia, narablog sendiri adalah istilah untuk menyebut seseorang yang memiliki sebuah blog serta menyunting isinya secara berkala maupun tidak. Atau dalam bahasa Inggrisnya lebih dikenal sebagai blogger.

Momen istimewaku sebagai narablog, sederhana saja terjalinnya silaturami dan syukur-syukur memberi setitik manfaat bagi pembacanya

Terapi Jiwa
Sedikit banyak, dengan menulis atau berkegiatan sebagai narablog, aku menjadi lebih tenang. Bisa jadi, mengeluarkan isi hati lewat tulisan adalah terapi bagi jiwaku yang gersang. Ah ya, gersang… Sungguh, di masa itu, aku masih seorang ibu yang banyak labilnya. Dalam sekejap, aku larat berontak dirasuki ambisi tetap ingin bekerja. Namun, selincam pula, dapat kembali sadar pada fitrahku, menjadi sebaik-baiknya ibu sepenuh waktu, jiwa dan raga. Begitulah, tergantung kemana angin mood bertiup, suasana hatiku mudah terombang-ambing.

Anehnya, sejak lena dalam pintalan kata-kata, aku lebih tenang. Pekerjaan domestik ibu rumah tangga, keperluan anak-anak dan suami, aman. Centang perenang mainan si kecik, beranak pinaknya baju kering di keranjang setrika, lewat.
Aku tak lagi terlibat konser solo beroktaf-oktaf di dalam rumah. Senyumin aja, woless. Menulis meredam “panasnya” batin.

Momen Spesialku sebagai Narablog
Demikianlah aku punya kesibukan, mengisi luangku dengan menulis curhat cerita perjalanan kami di blog. Lalu, datanglah komentar itu. Jejak dari mereka yang rupanya membaca cerita kami. Katakan aku norak, hal ini yang kumaknai sebagai momen spesialku.

Seperti misalnya komentar dari anonim di jelajah Pantai Mandala Ria. “Terima kasih banyak untuk ulasannya mengenai Pantai Mandala Ria. Kebetulan foto rumah kayu yang di samping kapal Phinisi itu adalah milik keluarga suami. Kami akan senang bila Bapak dan Ibu sekeluarga mau singgah kembali ke pantai dan rumah kami”.

Atau komentar yang mencari informasi, berterima kasih atas inspirasi perjalanan, dan semacamnya. Bagiku, itulah momen spesial. Ketika sepenggal kisah mendatangkan kesempatan menjalin silaturahmi dengan orang lain. Syukur-syukur menyajikan setitik manfaat bagi pembacanya.

Momen istimewa sebagai narablog  menjalin  silaturahmi dengan para penulis mumpuni

Selain itu, siapa sangka jelajahsuwanto mengagihkan kebetulan-kebetulan manis dan istimewa. Beberapa tulisan di blog ini ternyata membawa rejekinya sendiri. Seperti tulisan Mendaki Nglanggeran Hati-hati Ketagihan menjadi pemenang ke-2 dalam lomba traveling paling seru yang diselenggarakan oleh Liputan6.com bekerjasama dengan Pertamina. Atau Skyscanner Dan Cerita Jelajah Anak Rantau sebagai juara 3 kategori konten, kompetisi blogging bertema “Aha” Moment Saat Travel” yang diselenggarakan oleh Skyscanner dan C2live. 
Tak akan aku sampai pada silaturahmi dengan mereka para narablog yang mumpuni, para ibu yang memiliki passion yang sama dalam dunia tulis menulis.

Kini bila ada yang bertanya: “Ibu kerjanya apa?”  Dengan bangga akan kujawab: "Saya ibu rumah tangga yang punya sampingan jadi narablog." Lalu kuiringi senyum simpul, karena yang bertanya akan berkernyit tanda masih aneh dengan istilahku.

Resolusi 2019
Jelajahsuwanto masih jauh dari sempurna. Baru saja berdomain.com pada penghujung 2018. Blog ini masih perlu berdandan dan dibenahi. Baik tampilan, pun, utamanya cerita perjalanan keluarga suwanto sendiri. Aku masih seorang ibu yang tertatih-tatih dengan manajemen diri. Adalah KONSISTEN, resolusi 2019 yang harus kurawat dan kujalani. 
 

Pada akhirnya kebanggaanku sebagai seorang narablog, jika boleh dikatakan demikian, bukan terletak pada materi, apresiasi dan puja puji.
Aku bangga ketika marwah jelajahsuwanto ini tetap kuhidupi dengan tulus. Ketika aku menulis hanya untuk menulis, bukan menulis dengan harap pamrih.


Semoga demikian. 
 

2 komentar:

  1. Suka sekali bacanya tulisannya. Terus menulis dan selalu menginspirasi 😍

    BalasHapus
  2. Senangnya ya mbak kalau tulisan kita bisa bermanfaat untuk orang lain. Ngomong-ngomong suka deh baca tulisan mbak, kosakatanya kaya. Terima kasih sudah berbagi ya mbak.... :)

    BalasHapus