Selasa, 14 Januari 2020

Mahembang yang Terbuang, Degap-degap Rute Makalisung Tondano Manado

Mendaki sembarang bukit di pesisir Minahasa yang eksotis @jelajahsuwanto

Ada masanya sosial media menjadi racun jelajah yang paling parah. Mahembang di Instagram begitu elok mengundang. Keluarga Suwanto mufakat menyusur pesisir Minahasa di pagi yang basah itu. Perjalanan sekitar 3 jam Manado, Bitung, Kakas, berakhir gigit jari di gerbang Mahembang.

Mahembang, pantai yang digadang-gadang seperti Bali-nya Minahasa ditutup tanpa alasan jelas. Kami dan satu rombongan yang juga baru sampai tetap dilarang masuk. Biarpun nawar pada penduduk di dekat pos jaga, kalau memang alasannya keselamatan, kami jamin jadi tanggungan pribadi.

Sebenarnya keluarga Suwanto bisa saja nekat keukeuh jalan kaki ke pantai, toh kendaraan diparkir dekat dari lokasi. Hanya saja, kami menghormati penduduk lokal yang tadi bersimpati.
“Jangan, nanti kita kena, dikira nimbun uang dari pengunjung. Ini saja ada yang diam-diam pasang mata”.

Hmm, begitu rupanya. Sangat disayangkan, indikasi salah kelola tersirat kentara.


Mengecewakan, informasi penutupan Pantai Mahemanbang yang kurang jelas @jelajahsuwanto

Payahnya, pos masuk Pantai Mahembang senyap, tidak berpenjaga. Padahal siang dan hari libur. Itu jam sibuk buat jaga pos kan, mestinya?  

Kalau ada orang nyambut pake senyum, bagus-bagus kasih penjelasan, kayaknya kita nggak akan kuciwa banget. 3 jam perjalanan itu enggak sekedip mata loh, mbambang. Atau minimal di papan pengumuman itu dikasih informasi gamblang mengapa ditutup dan kapan perkiraan dibuka lagi.

Sebagai pelancong terniat, saya merasa dikhianati.
Harus legowo, kami putar haluan, balik ke arah Makalisung.

Mengusung semangat jelajahsuwanto, jangan ada getun di antara kita. Maka zonk hari itu beralih degap-degap.

Perahu nelayan tertambat rapi di tepian Pantai Makalisung @jelajahsuwanto

Pasir keemasan tertimpa mentari di Pantai Makalisung @jelajahsuwanto

Selalu ada limpah syukur dalam setiap perjalanan. Puji Tuhan, sebelum ke Mahembang kami singgah di Makalisung. Sekadar mengambil foto dan mengumpulkan cangkang kerang.  

Pantai Makalisung terletak di pinggir jalan raya, secara administratif berada di Desa Makalisung, Kombi, Minahasa. Pasir keeemasan memantulkan terik mentari. Siang itu sepi, lautan tenang membiaskan warna langit. Perahu-perahu ditinggalkan nelayan, tertambat rapi di tepian pantai.
Di cuaca secerah ini hanya ada sepasang muda-mudi di bawah Kwaru Laut. Apakah mungkin Pantai Makalisung belum dikelola sebagai tempat pariwisata? Pertanyaan itu terlintas mengingat fasilitas wisata sungguh tak kasatmata.

Bisa jadi bagi penduduk pesisir, pemandangan bahari ini biasa saja, sehari-hari mereka melewatinya. Tapi untuk pendatang seperti kami, bisa menjejaknya saja membawa memori yang indah.

Pantai Makalisung suatu siang @jelajahsuwanto

KenSiPenjelajahKecik di Pantai Makalisung @jelajahsuwanto

Sesungguhnya lenggak-lenggok pesisir Minahasa menumbuhkan semacam romantisme perjalanan. Perbukitan dan gunung gemunung membawa sukacitanya sendiri.

Kami sembarang berhenti, demi melihat sebuah bukit hijau merona. Menaklukkan bukit cantik ini lumayan mudah karena tidak terlalu tinggi, kurang lebih 10 menitan mendaki. Di atas sana cuma diam.
Menghirup udara dalam-dalam, memandang lautan dan bukit-bukit lain nun di kejauhan. Lalu tergelak, balapan lari menuju mobil lantaran gerimis menyapa lagi. 

Ya, bahagia harus diciptakan, biar kita bebas merdeka dari gulana.

Bukit-bukit hijau merona di sepanjang pesisir Minahasa @jelajahsuwanto

Bentang alam Minahasa yang menawan @jelajahsuwanto

Kanzo Beach Resto sepertinya menjadi warung makan representatif di jalur sepi ini. Kanzo berada di pinggir pantai berpasir landai, tidak jauh dari Pantai Triple M. Ombak di depan Kanzo agak besar, bikin kurang nyaman melepas kecik bermain.

Ikan bakar, dabu-dabu, juga cah kangkung jadi pilihan menu pelepas penat. Ditambah kelapa muda dan keripik goroho, gratis dari Ibu pemilik. Makan siang ini dihargai paketan untuk sekeluarga, 4 orang. Bukan dihitung per menu. Harganya relatif wajar, sesuai lah, kisaran 100-150 ribu. Rasa masakan cukup menyenangkan lidah, walau kurang istimewa. Keramahan pemiliknya lah yang spesial.

Ombak di depan Kanzo Beach Resto relatif besar @jelajahsuwanto
Si Ibu pemilik Kanzo bilang kami seharusnya kembali ke arah Mahembang melalui jalur alternatif baru via Tondano. Ia menjelaskan detail rute yang akan ditempuh. "Biar kecil, jalan so aspal, mobil bisa lewat. Kalau mau lewat jalan berangkat tadi juga ga masalah. Mana-mana,” katanya membuat pilihan terbuka.

Bulat sudah, ikut saran si Ibu.  Senja dan gerimis turun bersamaan. Kami pamitan, bersiap melaju.

Belum juga membuka pintu mobil, suara bariton lelaki yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke meja kami, mengubah segalanya.

“Mau ke arah Mahembang, ya?” mengagetkan ia bertanya.
“Saya nebeng!” dingin dan bernada maksa. Ada sebilah pisau di pinggangnya. Sontak waspada alert plus deg-degan, orang ini tahu rencana kami.
 “Maaf, kami ke arah Makalisung,” Suami membalas sopan. Aku peka melihat gelagatnya.
“Yaah, tidak jadi kalau gitu. Benar lewat Makalisung?” selidiknya seolah menangkap ketakutan kami. Bau alkohol tajam menyeruak.
“Ya, maaf!” tanpa babibu, anak-anak dikode masuk mobil.

Gerimis menyapa di jalur antah berantah di Minahasa @jelajahsuwanto

Dan, begitulah kami berada di jalur balik Makalisung, Kombi. Kira-kira 45 menit, Pak Suami belok arah, manut suara Mbak-Mbak di Google Maps. Bukan kembali ke jalur berangkat, tapi mengikuti aspal mulus membelah bukit-bukit perawan, hutan perdu, ladang jagung, perkebunan nyiur, pisang juga kebun cengkeh. Di tengah gerimis. . .

Seru. Aura petualangan menguapkan rasa khawatir dari incaran mata merah lelaki mabuk di Kanzo.

Jalan lurus itu semakin menanjak, menyempit, lantas menciut seukuran satu mobil saja. Luar biasa, gulita dan gerimis yang syahdu kali ini bisa-bisanya kompak membuat labil detak jantungku. Ingin aku seperti anak-anak, cepat sekali mereka tertidur di kursi belakang, tanpa pikiran negatif, tanpa beban. Damai.

Melintasi perkebunan pisang di rute Minahasa @jelajahsuwanto

Mbak Google Maps telah lama bungkam, sebab sinyal hilang ditelan bayang hutan. Gusti, sumpah ini horor. Kami masih menembus bukit antah berantah yang terasa amaaat panjang. Ketika sedikit saja melintasi perkampungan, rasa hangat mengalir. Namun, perkampungan bisa dihitung jari, cepat pula terlintasi. Jalan kini menurun, bergelombang. Satu sisi tebing, sampingnya lagi jurang.

Tondano, malam itu aku ingin lekas menjejak kotamu. Sambil melirik indikator bensin, berdoa semoga si X-Trail kuat, selamat tiba di rumah.

Google Maps mulai rerouting, kumpulan air terlihat hitam di bawah sana. Danau Tondano, tak pernah sesenang ini aku mengucapkannya.

So much better, when we’re together @jelajahsuwanto

Memasuki kota Tondano, setelah numpang pipis di Ind*m***t, perjalanan menuju Manado tak lagi merisaukan. Kami saling lirik, berbalas senyum dan mengeratkan pegangan tangan. Sementara itu anak-anak masih lelap, kagak tahu betapa bergeloranya hati emak bapak tadi. Ah, biarlah tetap begitu. Apapun jelajahnya, so much better, when we’re together. Itulah hakikat jelajahsuwanto.

Terima kasih pesisir Minahasa, suatu hari kami akan datang lagi.


**

Kata yang mungkin asing, ada ko di KBBI:
Degap-degap >> tiruan bunyi debaran jantung
Getun >> kecewa; menyesal 
Legowo >> bentuk tidak baku dari legawa;  dapat menerima keadaan atau sesuatu yang menimpa dengan tulus hati; ikhlas; rela
Kasatmata >> dapat dilihat; nyata; konkret

Bahari >>  indah; elok sekali
Manut >> suka menurut; patuh

 

8 komentar:

  1. Wah seru sekali mbak perjalanannya. Pake ketemu si Bapak yang sangar juga ya hhh, jadi ikut deg-degan saya bacanya. Untung orangnya percaya ya. Petualangan yang benar- benar tak terlupakan pasti ya Mbak.

    BalasHapus
  2. Hallo, salam kenal bu.. Saya hanya mau rekomendasi untuk jelajahsuwanto sekali2 ke pulau lembeh di kota bitung bu, di sana banyak tempat2 wisata yang keindahan laut dan alamnya di sana sangat cocok bu. seperti ; Pantai Kahona, pantai Salise, pantai lirang, puncak lembeh, patung Tuhan Yesus dll. Dari Bitung bisa bwh mobil juga ke lembeh dengan cara naik kapal feri di pelabuhan feri yang ada di bitung. "Di pantai salise juga cocok utk camping dan mancing (tapi alat dan peralatannya di bwh sndri)". Semoga jelajahsuwanto bisa menulis pesonanya Pulau Lembeh di Kota Bitung.

    BalasHapus
  3. Degdegan baca ceritanya mba, pas ketemu bapak bapak yang bawa golok dan google maps mati ga ada sinyal. Kebayang sih horornya lagi di jalanan sepi dan kanan kiri hutan begitu.
    Tapi besyukur bisa kembali dengan selamat ya

    BalasHapus
  4. Ikut merasa deg-deg ser juga bacanya. Apalagi pas bertemu dengan bapak-bapak yang pingin nebeng tapi bawaannya senjata tajam. Nggak berani membayangkan. Isinya bayangannya hal-hal negatif takutnya. HEhehe

    BalasHapus
  5. Duhaaai ... Aku paling suka sama foto anak yang berlari dikejar ombak. Baguuus banget. Nggak ngeblur, ya. Impian banget nih bisa jalan-jalan keliling Indonesia termasuk Sulawesi. Belum pernah sama sekali, hahaha ...

    Di sana sepertinya banyak wisata pantai ya, Mbak? Seru banget lho perjalanan yang diceritakan ini. Apalagi ingat bapak-bapak yang mau nebeng itu, hiyaaa ... Lari seribu langkahnya kepengennya.

    BalasHapus
  6. Wuah udah lama bangeeet gak traveling ke pantai, kangeeen euy! bagus ih tempatnya jadi pingin jalan-jalan pulau sulawesi, belum pernah nih seumur-umur paling jauh kalimantan wkwkwk. makasih mba infonya.

    BalasHapus
  7. waduuh....seru dan mendebarkan. Benar2 mwndebarkan tp mengesankan ya Mba...

    BalasHapus
  8. Baru tahu degap-degap saya dan beneran ..pas baca ikut juga berdegap-degap. Apaalgi pas ada lelaki yang pengin nebeng ituuuh
    Keren banget pantainya dan seperti biasa Mbak Sri bercerita dengan gaya khasnya yang bikin cerita makin istimewa

    BalasHapus