Minggu, 23 Oktober 2016

Bori Kalimbuang: Menhir di Nusantara

Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Mendadak bayangan Obelix yang membawa menhir di punggungnya numpang lewat di ingatan saya. Menhir yang pernah saya baca di komik Bangsa Galia versus Romawi ini sungguh nyata di Tana Toraja.
Pembuatan batu-batu Menhir atau Simbuang Batu dalam Bahasa Toraja adalah tradisi yang berusia ratusan tahun lampau. 
Konon, Kalimbuang Bori adalah tempat pertama yang menjadi lokasi upacara pemakaman adat Rambu Solo. Kala itu tahun 1657.


Papan petunjuk Kalimbuang Bori Toraja Utara +Fotojelajahsuwanto

Sekitar tengah hari kami tiba di Kompleks Megalit Kalimbuang Bori. Sepi sekali. 
Hanya disambut oleh seorang warga, yang juga tengah liburan natal di kampung halamannya. Katanya ia baru pulang merantau dari Jawa. Bisa jadi judul sinetron nih kita, Perantau yang Tertukar.  (#Out Of Topic yaa :P) 
Mas penjaga pintu (sementara waktu, saat liburan saja) mempersilakan kami melihat-lihat sepuasnya situs kebanggaan mereka. Yang juga kebanggaan Indonesia tentunya, karena termasuk warisan budaya yang unik. 
Untuk pemeliharaan situs, kami dipersilakan memberi seikhlasnya.
 
Situs Megalit Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Kalimbuang Bori persisnya berada di wilayah administrasi Kelurahan Bori, Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara. 
Dari Rantepao (Ibukota Kabupaten) jaraknya sekitar 7 Km. 
Keluarga Suwanto sampai dengan aman sentosa di lokasi ini dipandu oleh Google Maps. 
Saat buntu atau ragu-ragu, bertanya pada warga sekitar menjadi pilihan yang paling cerdas. Cukup mudah menemukan objek wisata ini. 
Kita akan memasuki jalan desa yang asri. Memang jalannya sempit, tetapi telah beraspal baik. Sawah dan Kebun-kebun warga sedang subur ijo royo-royo. Hujan bulan Desember baru saja berbagi berkahnya.
 
Deretan Menhir di Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Menhir adalah batu tunggal. Biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan diletakkan berdiri tegak di atas tanah. (Sumber: Laman Wikipedia Indonesia) 

Pertanyaannya, bagaimana menhir – menhir ini bisa tertata rapi di Kalimbuang Bori?
Menhir ini tidak ujug-ujug berdiri tegak di Bori. 
Sesuai dengan arti Simbuang Batu, batu yang ditarik, demikianlah Menhir ini dibangun. 
Batu-batu tersebut adalah manifestasi dari upacara adat setempat “Rapasan Sarupandan”. 
Setiap Menhir yang didirikan mewakili tokoh bangsawan atau sesepuh adat yang telah meninggal. Semakin tinggi Menhir dianggap semakin tinggi pula derajat kebangsawanannya. 
Pada upacara adat ini, dikurbankan minimal 24 ekor kerbau atau Tedong. 
Hingga sekarang terdapat 54 menhir kecil, 24 ukuran sedang dan 24 besar di situs megalit ini. 

Kompleks Situs Megalit Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Menilik megah dan besarnya batu menhir, pasti membutuhkan proses dan ritual yang cukup panjang. 

Dari mas yang jaga tadi, saya mengorek info. 
Ternyata batu-batu tersebut diperoleh dari pegunungan sekitar Tana Toraja. Batu yang sesuai digali kemudian dibentuk menjadi sebuah menhir oleh para ahli pemahat To ’Mapa. Langsung di lokasi asal batu tersebut. Ada kerbau dan babi yang dikurbankan selama proses ini. 

Setelah menjadi menhir yang diharapkan, perjalanan menuju Bori dimulai. Masyarakat bergotong royong menariknya. Alat yang digunakan biasanya batang pohon, dan tali temali dari bambu. 
Dengan cara tradisional seperti ini tentu saja memakan waktu yang tidak sedikit, bisa berbulan-bulan. 

Menhir dibenamkan sepertiganya di dalam tanah. Dua pertiganya berdiri megah. 
Mendirikan menhir seukuran 180cm dengan berat ratusan kilogram tentu membutuhkan banyak sekali tenaga. Betapa solidnya masyarakat Toraja. 
Pekerjaan yang nampaknya berat bisa diselesaikan dengan gotong royong. 
Masih adakah sifat kebaikan semacam ini di zaman kita sekarang? 
Semoga!
 
Kubur Batu di  Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Kompleks megalit kalimbuang Bori memang adalah tempat pelaksanaan upacara adat Rambu Solo.
Kubur-kubur batu berada di pinggir kompleks ini. Batu-batu besar ini disebut Liang Pa’ dalam bahasa setempat. Yaitu tempat bersemayamnya jenazah. Satu batu untuk satu keluarga.  

Kubur Batu di  Kalimbuang Bori Toraja Utara 
+fotojelajahsuwanto

Saat kami berkunjung nampak ada lubang batu yang masih diberi tanda x. 
Mungkin masih dalam tahap pengerjaan.

Saya masih belum mengerti, bagaimana mereka membuat kubur batu ini.
Yang saya tahu, dalam setiap prosesi pengerjaan lubang ini, unsur adat berlaku. Perlu dikurbankan hewan. 





Lakkian di  Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Siang itu si ibu yang telah berputera dua itu, berbicara dengan ibunya. Indahnya menjadi ibu yang masih bisa berbagi cerita dengan ibunya. 
Dari mulai masuk ke situs, sampai putar-putar.
Dan akhirnya menclok duduk manis di Lakkian yang ada di Kalimbuang Bori.

Lakkian adalah tempat jenazah disemayamkan selama upacara Rambu Solo.


Bangunan ini terdiri atas dua tingkat. Bagian atas menjadi tempat peti jenazah. Sementara bagian bawahnya sebagai tempat berkumpul keluarga yang berduka. 

Lakkian tidak boleh dirobohkan, dibiarkan begitu saja hingga roboh dengan sendirinya.

Bermain petak umpet di deretan menhir Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto
Melihat batu-batu menjulang mas dan adek, malah serasa menemukan arena petak umpet. Giliran adek yang jaga. Bundanya yang harus jadi toa: “Satu, dua, tiga, empat, ….., sepuluh. Cari!!!! “

Ah anak – anak, bahagia sekali melihat kalian sangat menikmati setiap jelajah kita.


Setelah dari Kalimbuang Bori kami terus menjelajah toraja utara. Tidak balik arah melewati jalan datang. 
Keluarga Suwanto terus melanjutkan perjalanan menyisir jalan desa. Ada beberapa kejutan di depan sana. 

Itulah jelajah keluarga yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar