Senin, 02 Oktober 2017

SkyScanner Dan Cerita Jelajah Anak Rantau

Pulau Kecil yang tertangkap kamera, dalam perjalanan menuju Makassar +jelajahsuwanto
 New Hello

“Bun, aku promosi…, tapi ke luar pulau…, gimana?” Siang itu, masih terngiang suaranya di seberang telepon.
Aku bangga dan berbahagia untuk suamiku, tapi mengapa ruangan kantor itu nampak indah, menahanku untuk tetap tinggal di Ibukota yang penuh gairah. Promosi suami, resign dari pekerjaanku sendiri, negeri orang, pindah sekolah anak, jauh dari orang tua sanak keluarga, semuanya berkecamuk meminta porsi.

Saya dan Suami menyukai perjalanan. Masih membekas jawaban seorang senora di film The Way, ketika ditanya pernahkah ia pergi ziarah ke Santiago de Compostella. Ia mengatakan “No never, when I was young, I was too busy, and now that I am older, I’m too tired!”.
Tidak, saya tak ingin terjebak dalam rutinitas semu seperti senora tersebut. Tidak juga berlindung di balik alasan pekerjaan maupun anak-anak. Saya siap merantau dan mengenalkan anak-anak pada indahnya perjalanan.

Maka demikianlah, setelah melalui diskusi suami istri, pergumulan doa, dan restu orang tua, Keluarga Suwanto siap terbang menemukan “new hello” ke tanah rantau.



Kawasan Pantai Losari, Ikon Kota Makassar +jelajahsuwanto

Penghujung Juni di tahun 2013, di sinilah kami tiba, di Negeri Anging Mamiri yang tersohor akan pelaut-pelaut ulungnya. Makassar, ia tak se-glamour Jakarta. Kota ini ‘panas’, rame, ramah dan rancak. Semua padanan kata itu mengacu pada banyak hal di kota ini. Hiruk pikuknya, udaranya, masakannya, orangnya, budayanya, juga kebiasaannya. Kota ini masih asing bagi kami, Orang Jawa. 

Bicara tentang tanah rantau, saya selalu berpegang pada amanat ayah. Ketika pertama kalinya saya akan sekolah di kota lain, jauh darinya, ia berkata: “Teh, dimana pun kamu tinggal kenali dan hormatilah ‘ciri sabumi, cara sadesa’-nya”. Pesan itu berarti kenalilah ciri khas warga setempat, hormatilah dan berbaurlah. Adaptasi dan let’s enjoy every single little thing!  Itulah tugas pertama kami sebagai warga perantau.

Tak juga dipungkiri, adaptasi itu perlu waktu. Jauh dari keluarga dekat, bahasa yang berbeda, rasa makanan yang masih asing, harga-harga yang njomplang dari Indonesia bagian barat, terkadang dapat membuatmu ‘homesick’. Di Tanah rantau, yang kau punya adalah keluarga intimu. Suami, isteri dan anak-anak. Tim kecil ini dirangkum sebagai keluarga. Bergandengan tangan kami menghadapi situasi baru.

Bagi kami, keluarga adalah partner terbaik untuk segala urusan. Termasuk, menciptakan suasana nyaman di tanah rantau. Salah satunya traveling bersama keluarga, kami sebut jelajah. 



Jelajah Ala Keluarga Suwanto

 “Gilee, traveling melulu sekarang, dah kaya lu ya?” Ungkapan senada sering mampir pada kami. Yaaah, mereka tidak tahu, kami hanyalah sebuah keluarga kecil yang berusaha untuk senantiasa bersyukur dan bahagia dimana pun kami berada. 
Dan bila waktumu di tanah rantau, hanya Tuhan dan Head Office yang tahu, maka sebaik-baiknya jelajahilah. Cecaplah dan rasakan betapa indahnya Indonesia ini bersama keluargamu, anak-anakmu, biarpun mereka masih kecil. Kala itu usia anak kedua baru menginjak 2 tahun. 
Tak perlu khawatir, ribet, menunggu kaya atau siap. Memang tak mudah, tapi juga tak susah. Jelajah tak perlu mahal. Jelajah itu benar seperti quote ini: “It doesn’t matter where you’re going, it’s who you have beside you”.


 
Tanjung Bira, Mengenalkan wisata bahari pada anak +jelajahsuwanto

Kenali dan Jelajahi Daerah Sekitarmu

Bila kau dengar suara presenter di layar kaca yang memberitakan Makassar sering terlibat aksi tawuran, perang busur panah, demo dan kejahatan, jangan terlalu kau percaya. Aslinya tidak semenakutkan itu. Makassar bukan berarti tempat orang-orang kasar. Secara etimologi, Makassar berasal dari kata Mangkasarak yang mengandung arti bersifat besar, mulia, nyata, tegas dan berterus terang. Bisa jadi hal itu diambil dari cerminan penduduknya yang welcome, blak-blakan, dan bersahabat. Meski jika di jalan raya sering crowded, grasak-grusuk macam ikan mairo. Karakter ini mungkin juga direpresentasikan dalam kuliner Makassar yang khas, kaya rempah, pedas, asam, dan meriah. Sebut saja Coto, Konro, Sop Saudara, Sop Kikil, Pallubasa, Pallumara, dan lain-lain. Tak akan ada bosannya merasakan jelajah kuliner di Makassar.

Makassar adalah ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan yang memiliki 21 Kabupaten dan 3 Kota. Keluarga Suwanto telah melakukan jelajah ke beberapa kabupaten, diantaranya: Gowa, Maros, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Soppeng, Pangkep, Toraja Utara, dan Kota Makassar. Bentang alam Sulawesi Selatan sangat luar biasa. Cantik. Keluarga Suwanto, jatuh hati pada pantai-pantai alaminya, pulau-pulau kecil, air terjun, leang (gua) dan dataran tingginya. Kebanyakan masih serupa hidden paradise yang belum dikelola dengan baik.


Salah satu kuliner Makassar dan sekitarnya, Sop kikil Pangkep +jelajahsuwanto
Mahakarya Perahu Phinisi dari Butta Panritalopi, tanah para ahli perahu +jelajahsuwanto

Ikuti Kata Hati, Percayalah Pada Kebetulan

Kami mengamini peristiwa kebetulan dalam hidup sesungguhnya terjadi atas kehendak dan kasih Tuhan. Yang kita perlukan, hanyalah mengikuti kata hati untuk merespon kebetulan-kebetulan tersebut. Banyak hal baik yang kami dapatkan dari peristiwa kebetulan. Entah itu pemandangan yang spektakuler, jalinan silaturahmi, juga pelajaran hidup. Contoh kasus pada waktu tersesat, penginapan penuh, dan mengalami speed boat bocor, ternyata kami malah mendapat surga tersembunyi, sahabat, dan petualangan baru yang lebih seru.

Atau saat Keluarga Suwanto mengunjungi Tana Toraja, kami ingin sekali melihat Upacara Rambu Solok dari dekat. Rasanya tidak mungkin, karena upacara seperti itu sangat personal bukan ajang wisata. Kala kami ngos-ngosan dan berhenti di sebuah gubug di situs Londa, tibalah juga seorang ibu dan beberapa saudaranya, sama-sama mengaso. Kami saling tersenyum dan terlibat percakapan. Ternyata, mereka datang dari Makassar untuk menghadiri upacara Rambu Solok kerabatnya. What a surprised. Kami diajak serta, dijamu layaknya saudara. 
Sebuah kehormatan dari peristiwa kebetulan. Maka, nyalakanlah suar antena jelajahmu, percaya pada kebetulan dan ikuti kata hatimu. Siapa tahu ada takdir indah yang sedang menyamar.
 
Melihat Upacara Rambu Solok dari dekat +jelajahsuwanto

Teman Setia Jelajah Keluarga

Jelajah Keluarga Suwanto diawali dengan mengeksplor sebagian Sulawesi Selatan. Jelajah kami bukan jelajah mewah. Namun demikian, kami tetap memperhatikan kenyamanan dan keamanan anak-anak. Kami lebih sering melakukan perjalanan ke pantai-pantai tersembunyi yang dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi. Jarak terjauh adalah Tana Toraja sekitar 8 jam perjalanan. Lalu Bulukumba, sebagai primadona wisata bahari Sulawesi Selatan, sekitar 5 jam berkendara.

Perlengkapan setia yang kami gunakan adalah kamera DLSR, smartphone untuk layanan google maps, travel bag yang fleksible, matras, obat-obatan, minuman dan cemilan secukupnya. Selain itu, tak pernah terlewat buku dan mainan anak-anak, serta ekstra plastik untuk tempat sampah. Berjaga-jaga bila di lokasi jelajah tidak tersedia tempat sampah, jika tidak bisa membersihkan, jangan mengotori.

 
Salah satu aha momen traveling jelajahsuwanto, perairan Wayag, Raja Ampat +jelajahsuwanto

Someday is Today

Salah satu cara mewujudkan impian jelajah yaitu membuat travel wishlist. Selain menjelajah destinasi wisata di sekitar tempat tinggal, Keluarga Suwanto juga menambahkan travel wishlist. Raja Ampat adalah destinasi yang kami idam-idamkan, sudah sejak kapan tahun.  Brosur Raja Ampat, saya tempel di dinding kamar, saya cetak di bantal foto, juga saya pasang sebagai wallpaper. Berdoa dan berharap, semoga semesta membantu setiap mimpi baik kita. Dan, kesempatan itu selalu ada bagi mereka yang percaya dan memiliki niat teguh. Pada penghujung Maret 2017, itulah salah satu aha momen traveling kami, someday is today, when the dream come true.

 
Petunjuk arah ke Sumpangbita Prehistoric Park, Pangkep +jelajahsuwanto

Observasi
Selain niat, spontanitas, dan wishlist, penting bagi kami melakukan observasi sebelum jelajah. Apalagi kami melakukan jelajah bersama anak-anak. 
Biasanya jauh-jauh hari saya sudah mencari tahu tempat yang akan kami tuju. Seperti apa medannya, berapa jarak tempuh, lama perjalanan, fasilitas dan penunjang yang tersedia. Setelah memiliki gambaran mengenai lokasi, barulah mempersiapkan segala sesuatu untuk jelajah tersebut. 

Misalnya, ketika akan menjelajah Pulau Liukang Loe yang cukup terpencil, kami membawa tenda, travel bag yang tahan air, dan perlengkapan setia jelajah kami. Atau ketika akan melakukan jelajah dari Makassar ke Manado, saya terlebih dahulu searching tempat wisata yang wajib dikunjungi, tiket pesawat, hotel dan sewa mobil.
Di era digital saat ini, observasi sebelum jelajah sangat mudah dilakukan. Tersedia banyak aplikasi yang membantu para traveler untuk merencanakan dan melakukan jelajah. Salah satunya adalah SkyScanner. 



SkyScanner
   
Perantau dan jelajah memiliki benang merah, yaitu quality time bersama keluarga. Pulang kampung adalah waktu berharga yang paling ditunggu para perantau. Berjumpa dengan ayah ibu, adik kakak, kakek nenek dan keponakan telah kami agendakan saat libur natal.

Syukur pada Tuhan, saya telah mengunduh aplikasi Skyscanner dari Playstore. Aplikasi SkyScanner telah diunduh lebih dari 60 juta pelanggan di seluruh dunia. Aplikasi ini juga telah diakui oleh New York Times, Webby Awards, Penghargaan Apy, Refinery29, dan TimeOut.

Skyscanner adalah Situs travel terpercaya di seluruh dunia. Skyscanner mencarikan data terbaik dengan gratis untuk tiket pesawat, hotel atau penyewaan mobil dari berbagai ratusan situs. Yang menarik, SkyScanner juga memiliki fitur pencarian tiket pesawat di bulan termurah. Tidak perlu booking fees, hidden charges, dan biaya tambahan, maka kita akan mendapatkan best deal setiap saat.

 
Kenapa harus SkyScanner? +jelajahsuwanto


Unduh Aplikasi SkyScanner +jelajahsuwanto


Untuk agenda pulang kampung ke Yogyakarta pada Desember nanti, saya tidak perlu datang ke travel agent lagi. Kini tinggal buka Aplikasi Skyscanner saja di handphone.
Masuk ke menu flight, ketik bandara keberangkatan dan tujuan, tambahkan tanggal pulang dan pergi serta jumlah penumpang dan kelas penerbangan. 
Voila, dalam sekejap aplikasi menampilkan 355 dari 392 data penerbangan Manado-Yogyakarta. Segera saja membandingkan semua data yang ditampilkan, berdasarkan harga, lokasi, penilaian, dan yang lainnya. Setelah itu tinggal eksekusi yang paling ideal dan sesuai dengan kebutuhan. Saya telah mengurutkan dan menyaring yang termurah.

Dari data tersebut, saya tertarik dengan Lion Air karena jam-nya paling sesuai dengan kami. Data tersebut tinggal diklik kemudian muncul total harga. Tertera situs yang melayani adalah Nusatrip.com dan Tiket.com. Saya memilih Nusatrip karena bintangnya 4, selain itu ada keterangan bahwa situs satunya tidak ramah seluler. Selanjutnya, SkyScanner mengantarkan ke Nusatrip.com. 
Demikianlah urusan pertiketan dengan mudah diselesaikan dalam hitungan menit. Saya dapat menghemat waktu dan uang.

Tiket murah dalam genggaman tangan melalui aplikasi SkyScanner +jelajahsuwanto

Begitulah, bermula dari promosi suami ke Makassar, Keluarga Suwanto menyambut “new hello” itu untuk mengenalkan jelajah pada anak-anak. Pada akhir tahun 2016, akhirnya kami harus mengucapkan selamat tinggal pada Sulawesi Selatan dan menyapa Sulawesi Utara. Entah sampai kapan Keluarga Suwanto akan berproses di tanah Minahasa ini.
Yang pasti, pulang kampung tinggal hitungan bulan. Keluarga Suwanto sudah menantikan momen ini dengan penuh kerinduan. Dengan bantuan SkyScanner, kami telah mendapatkan tiket pesawat dengan harga termurah. (Yang sesungguhnya pelajaran lain dari merantau ini,  kalian akan tahu betapa mahalnya tiket pesawat.)

Selamat menjelajah bersama keluarga tercinta!

7 komentar:

  1. Yess, dengan merantau jadi tau tiket pesawat itu mihillll 😄 Ehh baru tau ada skyscanner, next boleh dicoba nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah singgah di jelajahsuwanto Bu Inge Maria Wibowo.
      Sila di coba aplikasi SkyScannernya, mudah dan cepat bu.

      Hapus
  2. Suami saya orang Makasar, tapi saya belum pernah pergi ke Makasar. Aneh bukan? haha
    Terima kasih untuk tulisan dan photo-photo indahnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walaah, aneh tapi nyata :D
      Makassar sangat indah buat dijelajahi bu. Ayok klik skyscanner aja, cari tiket, langsung cuss

      Hapus
  3. Jejak. Terima kasih atas partisipasinya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya Mbak Haya. Senang sekali Mbak Haya menulis jejak di sini :d

      Hapus
  4. Saya belum pernah menggunakan applikasi ini. Next coba ah. Thanks for sharing Mbak

    BalasHapus