Senin, 16 November 2020

Hidupkan Fungsi Keluarga untuk Indonesia yang Lebih Baik #Seandainya Aku Menjadi Pemimpin

 

Jembatan Cibeureum Jalan Baru Cisinga Ciawi Singaparna || ©JelajahSuwanto
Warga bergotong royong pada suatu minggu pagi di sekitar jalan baru Cisinga || ©JelajahSuwanto

Pulang ke Nagaraherang sekarang terasa berbeda. Kampung Nagaraherang, sebuah dusun di kecamatan Sukahening nun di kaki gunung Talaga Bodas itu telah dilewati jalan baru. Jalan Cisinga (Ciawi Singaparna) terbentang sepanjang 23 km melewati 7 kecamatan mulai dari Ciawi, Jamanis, Sukahening, Cisayong, Sukaratu, Padakembang dan Singaparna. Selain mengurangi waktu tempuh dari Tasik utara ke pusat kota Singaparna, jalur baru ini menggerakkan roda perekonomian warga. Namun sayang dampak positifnya ternoda oleh bau-bau korupsi dan perilaku yang mengarah pada pencemaran lingkungan.

Perilaku membuang sampah sembarangan di bawah jembatan jalan baru Cisinga masih jadi budaya #negaraberflower || ©JelajahSuwanto
Perilaku membuang sampah sembarangan di bawah jembatan jalan baru Cisinga masih jadi budaya #negaraberflower || ©JelajahSuwanto

1. Dampak Perubahan Iklim Menggerogoti Pedusunan Di Kaki Gunung

Nagaraherang pada tahun 80-90an merupakan tempat istimewa bagi keragaman. Di kampung bersahaja ini hidup secara harmonis pemeluk agama Islam, Katolik dan Aliran Kepercayaan Sunda Wiwitan. Alam dengan kemurahannya membalas cara kami ngamumule atau merawat hutan yang disebut leuweung. Tunggu lawang dan Pasarean pada masa itu masih seperti hutan rapat yang menyediakan sumber kehidupan, buah hutan, tanaman obat, kayu bakar dan sumber air jernih. Beragam burung, monyet, tupai, ular, musang, dll., pernah hadir menyemarakkan masa kecil. 

Hutan Tunggu Lawang Kampung Nagaraherang Riwayatmu Kini || ©JelajahSuwanto
Hutan /Leuweung Tunggu Lawang kini tutupannya amat terbuka,
pada era 80-90an cahaya matahari tertahan kanopi pepohonan membuat hutan terasa angker  || ©JelajahSuwanto
 
Asal nama Sungai Cideres diambil karena airnya begitu deras meluap-luap, dahulu di era 80-90an. Oktober 2020 sungai mengalami penyempitan dan debit airnya tak lagi sesuai dengan nama yang disandang || ©JelajahSuwanto
Nama Sungai Cideres diambil karena debit airnya sangat deras meluap-luap, dahulu di era 80-90an.
Pada Oktober 2020 penyempitan aliran sungai Cideres nampak jelas, sementara itu debit airnya tak lagi sesuai dengan nama yang disandang || ©JelajahSuwanto

Tahun ini tampak jelas perubahan di wajah kampung halamanku. Sampah adalah persoalan besar yang merusak keindahannya. Leuweung yang dulu terkesan angker dan menakutkan sekarang amat terbuka. Tak ada lagi kiara ngajegang sebutan untuk pohon raksasa yang akarnya membelah jalan. Tak ada lagi monyet, musang dan ular yang dulu sering mengagetkan. Sungai Cibarani dan Cideres di waktu lampau airnya deras meluap-luap kini susut drastis, menyempit dan penuh sampah.

Bila malam menjelang hawa dingin memeluk mimpi kami dan siang hari meski terik bermentari udaranya tetap sejuk. Itu dahulu, jauh berbeda sekarang. Tak lumrah merasakan panas di Nagaraherang baik siang juga malam. Maka saya paham ketika ibu bercerita tentang anomali musim dan hama yang kerap mengganggu panen. Petani dan penggarap sawah bekerja lebih keras kadang hasilnya kurang sepadan. Kesejahteraan pangan nyata mengancam sebagian besar penduduk kaki gunung yang bergantung dari kemurahan alam. 

 

Boro-boro monyet, kadal saja enggan menampakkan diri. Tunggu Lawang hutan keramat yang hilang wibawanya || ©JelajahSuwanto
Boro-boro monyet, kadal saja enggan menampakkan diri.
Tunggu Lawang hutan keramat kehilangan wibawanya || ©JelajahSuwanto

   

2. Seandainya Aku Jadi Pemimpin, Apa yang Akan Kulakukan Untuk Indonesia?

Golongan Hutan, gabungan berbagai organisasi masyarakat di bidang lingkungan mengajak peran generasi muda untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik. Salah satunya mulai dari menelisik diri menyuarakan pemikiran “Seandainya aku menjadi pemimpin, apa yang akan aku lakukan untuk Indonesia?”

Bagiku kampung Nagaraherang seperti zoom in pedusunan Indonesia yang tak terelakkan tengah mengalami krisis akibat perubahan iklim. Disadari maupun tidak perilaku masyarakat sedikit banyak memberi andil pada kondisi ini. Modernisasi menggerus kearifan lokal cara leluhur merawat alam. Tetua kami banyak yang telah wafat tanpa sempat mewariskan kebijaksanaan bagaimana selaras bersama alam. Sebab atas nama hidup yang lebih baik, anak muda dipacu keluar kampung mencari penghidupan di kota besar.

Mengembalikan fungsi keluarga untuk mengharumkan Indonesia menjadi prioritas utama kepemimpinan. Setiap keluarga Indonesia selayaknya berperan aktif membudayakan wujud cinta dan bakti pada tanah air. Melalui sikap dan laku selaras dengan alam, melestarikan lingkungan dan mengelola sumber daya secara bijak berkelanjutan di setiap generasi. Semuanya bermula, ditanamkan dan dirawat oleh keluarga. 


Aliran sungai Cibarani masih lumayan pada 2013, meski penyempitan telah kentara.
Oktober 2020 sungai dipenuhi sampah dan popok bekas pakai  || ©JelajahSuwanto

5. "Indonesia Lebih baik" yang Harus Diperjuangkan

Indonesia lebih baik yang ingin kuperjuangkan adalah Indonesia yang para individunya menghidupi dasar negara Pancasila. Terkesan berat ya? Mungkin sederhananya Indonesia yang mengamalkan toleransi, saling peduli dan menghormati, entah itu peduli sesama, pun juga alam lingkungan dalam hidup kesehariannya. 

Indonesia zamrud khatulistiwa adalah pemilik hutan terbesar ke-3 di dunia. Di dalamnya spesies mamalia, burung, palmae dan tanaman obat memiliki peranan penting untuk dunia. Namun deforestasi mengancam #negaraberforest kita dengan kilah alih fungsi pembangunan, industri, perumahan, tambang, sawit, dan semacamnya. Dalam skala kecil di dusun Nagaraherang yang tak pernah terekspos dunia saja alih fungsi hutan membawa perbedaan besar pada banyak aspek. Indonesia yang lebih baik sepantasnya aktif melestarikan hutan termasuk bijak mengelola sumber daya alamnya.  

Dalam upaya melestarikan alam, tradisi leluhur, adat istiadat dan kearifan lokal turut menentukan. Ketika masih kecil, saya dapat menyaksikan bagaimana karuhun (leluhur) kami memperlakukan hutan dan sawah dengan hormat. Ada upacara dan doa-doa dalam setiap peristiwa dari menyemai benih, menanam hingga panen. Pun berlaku dalam kehidupan, upacara adat kelahiran sampai kematian. Saya kecil diajarkan menari serimpi diiringi nayaga (penabuh gamelan), berbasa Sunda halus, duduk timpuh sesuai aturan anak perempuan Sunda. Semenjak keluar kampung mencari peruntungan di kota besar, menikah dengan suku lain, adat dan bahasa baik dari saya maupun suami menjadi samar tidak lagi diteruskan pada anak-anak (yang sesungguhnya adalah generasi masa depan). Suatu kesalahan yang sedang kami coba perbaiki. Indonesia yang lebih baik hendaknya mengajarkan generasi muda tradisi dan budaya leluhurnya.


Anak-anak dari kampung Cihanyir semangat pergi ke sekolah di SDN Inpres Nagaraherang, sementara yang SMP harus naik angkot menuju SMPN 1 Sukahening sekitar 3 km perjalanan  || ©JelajahSuwanto
Anak-anak dari kampung Cihanyir semangat pergi ke sekolah di SDN Inpres Nagaraherang,
sementara yang SMP harus naik angkot menuju SMPN 1 Sukahening sekitar 3 km perjalanan  || ©JelajahSuwanto

Pendidikan merupakan salah satu modal untuk mencapai kesejahteraan. Pagi hari kami berpapasan dengan wajah-wajah penuh semangat, mereka telah berjalan kaki sekitar 20 menit. Yang seragam putih merah butuh sekitar 15 menit lagi untuk tiba di SDN Inpres Nagaraherang, yang putih biru tinggal 10 menit sampai ke ujung jalan menunggu angkot yang akan membawanya ke Sukahening. Itulah wajah pendidikan di kaki gunung, semoga kualitas pendidikan yang mereka dapatkan sama baiknya dengan kota besar.

Sebab miris ketika keluarga suwanto berjumpa dua anak kelas 6 SD di Passilohe, Pulau Liukang Loe, Sulawesi Selatan, mereka tak bisa ikut ujian nasional di Bira karena ombak mengganas. Boro-boro internet, listrik hanya menyala hingga jam 10 malam, itupun hasil patungan genset para warga. Bagaimana bangunan SDN Satap di pulau kecil itu sangat mengkhawatirkan. Atau menatap binar anak-anak Tanjung Talaip di Kepulauan Wayag kala mereka melihat buku bacaan anak saya. Indonesia yang lebih baik harus ADIL dalam pendidikan, kesehatan, hukum dan segala hal yang berkaitan dengan kesejahteraan warganya.

Zaman saya sekolah dasar agama jauh dari isu, sampai pada suatu hari seluruh anak perempuan di SDN Inpres Nagaraherang diwajibkan berkerudung. Sejak saat itulah saya dan sedikit teman lainnya seolah anak aneh di mata mayoritas. Percayalah, itu sangat tidak menyenangkan. Padahal semula kami hanyalah anak kecil yang guyub tak tahu menahu urusan keyakinan. Indonesia yang lebih baik hendaknya mengamalkan toleransi dan menghormati keyakinan masing-masing pribadi.


4. Menghidupkan Kembali Fungsi Keluarga untuk Indonesia yang Lebih Baik

Bagaimana mencapai Indonesia yang lebih baik? saya ingin menantang setiap Keluarga Indonesia untuk membudayakan sikap hidup yang mengarah pada tujuan terpenuhinya Indonesia seperti yang diharapkan pada poin 3 di atas. 

Pekan lalu kami menghabiskan bacaan bagus Bumiku Sehat Aku Gembira, ada satu yang menarik tentang gambaran umum warga Jepang. Dikutip Warga Jepang mempunyai satu pikiran bersama: “Siapa yang membuat kotor dan berantakan, dialah yang bertanggung jawab untuk membuatnya bersih dan rapi seperti semula.” Hal ini berlaku di mana saja, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, alat transportasi umum, ataupun tempat lainnya. (Sri Aktaviyani, 2020:30)

Itu baru dari tanggung jawab mengelola sampah, belum segi kedisiplinannya. Timbul pertanyaaan bagaimana mereka bisa sedemikian berbudaya? Sementara kita tahu individu di Indonesia masih banyak yang suka war wer buang sampah sembarangan, eh bukan di Indonesia ding, kayaknya di #negeriberflower deh yang kelakuannya kurang berakhlak gitu. Maaf.

Dari pengalaman keluarga kami, sering saya ceritakan di jelajahsuwanto kalau bapak meski orang gunung tapi mengerti sekali dampak buruk sampah pada lingkungan, maka sedari kecil kami dicekoki secara terus-terusan untuk membuang sampah dengan benar. Sungguh ini menjadi bawah sadar yang membentuk kebiasaan hidup. Dari sini saya percaya kebiasaan baik harus dirawat terus menerus dalam keluarga. 


8 fungsi keluarga, sumber: http://indonesiabaik.id/infografis/8-fungsi-utama-keluarga
 

Adapun fungsi keluarga menurut  UU no. 10 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah nomor 21 tahun 1994 ada 8, yakni: Agama, sosial budaya, cinta kasih, saling melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan. Ke-8 fungsi keluarga tersebut harus didengungkan kembali dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari yang mengacu pada pencapaian Indonesia yang lebih baik.

Dasawisma, RT, RW diarahkan menjadi lembaga masyarakat yang mengawal pemenuhan progam penguatan keluarga ini. Keluarga-keluarga patut memberikan kemampuan terbaiknya mencetak seorang Indonesia. Tak ada lagi korupsi, kekerasan agama, ketidakadilan sosial dan perusakan lingkungan bila di tempat yang paling dasar dibekali sikap hidup yang benar. Setiap saat setiap waktu pada setiap keluarga. Semoga!


5. Delegasikan pada Mereka yang Kompeten Membawa Indonesia yang Lebih Baik

Mengelola Indonesia sebagai negara kepulauan tentu bukan perkara mudah. Keberagaman Indonesia memerlukan strategi cerdas dalam bertindak. Paham mana kekuatan, kelemahan dan potensi. 

Membawa Indonesia yang lebih baik untuk hajat hidup hampir 269 juta jiwa penduduknya memerlukan kecakapan dalam memimpin. Perlu kejelian mendelegasikan tampuk kepemimpinan di tiap unit daerahnya pada mereka yang kompeten di bidang masing-masing.

Pemimpin-pemimpin daerah di seluruh wilayah Indonesia haruslah seseorang yang sudah selesai dengan kepentingan diri dan golongannya sendiri.

Seseorang yang memiliki nilai #negaraberforest mencintai Indonesia, termasuk hutan dan segala isinya. Memiliki toleransi dan mampu mengamalkan Pancasila. Bertanggung jawab, amanah, tidak lepas tangan dan yang paling penting gigih konsisten mencapai tujuan Indonesia sejahtera.

 ***

Indonesia yang lebih baik bukan mimpi siang bolong. Indonesia yang lebih baik adalah tujuan yang layak diperjuangkan! Keluarga Indonesia pemilik generasi muda sebagai masa depan Indonesia ayo bersama siapkan diri. 

Banggalah menjadi Indonesia, mari ambil peranan. Kamu yang berusia 17-25 tahun atau yang berjiwa muda yuk beraksi membangun Indonesia bersama Golongan Hutan.

 

Lestarikan alam, generasi muda ayo ambil peranan mewujudkan Indonesia yang lebih baik  || ©JelajahSuwanto

 

 
Referensi:
https://jabar.tribunnews.com/amp/2020/05/28/korupsi-proyek-cisinga-eks-kadis-pupr-tasikmalaya-cs-dituntut-pidana-penjara-15-tahun?page=2
https://www.golonganhutan.id/

25 komentar:

  1. Keren mbak. Patut digarisbawahi nih kalimat : "pemimpin2 indonesia haruslah mereka yg sudah selesai dng diri sendiri". Cucok bgt menjelang pilkada. Karena para pemimpin apalagi wakil rakyat harus benar2 mikirin kepentingan umum,bukan pribadi atau golongan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya harapan saya demikian Mbak Novi, pemimpin yang menyejahterakan rakyat.

      Hapus
  2. Tulisannya pas banget mbak jelang pemilihan kepala daerah. Semoga pemimpin ke depannya adalah mereka yang menaruh kepentingan rakyat di atas, memprioritaskan kesejahteraan bersama. Aamiin

    BalasHapus
  3. Wah liat gunung, sawah, sungai jadi rindu suasana alam yang segar, sejuk dan hijau. Jadi pengen mbolang nih mbak hehee..

    BalasHapus
  4. Bacanya sedih melihat kondisi hutan sekarang, jadi inget zaman kakek nenek, SDA subur makmur, masyrakat tenang tentram.

    Tetep optimis untuk Indonesia lebih baik...

    Makasih mba pencerahannya, jadi lebih peduli dengan lingkungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pulang kampung sekarang terasa beda, hutannya mulai botak. Tetap optimis saling peduli.

      Hapus
  5. Suka sedih da aku mah ngeliat alam yang makin hari makin merana ya mbakee... hawa panas makin merajalela euy. Aku juga mo titip pesen sama mereka yang akan jadi pemimpin, semoga punya hati nurani dan kasih sayang yang lebih untuk alam persada kita ini ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh iya itu panass gak kuat, Yogya juga ya?
      Amin lahir pemimpin berkat strong mom!

      Hapus
  6. Yes, Indonesia yang lebih baik bukan hanya sedkedar mimpi tapi layak diperjuangkan oleh kita semua. Diantaranya dengan cara menghidupkan fungsi keluarga. Ulasan yang menarik, Mbak...Membayangkan dibesarkan di tempat yang masih ari dan alami seperti Nagaraherang betapa menyenangkan. Sungguh sayang jika kearifan lokal sudah banyak yang menghilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Dian. Membayangkan setiap keluarga bangkit bersatu menjaga alam lingkungan alangkah indahnya.

      Hapus
  7. Aku setuju dengan kuote, delegasikan pada mereka yang kompeten. Tapi ya gitu menjelang Pilkada gini, siapa yg kita pilih, siapa yg akhirnya memimpin, harus kita terima dengan legowo, dan cuma bisa berharap supaya yg memimpin memang kompeten.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, tetap legowo dan menerima juga merupakan dukungan untuk Indonesia yang lebih baik.

      Hapus
  8. Setuju pake banget, Mbak. Delegasikan kepada mereka yg lebih kompeten. Ini memang suatu harus sebenarnya ya. Hanya saja egoisme seseorang akan kedudukan dan jabatan tanpa mengukur kemampuan diri kerap membuat orang itu lupa. Merasa dirinya mampu, padahal ga bisa apa-apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pemimpin yang baik mestinya improve kemampuan terus menerus, ya Mbak. Kalau sudah merasa paling dan gak menyadari ketidakmampuannya laah bahaya ini :)

      Hapus
  9. Kalau lihat alam yang semakin hari semakin rusak, rasanya ingin berontak melawan para penguasa yang telah semena-mena "menjual" alam demi pembangunan yang ujung-ujungnya dimiliki dan dikuasai oleh orang yang berduit. Di Makassar sekarang, kita tidak lagi menikmati indahnya Pantai Losari dengan pandangan yang luas. Sejauh mata memandang ada bangunan di sana yang sebentar lagi akan menutupi pemandangan keidahan akan terbitnya atau terbenamnya matahari. Belum sekarang tapi lambat laun akan begitu setelah bangunan-bangunan di pinggir laut sana berdiri megah. Maaf numpang mengeluarkan unek-unek, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Bunda.. jadi rindu Makassar. Sulawesi Selatan itu cantik sekali bentang alamnya. Lautnya juga selalu di hati. Saya malah belum sempat melihat bangunan-bangunan megah di Losari. Sayang sekali kalau akhirnya hanya mensejahterakan segelintir orang, ya Bun. Ada yang salah kalau begini :(

      Hapus
  10. Nengok fotonya saja keren lho mba, apalagi dulu ya pasti lebih mantap lagi ya. Saya sendiri termasuk yg apatis mba, banyak yang berpotensi punya kemampuan yg mumpuni namun keegoisan dan kepentingan pribadi dan kelompoknya lebih diutamakan sehingga sekeren apapun kebijakannya maupun pemimpinnya kalau tidak ada dukungan tetap saja nol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulunya alami lebih asri. Ya, dukungan semua pihak juga sangat berpengaruh.

      Hapus
  11. Balasan
    1. Hai Salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung.

      Hapus
    2. Isi tulisannya bagus sekali.jadi ingat sama kampung halaman.

      Hapus
  12. Action dr diri sendiri... Buat EE =Eco Enzym dan tuangkan pd sungai atau parit yg kotor, minyak jelantah ubah mjd sabun untuk bersih2 dapur, mulai mengajak warga menanam pohon sbg penyimpan air dan penyaring udara.. Dari yg kecil dan sederhana dulu mbak Sri. ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah terima kasih masukannya. Cocok nih untuk tindakan aksi. Dari yang kecil dan sederhana dulu ya.

      Hapus