Selasa, 17 November 2020

Kapurung Aroma Luwu, Cita Rasa Segar Unik Asam Patikala

 

Kapurung Aroma Luwu, cita rasa asam patikala yang ngangenin || ©JelajahSuwanto
Kapurung Aroma Luwu, cita rasa asam patikala yang ngangenin || ©JelajahSuwanto

“Bun, aku ko kangen makan kapurung ya.” Sulung mengagetkan fokusku. Pasalnya si Mas baru saja lihat-lihat foto lama ketika kami masih tinggal di negeri Anging Mamiri. Tiba-tiba saja aroma kapurung, cita rasa asam khasnya menggugah selera #halaaah.

Kapurung favorit kami adalah kapurung dengan kuah segar ala Rumah Makan Aroma Luwu. Di Makassar ada 2 rumah makan yang menyajikan menu khusus kapurung, Aroma Luwu dan Aroma Palopo. Aroma Luwu terasa lebih ringan dan segar dibanding kapurung Aroma Palopo yang sepertinya menggunakan bumbu kacang untuk kuah. Keduanya sama-sama nikmat, tapi selera kami tetap Aroma Luwu Sultan Alauddin.

Menu RM Aroma Luwu tidak semeriah Aroma Palopo yang banyak variannya. Justru karena itulah kalau datang ke sini fokus kami langsung ke Kapurung, sesekali Barobbo, Lawa, Bandeng goreng atau Ikan Parede.


Menu makanan khas Luwu di RM Aroma Luwu Makassar || ©JelajahSuwanto
Menu makanan khas Luwu di RM Aroma Luwu || ©JelajahSuwanto

Kapurung 

Kapurung di Aroma Luwu dibuat sesuai pesanan, satu porsi besar sudah lengkap dengan ikan dan sayuran. Sehat banget. Butuh waktu sekitar 10 menitan untuk memasaknya. Kapurung terbuat dari sagu pilihan dibuat menggunakan sumpit yang disebut Paddui. Mirip-mirip Papeda, tapi beda cara penyajian dan pengolahan. Kapurung aroma luwu  diolah dan dicampur dengan air ikan, air sayur, dan air daging rebus. Kelengkapannya ditambah sayuran, seperti: kangkung, kacang panjang, jantung pisang dan asam patikala. Kapurung lezat dinikmati panas.

Lawa 

Lawa juga semi siap saji, baru dibuat setelah ada pesanan. Lawa berasal dari kata “Dilawa” atau dihancurkan hingga remuk.  Lawa dibuat dari ikan segar pilihan yang diambil hanya dagingnya saja. Ikan merupakan tangkapan baru, bener-bener fresh baru diangkat ke darat oleh seorang nelayan. Ikan yang telah dilawa kemudian dicampur dengan kelapa goreng, jantung pisang, asam, jeruk serta cabe secukupnya. Lawa cocok banget dimakan sama Ruji atau nasi.

 

Daftar menu makanan dan minuman di RM Aroma Luwu tidak terlalu bervariasi seperti di Aroma Palopo || ©JelajahSuwanto
Sambil nunggu Kapurung datang nyeruput teh manis panas boleh juga || ©JelajahSuwanto

Ruji atau disebut juga Dange 

Ruji terbuat dari tepung sagu semi kering yang dicetak pada alat berbahan tanah dan dipanggang secara tradisional menggunakan kayu bakar. Ruji ini tawar bertekstur kering, maka biasanya dimakan dengan cara dicelupkan ke dalam air ikan parede atau air sayur lainnya. Ruji bisa dihidangkan dengan lauk apa saja, seperti ikan parede, lawa, sayur asam, ikan bakar, dll. 

Ikan Parede 
Menu ikan parede selalu siap saji. Parede berasal dari kata "Pa" yang berarti pelaksanaan masak-memasak, "Rede" bahasa Bugis Luwu artinya mendidih. Parede berarti  ikan segar bisa bandeng atau kakap putih yang dimasak hingga mendidih sempurna. Masakan ini didominasi oleh rasa asam tradisional khususnya Asam Patikala. Ikan Parede hampir cocok untuk menemani berbagai jenis makanan pokok seperti nasi, ruji/dange, kapurung, jagung rebus, ubi/singkong rebus bahkan roti tawar, dsb.

 

Asam Patikala alias buah honje, kecombrang, kincung, asam cekala, kecicang, dll || jelajahsuwanto,  sumber food.detik
Asam Patikala alias buah honje, kecombrang, kincung, asam cekala, kecicang, dll. sumber food.detik

Asam Patikala

Saya sempat kepo bertanya kepada ibu yang masak di Aroma Luwu, asam patikala itu apa sih? Walaah, jebulnya asam patikala itu kalau di Jawa ternyata buah Kecombrang atau orang Tasik bilangnya Honje. Nama Latinnya Etlingera elatior, yang disebut Kincung, Asam Cekala di Sumatera Utara, Bali jadi Kecicang dan Sambuang atau Rias sebutan Minangkabau.

Setahu saya kecombrang hanya digunakan bunganya, ternyata buah yang dinamakan asam patikala ini enak menyegarkan. Hampir semua bagian tanaman kecombrang dapat dimasak. Ada yang bilang tunas mudanya bisa untuk menurunkan demam dan pereda masuk angin.  

Nah, cara masak kecombrang juga beda-beda di berbagai tempat. Kalau ibu saya langsung buat lalapan cocol sambal, di Jawa suka nemuin buat ngeramein pecel atau urap. Kalau di Bali untuk campuran sambal matah yang yahud itu. Sementara, orang Karo dan Batak menggunakannya untuk bikin sayur asam khas Karo serta arsik ikan mas. Makassar menggunakannya untuk Pallu Mara. 

Kapurung Makanan Khas Luwu || ©JelajahSuwanto
Kapurung Makanan khas Luwu || ©JelajahSuwanto
 

Karena kembali ke Makassar entah bisa kapan lagi, maka untuk menyenangkan hati sulung, Bun sigap cari resep Kapurung Aroma Luwu. Segera dipraktekkan! Semoga berhasil.

4 komentar:

  1. Wah kecombrang toh, maksudnya dengan aroma luwu. Ta kirain tadi luwu tuh nama tempat gitu. Memang aromanya khas menggugah selera. Dimasak dengan tumis tahu juga enak.
    Nah, kapurung aku belum tahu nih Kak, seperti apa bentuknya...

    BalasHapus
  2. Wah aku baru tau kalo kecombrang itu punya nama lain honje dan asam patikala,kalo aku taunya cuma buat pelengkap pecel ternyata bisa dibuat jadi berbagai makanan juga ya. Duh jadi ngiler sama makanannya Mbak, jujur aku baru tau sama nama-nama makanan yang Mbak sebutkan, kayaknya seger dan ada rasa-rasa ikannya gitu ya, semoga suatu saat bisa icip-icip.

    BalasHapus
  3. Aku lapaaaar bayangin cerita dan fotonya. Pantas si Sulung kangen masakan negei Anging Mamiri..wong enak-enak gini hihihi
    Dan aku penasaran coba semua...terutama pas bayangin Lawa yang dibuat dari ikan segar pilihan yang diambil hanya dagingnya saja. Segar pasti karena baru saja tiba di darat dari seorang nelayan. Dicampur dengan kelapa goreng pula setelah dilawa...ya ampun enak pasti ya

    BalasHapus
  4. Menarik banget cerita makanannya. Ini saya anggap cerita ya, karena bener-bener ada cerita dalam setiap bahan-bahannya. Kecombrang gak nyangka banget bisa jadi hidangan lezat dalam berbagai variasi. Saya tahunya dibuat arsik karena sering pesan sama teman Batak. Atau buat kulupan pecel itu tadi. Ternyata bisa buat sambal dan lain sebagainya. Hm... menarik. Pengin nyicip hasil kreasi masakan Keluarga Suwanto.

    BalasHapus