Rabu, 20 November 2019

Rawat atau Musnah, Segenting Itukah Cagar Budaya Indonesia?



Cagar budaya situs Rante Bori Parinding, Kabupaten Tana Toraja  @jelajahsuwanto


Rawat atau musnah? Diksi ini jelas ditujukan untuk hal krusial dan bermakna esensi. Kini di pundak milenial, Cagar Budaya Indonesia sampai pada pilihan genting tersebut. Sejatinya cagar budaya adalah sumber memori kolektif tentang peradaban leluhur, jati diri dan pembentuk karakter bangsa Indonesia. Namun, apakah kita, masyarakat Indonesia sungguh mengenal dan bangga akan cagar budayanya sendiri?

“Mas, tahu gak cagar budaya itu apa?” Iseng, aku ingin tahu sejauh mana si sulung memahami cagar budaya.
“Tahu. Kayak Museum, Sumpang Bita, Leang-leang, sama Makam Tuanku Imam Bonjol, kan?” balasnya datar saja.
“Iya, kurang lebih seperti itu. Sebenarnya cagar budaya adalah warisan budaya yang bersifat kebendaan. Wujudnya bisa berupa benda, struktur, situs, kawasan, dan bangunan, seperti yang Mas sebut tadi.” Aku terpancing menjelaskan pada wajah kurang antusias itu.  “Menurut Mas, jelajah cagar budaya kita seru gak?
“Jelajah sama keluarganya seru, tapi cagar budayanya enggak terlalu. Kurang menarik. Sepi." Itulah jawaban jujur remaja 14 tahun.

Percakapan di atas memang tidak bisa digeneralisasi sebagai cara pandang milenial. Namun harus diakui, cagar budaya kita masih kurang menggugah minat untuk sekadar berkunjung. Padahal menyambangi cagar budaya adalah pintu masuk bagi rasa cinta yang harapannya dapat menumbuhkan kebanggaan sebagai seorang Indonesia. Kalau sudah bicara cinta, dengan kesadaran sendiri tanpa diminta setiap kita akan merawatnya biar tidak ambyar apalagi musnah. 



Cagar budaya menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya


Generasi Milenial Tongkat Estafet Indonesia Kini


Segala sesuatu memiliki masanya. Ada hal yang perlu diingat, dirawat serta dilestarikan, ada juga yang harus ditinggalkan. Warisan budaya Indonesia terbentuk dari sejarah panjang yang dipengaruhi oleh kehidupan setiap generasi. Terekam dari masa prasejarah hingga nanti. Saat ini milenial-lah yang mewakili seluruh masyarakat Indonesia untuk memegang tongkat estafet pelestarian budaya. 

Milenial menurut KBBI Daring Kemdikbud berkaitan dengan generasi yang lahir di antara tahun 1980-an dan 2000-an: kehidupan generasi -- tidak dapat dilepaskan dari teknologi informasi, terutama internet.

Sementara itu berdasar UU RI Nomor 11 Tahun 2010, kriteria Cagar Budaya yaitu jika berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan, dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. 

Jarak 50 tahun itu rasa-rasanya membuat generasi milenial tidak memiliki keterikatan langsung pada cagar budaya. Apalagi kecepatan teknologi informasi mengambil peranan besar, seolah memaksa generasi milenial setiap hari narsis di medsos untuk hal-hal yang kurang substansi. Alih-alih berkunjung ke cagar budaya, milenial nampak lebih suka mendatangi destinasi instagrambale yang menawarkan pengalaman atau suasana baru.  


Cagar Budaya Kompleks Megalit Kalimbuang Bori di Kabupaten Tana Toraja, terkesan kuno dan sunyi @jelajahsuwanto



Cagar Budaya Indonesia di Mata Milenial

Keluarga Suwanto sebagai bagian dari generasi milenial sangat beruntung dapat tinggal sementara waktu di jazirah Sulawesi yang memesona. Melakukan perjalanan dan jelajah di sekitar tempat tinggal adalah wujud cinta kami pada Indonesia. Seringnya rasa penasaran malah membawa jelajahsuwanto pada situs cagar budaya, yang tidak kami sangka sama sekali.

Minim informasi, itu yang kami rasakan mengenai cagar budaya.
Dan, situs-situs cagar budaya yang pernah kami datangi laksana suaka sunyi yang jarang dijamah perjumpaan.

Sebut saja Taman Prasejarah Sumpang Bita di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), secara formula 5A wisata (Attraction, Activity, Accessibility, Amenity, Accommodation) paling tidak 4 poin terpenuhi, tapi sepi pengunjung. Leang-leang di Kabupaten Maros, Situs Megalitik Kalimbuang Bori, Rante Karassik, makam-makam kuno di Tana Toraja dan Makam Pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol di Lotta juga bernasib sama.
Namun Kete Kesu dan Candi Prambanan lebih baik pengelolaannya. Kedua objek cagar budaya ini menarik banyak wisatawan karena menambahkan atraksi wisata budaya.

Bisa jadi, sama sepertiku generasi milenial mengasosiasikan cagar budaya sebagai sesuatu yang kuno, kurang terawat, kusam, lapuk, atau tidak utuh lagi, tanpa tahu proses panjang di belakangnya. Menjaga cagar budaya dengan rentang usia puluhan bahkan ratusan tahun pasti tidak mudah. Banyak faktor yang mempengaruhi, mungkin regulasi pemerintah, dana, sumber daya manusia, dan lain lain.

Cagar Budaya Kete Kesu lebih menarik pengunjung, bahkan dari mancanegara karena memiliki nilai tambah atraksi wisata budaya yaitu Toraja International Festival @jelajahsuwanto


Pentingnya Pelestarian Cagar Budaya Bagi Identitas Bangsa Indonesia

Pelestarian cagar budaya dijabarkan dalam Pasal 3 UU No. 11 Tahun 2010 dengan tujuan untuk: a) Melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia. b) Meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui cagar budaya. c) Memperkuat kepribadian bangsa. d) Meningkatkan kesejahteraan rakyat. e) Mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.

Jelas, cagar budaya Indonesia adalah persoalan inti yang patut dilestarikan karena menyangkut harkat dan martabat bangsa.

Untuk mencapai tujuan besar ini perlu usaha gigih dan kesadaran bersama. Pemerintah, masyarakat, dan swasta atau komunitas penggerak seyogianya saling bersinergi. Poin a, b, c dan e bisa dilakukan mulai dari pribadi-pribadi yang peduli sampai ke tataran paling tinggi yaitu pemerintah. Sementara poin d mengenai kesejahteraan rakyat, pemerintah bekerjasama dengan pemangku kepentingan terkait mengusahakan agar keberadaan cagar budaya dapat mensejahterakan rakyat setempat, misalnya dengan menciptakan ekowisata.

 
Cagar Budaya Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol di Lotta Minahasa memiliki nilai penting bagi sejarah, pendidikan, agama, dan kebudayaan Indonesia @jelajahsuwanto

Ayo Terlibat dalam langkah Awal Pelestarian Cagar Budaya

Termasuk dalam langkah awal pelestarian, jika menemukan objek yang diduga sebagai cagar budaya:

  • Masyarakat dapat mendaftarkan langsung ke dinas kebudayaan di wilayah setempat, atau bisa secara online ke website https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id. Seperti disebutkan di atas objek yang diduga sebagai cagar budaya, salah satu kriterianya adalah berusia di atas 50 tahun. Dianggap Memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan kebudayaan. Contohnya rumah tradisional, koleksi pribadi yang memiliki keunikan dan sejarah lokal.
  • Setelah didaftarkan, objek yang diduga sebagai cagar budaya akan diverifikasi hingga dilakukan kajian oleh Tim Ahli. Selama proses kajian, objek tersebut tetap dilindungi hukum, artinya tidak boleh dihancurkan hingga penetapan status cagar budayanya dikeluarkan oleh Bupati/Walikota, Gubernur atau Menteri sesuai tingkat kewenangannya. 
  • Jika hasilnya layak sebagai cagar budaya, maka Tim Ahli akan membuat rekomendasi untuk membuat penetapan status cagar budaya. Pemilik akan mendapat Surat Keterangan Kepemilikian Cagar Budaya & Surat Keterangan Status Cagar Budaya. Bagi bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya, di beberapa daerah mendapat reward pengurangan pajak. Selain itu, tentu, benda yang memiliki surat keterangan cagar budaya mempunyai nilai jual yang tinggi.
Demikian, bahkan untuk sampai terverifikasi sebagai cagar budaya memakan waktu yang tidak sedikit. 
 
Salah satu upaya pelestarian cagar budaya dari pemerintah adalah dengan melindungi objek cagar budaya sesuai regulasi yang berlaku @jelajahsuwanto

Generasi Milenial Mengambil Peran

Satu hal yang harus lekat dalam sanubari setiap generasi adalah jati dirinya. Secara konkret,  generasi milenial ditantang untuk tetap merawat bahasa, adat istiadat dan budaya daerah masing-masing. Sayang sekali bila milenial harus terjebak pada krisis identitas dari euforia budaya asing. Keren itu orisinal, bangga jadi orang Indonesia. Ramah lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, mengatakan tidak pada vandalisme adalah hal yang paling sederhana dari kualitas pribadi tapi berdampak luas. Mengabarkan lewat foto, menyuarakan kebanggaan atau kritik membangun bisa juga menjadi langkah mandiri bagi pelestarian cagar budaya khususnya dan Indonesia yang lebih baik. 

Keluarga adalah bagian paling utama

Keluarga adalah bagian terkecil dari struktur masyarakat. Kebanggaan sebagai anak Indonesia lahir dari para Ayah dan Ibu yang sejak dini mengajarkan dan mengayomi buah hatinya dengan kearifan lokal. Sejarah leluhur, cerita turun temurun tentang adat istiadat yang dituturkan dalam keluarga bisa menjadi pengantar untuk mengenal khazanah Indonesia. Jalan-jalan ajak keluarga ke cagar budaya juga sebuah upaya untuk menghargai Indonesia.


Istirahat sejenak saat mendaki seribu tangga di Cagar Budaya Taman Prasejarah Sumpang Bita Kabupaten Pangkajene Kepulauan, mengenalkan jelajah cagar budaya pada anak-anak adalah satu cara menanamkan kebanggaan sebagai seorang Indonesia  @jelajahsuwanto

Lembaga Pendidikan Aktif Mengedukasi Siswa Tentang Cagar Budaya
Setelah bermula dari diri sendiri dan keluarga, biasanya jika diajarkan oleh guru dan dibahas bersama teman sekolah, siswa akan lebih memperhatikan. Alangkah baiknya meskipun itu di sekolah nasional plus, jika setiap daerah memasukkan muatan lokal berisi pengetahuan tentang asal-usul, legenda, sejarah, dan warisan budayanya. Lebih menyenangkan jika siswa milenial dilibatkan dalam implementasi budaya, misal melalui pementasan tarian, alat musik, lagu dan pameran budaya. Diharapkan dengan cara tersebut siswa memiliki keterikatan dan kenangan yang manis tentang akar budaya Indonesia.

Pemerintah dan Perlindungannya Terhadap Cagar Budaya Indonesia
Sepertinya di lapangan masih banyak orang sepertiku yang belum paham apa-apa saja cagar budaya itu. Boro-boro mau bangga dan melestarikan, kenal saja tidak. Padahal di statistik telah terdaftar 96.355 cagar budaya, 48.950 diantaranya terverifikasi. Menghadapinya, pemerintah tolong jangan lelah mengedukasi masyarakat. Bagus lagi kalau cagar budaya tidak ekslusif, biarkan mudah diakses agar bila dimungkinkan masyakarat dapat memanfaatkannya untuk kegiatan bersama. Pemerintah bisa mengemas cagar budaya dengan terobosan baru yang menarik minat masyarakat, terutama generasi milenial untuk merasakan “experience” sejarah. Tapi, jangan cuma di Jawa, merata di setiap daerah Indonesia ya. 

Koleksi Museum Kete Kesu Tana Toraja yang diikembalikan oleh wisatawan asing dari Manchester, jika warga asing saja begitu tertarik dengan budaya kita, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kita bangga akan jati diri kita  @jelajahsuwanto
 
Pemanfaatan Teknologi Informasi
Merespon kemajuan zaman,  cagar budaya dan pemanfaatannya harus tersampaikan dengan cara-cara milenial. Entah itu berupa foto yang bikin kepo. Informasi yang diceritakan dengan santai di jejaring sosial, film yang mengedukasi, dsb. Fokusnya adalah konten tentang pelestarian yang mampu menyentuh generasi milenial untuk take action, tumbuh kesadarannya bila tidak andil merawat identitas bangsa musnah.

Siapa yang membuatnya? Tentu saja pemerintah, komunitas, dan kita generasi yang peduli, narablog, influencer, mimin pemerintah, dll.

Berharap sekali setiap daerah seragam memiliki media yang ramah informasi bagi warga. Mau mencari informasi tempat wisata, cagar budaya berikut harga masuknya tinggal buka website atau medsos  kota anu, kabupaten ini. Kan, asyik.

Mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional pun jadi lebih lebih mudah dan terbuka lewat kemajuan teknologi internet.

Generasi Milenial, kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi? Lestarikan benda cagar budaya agar tidak kehilangan jati diri bangsa - Cagar budaya Leang-leang Kabupaten Maros  @jelajahsuwanto

Cagar Budaya Indonesia Musnah Jika Milenial Tak Rawat!
Di tengah arus globalisasi dan percepatan revolusi industri 4.0, era ini ditantang untuk teguh melestarikan akar budaya dan menampilkan jati diri Indonesia. Bagaimanapun tanggung jawab memajukan Indonesia telah sampai pada generasi milenial.

Salut pada komunitas yang memiliki kepedulian pada upaya pelestarian cagar budaya, seperti komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis yang memfasilitasi masyarakat umum untuk berkontribusi menyuarakan pesan pelestarian yang sama. Mari terlibat, mulai dari diri sendiri, sekecil yang bisa kita lakukan.

Bila tak ingin musnah, tongkat estafet harus tetap sinambung diberikan pada generasi selanjutnya. 
Ini adalah tugas kita bersama.


 

9 komentar:

  1. Sekarang memang gampang ya promosi cagar budaya lewat sosmed.. semoga semakin banyak cagar budaya yang terus dilestarikan

    BalasHapus
  2. Ada kalanya memang kita merasa cagar alam itu kuno dan nggak menarik. Sekalipun menarik seperti candi borobudur dan prambanan, yuni sangsi apakah yang datang benar-benar juga mencari tahu ada cerita apa di balik megahnya candi atau bangunan yang dikunjungi. Jangan-jangan hanya sekedar ajang mencari photo ciamik yang bisa dishare di medsos. Tapi daripada nggak sama sekali sih. Hehe

    BalasHapus
  3. Itulah ya ... Anak-anak jaman now perlu "disadarkan" pula pentingnya cagar budaya yang kita miliki saat ini. Semoga kita dan masyarakat setempat bisa turut merawat agar tak musnah termakan perubahan zaman.

    BalasHapus
  4. Cagar budaya masa kini kalau dirawat bisa jadi tempat yang menarik untuk dikunjungi juga kok, semoga generasi milenial semakin aware dengan merawatnya ya aamiin

    BalasHapus
  5. Mbak Sri saya sepakat bahwa untuk menjangkau milenial cara rawat cagar budaya pun hendaknya pakai cara milenial juga.
    Keren ini. Pastinya akan bisa menjaring kepedulian kalangan ini untuk pelestarian cagar budaya Indonesia

    BalasHapus
  6. Semoga dgn diadakan lomba blog ini hal terkait ttg cagar budaya dan tempat2 bersejarah bisa diakses dgn mudah oleh generasi jmn now y mb

    BalasHapus
  7. Wow.. Tana Toraja kereeeen. Bahkan dengan berbagi melalui tulisan cantik seperti ini saja sudah termasuk melestarikan cagar budaya ya mbak. Kami yang awalnya gak tau tentang Cagar Budaya Tana Toraja jadi bisa merasakan melalui tulisan ini. Gud Luck mbak

    BalasHapus
  8. Saya setuju nih dengan poin-poin yang Mbak sebutkan. Terutama tentang merawat cagar budaya dimulai dari keluarga. Baru meluas ke masyarakat dan seterusnya. PR kita bersama memang. Generasi milenial dan generasi Z memang perlu disadarkan dengan cara "yang berbeda" :) Nice info, Mbak

    BalasHapus
  9. Poin-poin yang dituliskan dalam artikel ini pas banget mbak. Sudah waktunya kita mengajak generasi baru atau istilah sekarang generasi milenial mengetahui, mengenali, dan merawat cagar budaya kita agar tetap lestari.

    BalasHapus