Selasa, 28 April 2020

Tari Kabasaran Minahasa, Teladan Dedikasi Waraney

Tari Kabasaran untuk Penyambutan Tamu Penting || Jelajahsuwanto
Tari Kabasaran untuk Penyambutan Tamu Penting || Jelajahsuwanto


Matahari kian terik di tanah Malesung, pasukan kesatria muda berkostum merah memekikkan seruan perang dalam bahasa Minahasa. Wajah tampan mereka berubah garang ketika tetamu nampak di muka gerbang. Senyum telah sirna berganti hujaman mata. Melotot, dingin dan seram. Para waraney bergerak mengayunkan senjata, berjingkrak melompat, menghentakkan kaki maju mundur sembari terus berteriak membangkitkan semangat. Anak-anak muda ini tengah menampilkan Tari Kabasaran untuk menyambut jajaran direksi yayasan yang menaungi sekolah mereka.

Tari Kabasaran sejatinya merupakan tarian perang suku Minahasa yang mendiami wilayah Minahasa dan sekitarnya di Provinsi Sulawesi Utara. Tarian ini diperankan oleh beberapa lelaki yang mencitrakan sosok waraney, para kesatria Minahasa yang memiliki sifat tauma dan wuaya, jantan dan berani. Tarian tradisional yang telah berusia ratusan tahun ini tetap lestari mengikuti perkembangan zaman. Hanya saja pada masa sekarang dimana kita sudah merdeka dari perang, Tari Kabasaran dipersembahkan sebagai penyambutan bagi tamu “besar” atau tokoh penting. Selain itu Tari Kabasaran kerap digunakan untuk memeriahkan pesta adat dan hiburan.




Selepas pementasan Tari Kabasaran untuk menyambut tamu penting || jelajahsuwanto
Selepas pementasan Tari Kabasaran untuk menyambut tamu penting || jelajahsuwanto foto by SCK

Tari Kabasaran, Selayang Pandang

“Bun, nanti aku pulang telat ya. Mau latihan Tari Kabasaran lagi.” Pamit sulung ketika akan berangkat sekolah, beberapa hari sebelum pementasan. Anak muda itu begitu antusias mempersiapkan diri.

Tari Kabasaran sangat khas. Kharisma tarian ini mudah lekat di ingatan. Mimik penari, kostum serba merah, tengkorak, pedang, dan genderang musik pengiringnya.

Di puncak Mahawu, Keluarga Suwanto pernah berfoto bersama seorang penari Kabasaran. Sedikit banyak beliau bercerita tentang tari perang ini.


Berpose dengan kostum Tari Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto
Berpose dengan kostum Tari Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto


Tanah Malesung atau Minahasa pada masa lalu kerap mendapat ancaman dari suku-suku sekitar, antara lain Suku Mangindanao, penguasa perairan laut dan Suku Mongondow. Demi membela kedaulatan, para leluhur Minahasa menyatakan perang. Orang-orang dengan sifat jujur, arif dan gagah berani dipilih untuk menguasai seni pedang dan tombak. Selanjutnya mereka disebut waraney, para kesatria tangguh bangsa Malesung.

Kabasaran sendiri diambil dari asal kata ‘wasar’ mengacu pada ayam jantan yang jenggernya dipotong agar lebih beringas ketika sabung ayam. Adapun gerak tari Kabasaran seperti memeragakan gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung.

 
Pose Tari Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto
Pose Tari Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto


Gerak Tari Kabasaran

Gerak dasar Tari Kabasaran terdiri dari 9 jurus pedang, ‘santi’ atau 9 jurus tombak, ‘wengkouw' dengan langkah kuda-kuda 4/4, dua langkah ke kiri dan 2 langkah ke kanan. Aturan tegas dalam gerak tari kabasaran yaitu santi tidak boleh dipakai menusuk dan menangkis, wengkouw hanya untuk gerakan menusuk, sedangkan menangkis hanya boleh memakai perisai ‘kelung’.

Ternyata terdapat beberapa babak dalam pertunjukan Tari Kabasaran, tapi yang umum dipertunjukkan yakni 3 babak: Cakalele, Kumoyak dan Lalaya’an. Pantas saja hampir setiap hari Mas dan teman-temannya berlatih Kabasaran.


Salah satu gerak Tari Kabasaran || jelajahsuwanto
Gerak Tari Kabasaran @jelajahsuwanto

Salah satu gerak Tari Kabasaran || jelajahsuwanto
Salah satu gerak Tari Kabasaran || jelajahsuwanto


Pada babak Cakalele penari Kabasaran memvisualisasikan pasukan waraney yang siap berangkat perang atau kembali dari medan perang. Cakalele atau Sakalele dalam bahasa Minahasa Tua, berasal dari kata “saka”, berlaga dan “lele”, berkejaran melompat-lompat. Gerak tari yang diperagakan yaitu maju melompat buat menyerang, mundur untuk menghindar dan gerak menangkis disertai jeritan-jeritan mengintimidasi musuh. Diibaratkan setan pun akan takut pada keberingasan pasukan waraney. Babak Cakalele ingin menyuguhkan rasa aman kepada tetamu agung karena dikawal oleh pasukan Kabasaran yang tangguh.

Dalam babak Kumoyak penari mengayunkan pedang atau tombak naik turun, maju mundur. Kumoyak dari kata ‘koyak’ berarti membujuk roh musuh yang telah dibunuh dalam perang. Kumoyak hendak menyimbolkan waraney yang menenteramkan diri dari amarah tatkala berlaga di medan perang.

Pada babak Cakalele dan Kumoyak penari diharuskan berekspresi sangar tanpa senyum sama sekali.

Lalaya’an menjadi penutup pementasan Kabasaran. Penari melakukan gerak bebas riang gembira. Lalaya’an melukiskan waraney yang berusaha melepaskan berang, meredakan murka selepas berperang.


Senyum manis penari Kabasaran || jelajahsuwanto
Senyum manis penari Kabasaran || jelajahsuwanto


Tari Kabasaran amat dinamis dan energik, selaras mengikuti musik dan aba-aba pemimpin tari. “Tumu-tuzuk” adalah pemimpin tari Kabasaran dalam bahasa Tombulu atau “Sarian”  bahasa Tonsea. Aba-aba diberikan dalam bahasa sub-etnik Tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Sementara itu musik pengiring Tari Kabasaran disebut Pa’Wasalen, berupa  tambur atau Kolintang.


Merah, warna dominan kostum penari Kabasaran || jelajahsuwanto
Merah, warna dominan kostum penari Kabasaran || jelajahsuwanto photo by SCK

Merah dalam Tari Kabasaran

Tari Kabasaran sebagai tarian perang didominasi warna merah. Dahulu kostum penari Kabasaran menggunakan kain tenun Minahasa asli dan kain Patola, tenun merah yang hanya terdapat di daerah Tombulu. Selain kain merah yang mewakili bara patriotisme dan beranian, penari Kabasaran juga dilengkapi dengan senjata, pedang atau tombak. Kain ikat kepala berhias bulu ayam jantan, burung Taong dan Cenderawasih, bunga kano-kano atau tiwoho. Ditambah penutup betis, ‘wongkur’ dan giring-giring lonceng dari kuningan ‘rerenge’en’.

Aksesoris penari yang menggambarkan kegarangan waraney lainnya adalah kalung leher dengan untaian tengkorak. Konon, tengkorak-tengkorak tersebut adalah musuh-musuh yang berhasil ditaklukkan saat perang. Bikin bergidik.
Banyaknya tengkorak menunjukkan kedigdayaan seorang waraney dan membuatnya memiliki status yang paling dihormati. Namun dalam kabasaran kini, tentu bukan tengkorak asli hanya ornamen.


Penari Kabasaran di Gardenia Resto Tomohon || jelajahsuwanto
Penari Kabasaran di Gardenia Resto Tomohon || jelajahsuwanto

Penari Kabasaran

Penari Kabasaran dalam adat Minahasa tidak sembarangan. Mereka adalah lelaki terpilih keturunan penari Kabasaran terdahulu. Sifatnya turun temurun. Setiap penari Kabasaran memiliki sebuah senjata warisan dari sesepuhnya yang akan dipakai saat menari. Meski santi atau wengkouw telah terasah tajam, namun perkakas ini tidak dapat melukai tubuh para penari. Kabarnya tubuh mereka kebal terhadap senjata.

Seperti disinggung di atas, dalam sejarahnya para leluhur minahasa menghimpun pasukan terpilih untuk menjaga kedaulatan wilayah. Demikianlah kemudian lahir waraney, kesatria tangguh yang kemudian secara tradisi terus menjaga ‘walak’, desa Minahasa. Merekalah cikal bakal penari Kabasaran. Dalam kondisi genting atau perang, para penari akan kembali menjadi waraney. Di luar situasi itu, mereka menjalankan perannya sebagai rakyat biasa dan hanya menari saat upacara adat.

Tumu-tuzuk atau pemimpin Kabasaran dipilih sesuai kesepakatan para sesepuh adat. Sementara itu untuk menjaga walak dari serangan musuh, mereka didampingi tonaas atau pimpinan adat. Tonaas tidak hanya satu, ada beberapa pribadi istimewa yang ahli di bidangnya masing-masing. Seperti Tonaas di bidang pertanian, Tonaas perang, dll. Yang pasti setiap Tonaas mahir membaca ‘alam’, mempunyai sikap tegas dan mampu menjalankan aturan adat. 


Selepas pementasan Tari Kabasaran di Manado || jelajahsuwanto
Selepas pementasan Tari Kabasaran di Manado || jelajahsuwanto
Bangga turut mementaskan Tari Kabasaran || jelajahsuwanto
Bangga menyaksikannya turut mementaskan Tari Kabasaran || jelajahsuwanto

Meneladan Waraney, Jiwa Kesatria yang Penuh Dedikasi

Selain menjadi identitas suku Minahasa, sesungguhnya Tari Kabasaran juga mencerminkan eksistensi seorang waraney. Tak hanya berperang, seorang waraney adalah pelindung suku, pemberi nafkah keluarga dan penjaga tradisi leluhur Minahasa. 

Melihat kesungguhan Mas mempersembahkan tarian Kabasaran, terbersit harap semoga ia mampu meneladan sikap kesatria waraney. Seorang yang selalu siap melawan segala bentuk kejahatan. Pribadi yang terus menerus membekali dirinya dengan kearifan dan mawas diri. Semoga.

 

Memakai beberapa aksesoris Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto
Keluarga Suwanto dengan beberapa aksesoris Kabasaran di Puncak Mahawu || jelajahsuwanto



Tidak ada komentar:

Posting Komentar