Selasa, 14 April 2020

Batu Lima Homestay Raja Ampat, Tempat Singgah Paripurna

Pantai di depan Batu Lima Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Perahu yang awalnya oleng di buritan kini laju meninggalkan Friwen membelah perairan tenang menuju Batu Lima, penginapan terakhir Keluarga Suwanto sekaligus menjadi tempat penutup selama Jelajah Raja Ampat. Tidak jauh. Kurang dari setengah jam kami selesai menaruh barang-barang di sebuah homestay berbentuk panggung dengan atap rumbia. Sementara langit menggayut kelabu seperti durja di paras Pak Suwanto.

Aku sungguh memahami, ibarat kulihat muramku sendiri pada pantulan wajahnya. Kandas. Impian yang digadang-gadang tak sepenuhnya sempurna. Harapan mencecap Piaynemo, Telaga Bintang, Yenbuba, Yeben, Teluk Kabui, Batu Pensil dan Pasir Timbul batal sudah. Sulit untuk mengulang kembali. Bukan perkara jumlah nominal yang mesti dihitung cermat, terlebih pengkondisian waktu. Akan tetapi kucoba riang demi menghiburnya, just enjoy every little thing…” bisikku.

Selamat datang di Batulima, Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Bungalow di Batu Lima Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto


Fasilitas Batu Lima Homestay


Bungalow yang kami tempati berupa rumah panggung dengan dua kamar berdempetan. Di dalamnya digelar dua kasur tipis ukuran single yang masing-masing dikurungi kelambu merah jambu. Karena kami berempat dan tidak ada kamar lagi, ya nikmati saja, kasurnya dipepet jadikan satu. Beres. Lumayan nyaman untuk melepas lelah.

Di depan kamar ada ruang kosong sebagai teras yang dilengkapi meja kecil dan bangku. Untuk penerangan di malam hari, Batu Lima Homestay mendapatkan pasokan listrik dari generator sendiri. Di Batu Lima, handphone mulai bekerja lagi, tang ting tung menampung pesan. Sinyal provider merah dan kuning bersaing kuat-kuatan.


  
Pemandangan senja dari pantai Batu lima Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto


  
Selain bungalow dengan 2 kamar yang kami tempati, Batu Lima Homestay memiliki bungalow di tepi laut. Kala itu sudah dihuni oleh sekeluarga berkebangsaan Jerman yang bekerja di Yogyakarta. Kedua anaknya seumuran Kecik. Seketika saja mereka berbaur dan menjadi akrab.

Maka benarlah kata Paulo Coelho, “There are three things that a child can teach an adult: to be happy for no reason, to always be busy doing something; and to know how to demand with all his might that which he desires.”

Untuk urusan MCK, mandi cuci kakus, Batu lima Homestay memberikan fasilitas kamar mandi dan toilet yang terpisah dari bungalow. Kamar mandi digunakan untuk umum, bersama-sama dengan tamu lain. Ketersediaan air dan kebersihan kamar mandi pas terjaga.

Langsung akrab di Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto


Yeah, ketika keadaan out of control, simply, kita selalu membutuhkan seseorang to be there. Cukup “hadir” usah kasih banyak nasihat atau segala tetek bengeknya. Setiap pasangan pasti memahami kekuatan “to be there.” Semestinya.

Om Paul, guide kami yang mengerti betul kekecewaan ini menawarkan diri menjaga anak-anak. Maka semata dengan Pak Suwanto, bersama menyibak riak ombak. Bergandengan tangan menyusur bentangan pantai. Dari muka Batu Lima melewati Yenanas Paradise hingga pasir putih lenyap, digantikan tanjung serupa karang bermahkota hutan hijau menjorok ke lautan.

Hanya berdua dalam diam pada suatu petang di negeri para raja.

Ujung pantai Yenanas, Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Pondok Makan Batu Lima Homestay


Makan malam di Batu Lima Homestay tak kalah nikmatnya dari masakan Mace di Talaip Homestay. Menu malam itu ikan bakar dipadu dengan sayur semacam daun so, daun pohon melinjo yang diambil dari hutan di belakang pondok. Sayur dimasak dengan kuah santan. Terkesan sederhana tapi entah kenapa acara makan di Raja Ampat selalu menggoda.

Makan malam disajikan di pondok makan di tepi laut. Tepat jam makan kami bersama-sama dengan tamu lain menyantap hidangan yang telah disiapkan per group. Adapun meja makannya berupa meja panjang besar dan beberapa bangku kayu. Antar sesama tamu bisa berinteraksi, namun tetap menjaga sopan santun. Di Pondok makan disediakan free minuman panas, teh, kopi dan gula.

Usai makan, kami menghabiskan waktu, membaca buku dan mengobrol santai tepat di muka pondok. Hammock hitam menjadi salah satu favorit Mas selama di Batu Lima.

Pondok makan Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Makan bersama di Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Hammock hitam tempat favorit di muka pondok makan Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto


Pesona Batu Lima Homestay

Kecewa hari ini cukup untuk satu hari, tak boleh dibawa hingga matahari tenggelam. Esok hari baru, cerita dan semangat yang penuh.

Maka pagi sekali saat anak-anak masih lelap dipeluk mimpi, Pak dan Bu Suwanto menitipkan lagi mereka pada Om Paul #tuman. Kami ingin menangkap matahari terbit dan memanfaatkan sisa waktu. Kali ini dari Batu Lima melewati Monkairi Homestay hingga mentok. Arah sebaliknya dari petang lalu. Ufuk timur nyatanya ada di balik pulau. Bukan sunrise, cuma semburat fajar yang menggores tepi langit.

Pagi hari menyusur sepanjang pantai Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto
Melewati Monkairi Homestay, Raja Ampat @jelajahsuwanto

Batu Lima Homestay mempunyai pesonanya sendiri. Betah saja sekadar duduk memandang lautan dari bawah pohon tempat gerombolan kupu-kupu memadu kisah. Perairan tenang dan terumbu karang yang tumbuh subur tak jauh dari pantai. Anak-anak pun aman berenang, bermain-main ombak atau membuat istana pasir serta berburu cangkang kerang.

Snorkeling di perairan dangkal di muka Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Terumbu karang tumbuh subur di perairan di muka Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Mas puas sekali bersnorkeling di perairan dangkal Batu Lima. Kalau Kecik lebih tertarik mengamati kupu-kupu dan berimajinasi di tepi pantai.

Rose, tamu Jerman yang bertegur sapa dengan kami mengatakan ia akan diving di sekitaran Batu Lima. Kegiatan Diving ini ditawarkan melalui kerja sama dengan resor Raja Ampat Biodiversity yang tak jauh dari homestay.

Terpesona pada sekumpulan kupu-kupu di pantai Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Burung dan kupu-kupu berbagi kisah di pantai Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto


Ceritanya Walking-walking to Place of Bird Paradise

Penasaran dengan cerita Pak Enos tentang Cenderawasih Merah di hutan Monkairi, tanpa banyak perhitungan, berdua lagi, Pak dan Bu Suwanto sepakat masuk hutan. Anak-anak dalam pengawasan penuh Om Paul. Maaf ya Kiddos, Ayah Bunda menjelajah duaan dulu.

Hutan Monkairi ternyata luas dan lebat. Semakin masuk ke perut hutan, pepohonan membentuk kanopi hijau meneduhkan. Tanahnya lembab berserak dedaunan gugur. Lumut hijau menutup batang kayu lapuk. Kepiting mati dan cangkang kerang ditemui di jalanan setapak. Sementara itu warna fuschia anggrek hutan dan merah dari buah-buah kecil sebangsa lobi-lobi menyemarakkan warna hutan.

Baiklah hayuk kita wolking to place of bird paradise di sekitar Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Hutan lebat Monkairi di sekitar Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Mendengung, bercicit, melengking, mendesau ... Suara-suara hutan mencipta harmonisasi magis.

Hutan semakin dalam, sayang kami belum bertemu Cenderawasih Merah. Sebenarnya untuk melihat burung cantik khas Papua ini tamu dapat mengatur dengan pihak Homestay. Mungkin ada semacam pawang yang tahu area dan kebiasaan sang burung.

Berhubung, setengah sebelas siang Keluarga Suwanto rencananya harus kembali ke Waisai maka dengan berat hati Pak Bu Suwanto putar balik.

Melompati pohon roboh di hutan Monkairi di sekitar Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

Mendengarkan harmoni magis suara hutan di sekitar Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto


Kebutuhan dasar untuk penghuni pulau di Batu Lima Homestay terpenuhi dari Desa Yenbeser yang berjarak 5 menit berperahu. Katanya kalau air surut, bisa juga jalan kaki menyeberangi laguna dangkal Dore Atri. Kami tidak bisa menjelajah lebih jauh. Semoga ada lain kali untuk menggenapi jelajah Raja Ampat.

Penting bagi para tamu untuk bersama menjaga kelestarian destinasi hijau Raja Ampat. “Woee jang buang sampah takaruang.” Perhatikan sekali sampah anorganik, plastik-plastik yang susah terurai. Buang di tempatnya atau bawa pulang lagi sampahmu.

Ingat-ingat neh Jang Buang Sampah Takaruang di Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto



Setelah makan, kami harus sayonara dengan Batu Lima Homestay dan segala keindahannya. Terima kasih Pak Enos sekeluarga.

Batu Lima Homestay secara administratif berada di Yenbeser, Yenanas, Pulau Gam, Waigeo Selatan, Raja Ampat. Bagi yang ingin menghubungi Batu Lima Homestay bisa kontak dengan Pak Enos Makusi di 0852 4437 4644.

Warimpurem, 35 menit kemudian setelah Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

35 menit kemudian dengan menaiki boat tanpa tutup, kami tiba di Warimpurem. Percayalah, boat tanpa dan dengan tutup sensasinya beda. Ada detak memburu di dada.

Dari Warimpurem kami menumpang mobil melanjutkan perjalanan darat menuju Bandara Waisai. Sebelum chek in di Bandara Marinda sempat mampir sebentar di pasar Waisai membeli ikan dan terasi buat oleh-oleh.

Jelajahsuwanto merayakan susah senangnya perjalanan. Sayonara Batu Lima Homestay Raja Ampat @Jelajahsuwanto

When I am down and oh my soul so weary. When troubles come and my heart burdened be; Then, I am still and wait here in the silence. Until you come and sit awhile with me.

You raise me up, so I can stand on mountains.You raise me up, to walk on stormy seas. I am strong when I am on your shoulders. You raise me up: To more that I can be…

Tak pernah ada yang menjanjikan perjalanan selalu biru, teduh, bersinar, menyenangkan, mulus, lancar, aman dan segala indah lainnya. Perjalanan punya takdir sendiri di luar kendali kita. Dan itu bukan masalah besar, karena kita menjelajahinya bersama-sama, merayakan susah senangnya dengan ketulusan dan cinta. Lirik You Raise Me Up-nya Josh Groban jadi pengiring jelajahsuwanto di Batu Lima. You raise me up, to more that I can be...






Tidak ada komentar:

Posting Komentar