Senin, 28 Agustus 2017

Bukit Pulisan: The View From The Hill Are Breathtaking!


Pemandangan dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Pemandangan dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Ikuti hatimu! Bisa dibilang itu adalah falsafah dasar jelajah Keluarga Suwanto. Sejauh ini mengikuti kata hati terbukti akan menuntun, membebaskan dan memberi damai. Seperti jelajah Bukit Pulisan. Kami telah berpamitan pada Pantai Surabaya tengah hari tadi, chek in di Cassabaio dan siap bermain ke Pantai Pal di Desa Pulisan yang terkenal berpasir putih.

“Ayah pernah lewat jalan ini, waktu kalian belum datang ke Manado,” sembari menyetir Pak Suami bercerita.
“O ya? terus apa yang ada di sana?”, balasku antusias. “Jalannya mentok, terus Ayah balik arah. Kita coba lagi yuk?”

Seketika semangatku menular pada anak-anak di jok belakang. Mereka bersorak gembira. Ayo menjelajah!


Jalan menuju Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Jalan menuju Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto

Tugu selamat datang di Desa Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Tugu Selamat Datang di Desa Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto

Tak lama setelah meninggalkan Casabaio kita bakal membelah perkebunan kelapa. Suasananya jadi beda, semacam sunyi masuk ke hutan. Nuansa hijau mendominasi. Tidak ada orang, tidak ada keramaian, tidak ada pemukiman. Cuma deretan Nyiur melambai, ibarat pagar ayu yang manthuk-manthuk kasih salam. Di jalan yang sudah beraspal mulus ini, di pesisir minahasa yang berbukit-bukit kami melintas sendirian. Sesekali, satu dua motor mendahului. Benar-benar lengang.

Tugu selamat datang Desa Pulisan membawa kembali ‘kehidupan’. Pemukiman bersahaja berderet rapi berhadap-hadapan. Namun, siang itu pintu-pintu rumah tertutup. Senyap di perkebunan, ranap pula di pemukiman.

Keluar dari desa, jalanan naik turun membelah ladang. Semburat kuning pupus bermekaran dari rumput liar di pinggir jalan. Kali ini ada kemeriahan. Kupu-kupu putih cantik bercengkerama menghisap nektar. Petunjuk jalan Pantai Pal telah terlewati. Begitu juga belokan ke arah Pantai Pulisan.

Usai menuntaskan penasaran, menelusuri jalan yang tahun lalu mentok dijelajahi Pak Suami, kami akan segera balik arah ke Pantai Pal. Itu rencananya.


Pemandangan Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dari jalan raya +jelajahsuwanto
Pemandangan Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dari jalan raya  +jelajahsuwanto

Bukit-bukit lain dilihat dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Bukit-bukit lain dilihat dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Cahaya surya menyinari segugus bukit hijau nun di kejauhan. Pak Suami menepikan mobil, membidikkan kamera dan mengabadikan bukit teletubies itu. Lima menit berselang, setelah turunan aspal, mata ini bisa-bisanya tergoda pada jalan tanah di sebelah kiri. Warna coklatnya begitu kontras menyalakan insting jelajah.

Kayaknya bisa loh kita naik ke bukit itu”, si Ayah setengah bergumam.
“Mau coba? Ayo parkir di pinggir sana saja.” Responku cepat tanpa pikir panjang, melupakan rencana awal.

Perlu dicatat, jalanan di Minahasa kebanyakan relatif sempit. Kita harus benar-benar menepi supaya tidak mengganggu lalu lintas. Namun, pinggir jalan yang akan kami jadikan tempat parkir ternyata tanah gembur. Melihat sekeliling, menimbang-nimbang, dan jadilah nekat. Bila mobil ditinggal di bawah, kami harus hiking entah berapa lama. Terlalu riskan meninggalkan mobil di tempat yang sama sekali tak dikenal.

Tantangannya yaitu menyeberang parit yang cukup dalam. Ada jembatan dari dua batang bambu, satu sama lain disusun sejarak mobil. Satu bambu lebarnya pas satu ban. Butuh nyali dan ketepatan untuk melewatinya. Salah perhitungan mobil terperosok dan kamu bakal terjebak, sebab sudah kukatakan lokasi itu jauh dari pemukiman.


Satu-satunya rumah di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Satu-satunya rumah di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Kebun cabai Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Kebun Cabai di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Atas nama nekat, mobil berhasil lewat. Kami menanjak tajam mengibaskan debu tanah kering. Sebentuk rumah, terjalin dari kayu dan bambu, satu-satunya bangunan di tengah bukit.

Lelaki setengah baya dengan perawakan kurus asyik bermain layang-layang. Ia menoleh ke arah kami datang, melemparkan senyum dan kembali menengadah langit. Dekat dengannya, seorang ibu menyunggingkan lengkung ramah dari tengah pipi gembil. Sama seperti Bapak, ia juga sibuk. Hanya saja, Ibu membersihkan kebun cabai. Buah-buah putih dan merah ranum di lereng bukit.

Alangkah harmonisnya, tinggal menyatu dengan alam, jauh dari hiruk pikuk dunia. Hanya jiwa bebas yang tak terikat dengan macam-macam kelekatan. Someday...

Kami permisi menitipkan mobil dan memohon izin naik ke bukit.


Trek menuju Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Trek menuju Puncak Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Salib putih di puncak kanan bagai bekedip sendu. Ke sanalah kami akan menuju pertama kali. Jalur pendakiannya tidak jauh, sekitar 10 menit, tapi kemiringan bukit cukup ekstrim. Tambah pula matahari bulan Juli tepat di ubun-ubun. Panas memanggang kulit. Sementara bukit di sisi kiri, sorenya dikunjungi Mas dan Ayah. Mereka mengejar sunset setelah kembali dari pantai pasir putih di bawah bukit.

Tak sia-sia semua kenekatan dan resiko yang baru saja kami taklukkan. Lihatlah di sana, lautan teduh berpagar pulau-pulau. Pasir putih tersembunyi di ceruk tanjung.

Bagi Jelajah Suwanto pemandangan dari tempat ini adalah salah satu momen breathtaking. Inilah Indonesia. Lukisan alam dari Bukit Pulisan di ujung utara Sulawesi.


Lautan teduh dilihat dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Lautan teduh dilihat dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto

lautan teduh dilihat dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Lautan Teduh dari Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


“Tanjung yang kelihatan dari sini, kalau ibu lihat di peta, itu adalah ujung Sulawesi Utara.” Seorang pemuda yang sepertinya anak pemilik warung (mukanya mirip Bapak tadi) menunjukkan tangan ke arah daratan yang menjorok. Kebetulan dia baru saja naik dari sisi lain lereng bukit.

Tiga tahun yang lalu pada hari kemerdekaan Indonesia, Keluarga Suwanto merayakannya di ujung selatan Sulawesi, Tanjung Bira. Kini, tiga tahun kurang sebulan, kami berada di sini, di ujung Sulawesi Utara, tanjung Pulisan. What a wonderful life! 


Sabua di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Sabua di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Sebuah sabua sederhana (saung dalam bahasa Minahasa) berada di tengah bukit. Terkoteng-koteng di persimpangan segala arah mata angin. Sabua ini menjadi shelter kami meluruskan kaki. Apalagi saat Keluarga Suwanto kembali dari pantai di bawah bukit. Anak-anak membuka camilan dan minum banyak air putih.

Di depan kami tebing hijau megah tersenyum. Semilir angin membawa imaji terbang ke negeri para dewa.

Sejauh mata memandang, banyak bukit yang nampaknya bisa dijelajahi. Di belakang, masih ada puncak indah berbalut padang rumput, laksana savana. Hijau kekuningan tertimpa mentari.


Lereng-lereng hijau di seberang Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Lereng-lereng hijau di seberang Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Bentang alama Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Bentang alam Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Jelajah tak melulu keindahan, adakalanya kita menemui hal-hal yang kurang berkenan. Di tempat seindah itu, mana sangka ada ranjau kotoran manusia. Untung awas, kalau tidak... hadeuuh. Oleh sebab itu, sikap waspada dan hati-hati tetap diperlukan.

Secara administratif, Bukit Pulisan berada di Desa Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Bukit Pulisan belum dikelola sebagai objek wisata. Namun demikian beberapa orang memanfaatkannya untuk lokasi pre wedding. Itu baru dugaan sih, ketika menuruni sisi lain bukit, kami juga berpapasan dengan dua sejoli yang menggunakan riasan, serombongan orang membawa kamera, baju pengantin dan box make up. Mereka berperahu dari Pantai Pulisan Besar.

Jalan yang kami lewati tadi memang tak umum.




Belum ada biaya-biaya untuk menjelajahi Bukit Pulisan hingga ke pantai-pantai di bawahnya. Paling, seikhlasnya memberi tanda terima kasih pada Bapak Ibu, pasangan serasi di tengah bukit.

Kami membawa secukupnya air minum, cemilan dan P3K ringan. Baju renang, handuk dan baju ganti. Memakai alas kaki yang tepat, baju yang menyerap keringat, sunblock dan topi sangat disarankan. Mataharinya benar-benar menggigit, bukan gosong yang ditakutkan tapi sunburn yang mesti dihindari.
 
Jangan lupa, bila tak bisa ikut menjaga kebersihan ya jangan mengotori. Bawa kembali sampahmu, karena di sana tak ada tempat sampah.


Berpose di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Berpose di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
   

Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Bukit kembar di perbukitan Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
 

"Gimana kalau ke Pantai Pal-nya gak usah sekarang? Kita turun bukit saja, ke pantai pasir putih itu,” aku memberi ide. Disambut anggukan sepakat Keluarga Suwanto. Adek kecik luar biasa tahan banting. Entah kekuatan apa yang dimiliki anak ini, naik turun lereng bukit terjal pun tetap riang.

"Ada pantai gua di bawah sana, Bu.Tapi jalannya curam, biasanya orang datang ke sana berperahu dari Pantai Pulisan,” anak muda berbaju biru yang masih terengah-engah itu menjawab pertanyaanku. Ia juga baru mendaki seperti rombongan calon manten tadi.

Kami terlalu penasaran ingin menjelajahi  bukit Pulisan ini.



lereng Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara menuju pantai +jelajahsuwanto
Lereng Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara menuju pantai +jelajahsuwanto


Jalan setapak di sepanjang lereng bukit menandakan jalan ini sering digunakan. Kami saja sudah berpapasan 3 kali. Tetap memperhatikan keselamatan anak-anak, pelan-pelan kami menuruninya. Alih-alih mengikuti jalur jalan setapak, tidak tahu bagaimana, kami malah masuk ke hutan dengan pepohonan lebat. Daun-daunnya serupa kanopi menghalangi matahari. Redup, lembab, dan sedikit spooky.

Kurang lebih 20 menit kami tiba di sebuah pantai tersembunyi. Pantai berupa ceruk kecil. Benar-benar sirep, hening. Dalam hati aku mendaras doa, kulo nuwun pada semesta untuk boleh menikmati keindahannya sebentar saja.


Pantai tersembunyi di bawah Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Pantai tersembunyi di bawah Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Laut tengah surut, batu-batuan besar menyembul di sana-sini. Gua yang disebut-sebut anak muda tadi terlihat dari pantai. Gua berada di tengah kaki bukit, untuk mencapainya tetap harus menggunakan perahu.

Pantai ini bukan seperti tujuan kami, pasir putih yang terlihat dari atas. Bukan pula pantai tempat orang-orang menambatkan perahunya dari Pulisan Besar. Jelas kami salah turun.

Apakah ini berarti Keluarga Suwanto harus kembali naik ke jalan yang benar. Atau?


Keluarga Suwanto di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto
Keluarga Suwanto di Bukit Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara, Sulawesi Utara +jelajahsuwanto


Mengikuti kata hati memerlukan keberanian. Ada banyak resiko, hal-hal yang tak terduga di depan sana. Tapi juga pengalaman dan keindahan.

Baru saja jelajah Bukit Pulisan mengajarkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar