Rabu, 29 Juli 2015

Taman Purbakala Sumpang Bita, Pangkep: Mendaki Seribu Tangga Demi Melihat Jejak Prasejarah

Air mancur Taman Purbakala Sumpang Bita Pangkep || JelajahSuwanto
Bundaran air mancur Taman Purbakala Sumpang Bita || JelajahSuwanto


Percaya atau tidak, The Prayer ujug-ujug mengudara persis ketika Keluarga Suwanto hampir tiba di mulut Gua Sumpang Bita. Padahal lagu yang dinyanyikan Celine Dion feat Andrea Bocelli ini ada di playlist blackberry di folder music. Blackberry dalam keadaan terkunci, tersimpan di saku celana Pak Suami. Artinya, perlu niat khusus untuk membuka lagu itu. Entah bagaimana The Prayer bisa berkumandang sendiri. Merinding. Sebuah kebetulan yang kedua.

“I pray you’ll be our eyes and watch us where we go. And help us to be wise in times when we don’t know. Let this be our prayer as we go our way. Lead us to a place, guide us with your Grace to a place where we’ll be safe”.


Sabtu, 25 Juli 2015

Akkarena, Sebuah Kisah Tentang Persahabatan

Sepasang sahabat menunggu ombak di pantai akkarena pada suatu sabtu yang cerah.

 "Bersenang-senanglah karena hari ini yang kan kita rindukan
Di hari nanti... sebuah kisah klasik untuk masa depan...
Bersenang-senanglah karena waktu ini yang kan kita banggakan
Di hari tua... woooh..."

Tiada Sabtu sore yang lebih pantas diingat, selain Sabtu ini. Sabtu yang cerah di penghujung Juli tahun 2015. Sebuah senja di Pantai Akkarena berkisah tentang persahabatan.

Adalah kisah persahabatan. Dua pasang sahabat. Kakak Beradik. 

Jelajah Keluarga Suwanto kali ini akan dimulai dengan kisah persahabatan Mas dan adeknya.

Suatu sore, sehari setelah kami tiba di sebuah negeri Anging Mamiri. Pintu sebuah rumah besar di sebelah rumah baru kami terbuka. Muncul seorang ibu muda. Ia tersenyum cantik. 


Bermula dari senyum itulah kisah persahabatan ini dimulai.

Senin, 20 Juli 2015

Malino Highland, Paket Komplit Wisata Keluarga

Malino Highland ||JelajahSuwanto
Kawasan ekowisata Malino highland dilihat dari Green Pekoe Cafe

Hari kedua Jelajah Malino, waktunya berpetualang! Dari kawasan penginapan Keluarga Suwanto berkendara terus ke atas dataran tinggi Malino. Melewati hutan pinus, kebun strawberi, lanjut hingga perkebunan penduduk. Kami baru menepikan mobil ketika jalan mulai tak nyaman dilewati, bergelombang dan sempit. 

Tengah hari kami memutuskan turun, merapat ke Malino Highland.

Melihat gerbangnya yang representatif, saya berharap-harap semoga fasilitas yang ditawarkan pun menarik. Harga tiket masuk per orang Rp.50.000,- untuk dewasa, Rp.25.000,- untuk Mas dan gratis untuk Adek kecik.
 

Tempat parkir dan ranch kuda malino highland
Area parkir yang luas, istal kuda, ranch, dan kandang domba di kawasan Malino Highland

Kamis, 16 Juli 2015

Kapel Panti Samadi Ratna Miriam Malino, Tempat Bersejarah yang Damai

Kompleks Panti Samadi Ratna Miriam, Malino
Kompleks Panti Samadi Ratna Miriam, Malino

Hari Kedua Jelajah Malino, hari Minggu yang penuh berkat. Pagi itu dengan penuh semangat Keluarga Suwanto berjalan kaki menuju Kapel Panti Samadi Ratna Miriam untuk merayakan Ekaristi. Syukurlah, semalam kami telah survei ke kapel ini. Biarpun ketakutan digonggong anjing hitam yang bawel, tapi kami beruntung karenanya muncul dua lelaki muda berkulit legam. Dari merekalah, kami mendapatkan jadwal Misa Minggu pagi yaitu Pk.07.00 WITA.

Kompleks Panti Samadi Ratna Miriam, Malino
Kapel Panti Samadi Ratna Miriam Malino

Kapel Panti Samadi Ratna Miriam

Kapel Panti Samadi Ratna Miriam dikelola oleh para suster Kongregasi JMJ (Jesus, Maria dan Josef) di Jalan Waspada No. 4 Malino, Gowa, Sulawesi Selatan. Seperti halnya di semua tempat samadi yang dikelola biarawan-biarawati kalau saya sih selalu merasa ada damai saat mengunjunginya. Saya percaya doa-doa tulus yang didaraskan setiap waktu telah melahirkan harmoni yang selaras dengan alam. 
 

Jumat, 10 Juli 2015

Air Terjun Takapala, Lembah Sunyi Diantara Tebing-tebing Batu

Air Terjun Takapala Malino
Air Terjun Takapala Malino || Jelajah Suwanto

Semilir angin pegunungan menyambut kami di hari pertama Jelajah Malino. Atas rekomendasi staf  Hotel Bukit Indah, agenda Keluarga Suwanto siang itu mengunjungi Air Terjun Takapala. Lokasi air terjun tak jauh dari penginapan, kurang lebih 30 menit berkendara. Air Terjun Takapala rupanya cukup terkenal, meski ia tersembunyi melindungi lembah sunyi. Pantas saja air terjun Takapala menjadi salah satu tempat unggulan wisata di kawasan Malino.

Senin, 06 Juli 2015

Pastikan Harga, Sebelum Menyantap Renyahnya Nila Goreng Bili-Bili


Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa || JelajahSuwanto
Bendungan Bili-bili di Kabupaten Gowa || JelajahSuwanto

Kurang lebih pukul 11.30 WITA, Keluarga Suwanto sudah berkendara sekitar 30km dari Makassar ke arah Malino. Ada sebuah Bendungan besar yang sangat penting bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bendungan itu tidak lain adalah Bendungan Bili-bili.

Menurut informasi, ikan goreng Bili-bili terkenal enak dan renyah, apalagi dilengkapi dengan cah kangkung dan sambal mangga yang menggiurkan. Pas pula jam-nya makan siang. Maka tak buang waktu, singgahlah kami di Bendungan Bili-bili ini.

Jelajah Malino, Perjalanan dan Penginapan

Perbukitan, Persawahan dan Bebatuan Sungai Jeneberang, dalam perjalanan Makassar - Malino || JelajahSuwanto
Perbukitan, Persawahan dan Bebatuan Sungai Jeneberang, dalam perjalanan Makassar - Malino || JelajahSuwanto

Weekend telah tiba. Keluarga Suwanto sepakat untuk menjelajahi Malino. Kawasan wisata Malino identik dengan Kawasan Puncak Bogor yang sejuk dan asri. Malino sendiri adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Tinggimoncong, Gowa, Sulawesi Selatan. Jarak dari Makassar sekitar 90km atau dapat ditempuh antara 2-3 jam berkendara. Selain lanskap alamnya yang indah, ternyata Malino merupakan tempat bersejarah bahkan sejak jaman pendudukan Belanda.


Bentang alam dalam perjalanan Malino-Makassar || JelajahSuwanto
Bentang alam dalam perjalanan Malino-Makassar || JelajahSuwanto

Setelah mencari informasi dari sana-sini kami siap berangkat ke Malino pada hari Sabtu pagi. Malino berada di ketinggian 900-1500 mdpl. Tidak heran jika perjalanannya mendaki dan berkelak–kelok. Perbukitan dengan pepohonan rimbun, persawahan dan aliran Sungai Jeneberang memukau mata. Kami beruntung dapat menyaksikan gerombolan kupu-kupu di rumpun saliara.

Poros Malino termasuk jalan utama yang padat. Kendaraan berat, truk-truk besar yang membawa material tanah dan pasir dari Sungai Jeneberang hilir mudik berpapasan. Selalu berhati-hati dalam berkendara dan berdoalah sebelum memulai perjalanan.

Rabu, 24 Juni 2015

Unaccompanied Minor, Dukung Anak Berani Terbang Sendiri

 
Young Traveler dengan Unaccompanied Minor +jelajahsuwanto


“Bunda, nanti jangan nangis ya, nanti Mas malu kalo bunda nangis”
Whaaat …  Itulah yang dikatakan anak lelakiku yang baru saja berusia 11 tahun, saat kami mengantarnya ke Bandara. Ia akan terbang solo pertama kalinya dari Makassar tujuan Yogyakarta. 

Kelak, engkau akan tahu rasanya khawatir setelah menjadi orang tua, Nak.

Libur sekolah telah tiba. Ajakan menjelajah Bromo dari tantenya yang tinggal di Yogyakarta rupanya membakar keberanian anak lelakiku. Dia setuju terbang sendiri dari Makassar. Sebagai Ibu, saya mendukung keputusannya. Namun tetap saja perasaan khawatir itu datang tanpa diminta.

Berhubung ini adalah terbang perdananya, maka kami memastikan ia terbang dengan aman dan nyaman. Kami memilih Maskapai Garuda Indonesia.
Sehari sebelum keberangkatan, kami mendatangi Counter Garuda di Jl. AP. Pettarani Makassar untuk chek in. Ternyata, bagi anak-anak yang melakukan perjalanan tanpa didampingi orang tuanya akan dilayani sebagai Unaccompanied Minor (UM). Kami diarahkan agar langsung saja ke Counter Customer Service Garuda Indonesia di Bandara, 2 jam sebelum terbang. 


Jumat, 19 Juni 2015

Puntondo, Nuansa Syahdu Pesisir Teluk Laikang

salah satu nature wisdom
dari PPLH Puntondo
Tidak mau kalah dengan para suami yang subuh – subuh sudah punya agenda gowes Makassar–Puntondo, para ibu dan pasukan krucils keukeuh  membuntuti. Dari kata orang, Pantai Puntondo ini cantik dan indah, oleh karena itu kami begitu bersemangat. 

Bebatuan di laut puntondo
Meeting point kami dengan para suami ditetapkan di PPLH (Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup) Puntondo. Menurut leaflet yang diterbitkan PPLH, jarak tempuh Makassar – Putondo sekitar 60 km. Tetapi sepertinya lebih jauh dari itu, kami merasa tidak sampai-sampai. Hampir 3 jam kami berkendara. Memang dasarnya baru berangkat dari Makassar sekitar pukul sembilan WITA, makanya tak perlu heran jika para goweser malah lebih dulu tiba. 

Kompleks PPLH berada di pesisir Teluk Laikang. Tepatnya di Dusun Laikang, Mangarabombang, Takalar, Sulawesi Selatan. Begitu memasuki Laikang, hiruk pikuk poros Sungguminasa-Takalar langsung meruap, digantikan kesederhanaan pesisir. Ruas jalan menyempit, ditambah beberapa lubang yang cukup dalam. Ban mobil kami sempat selip.

Rabu, 17 Juni 2015

Bukit Doa Tomohon: Untaian Litani Syukur Tiada Henti

Selamat pagi Manado. 

Keluarga Suwanto menyambut Pagi pertama di Manado dengan penuh sukacita. Hari ini kami akan diajak menjelajah kota Tomohon. Tempat pertama yang diagendakan adalah Bukit Doa Tomohon.

Perjalanan menuju Bukit Doa Tomohon diperkirakan dapat ditempuh sekitar 1 jam dari Kota Manado. Jalan menuju Tomohon mendaki, berkelak-kelok, dan ruas jalannya terhitung sempit. Namun kali ini, Ayah bebas tugas dari menyetir, sudah diserahkan pada ahlinya, Om Sandy, kawan baru dari Manado.

Sepertinya khasnya perjalanan menuju pegunungan, di sepanjang Manado-Tomohon ini pun kita akan dimanjakan dengan hijau segarnya alam.
Rumah adat di tengah hijaunya alam, dalam perjalanan Manado - Tomohon  +fotojelajahsuwanto+
Dari ketinggian dapat pula terlihat Kota Manado dengan latar belakang laut dan Gunung Manado Tua.
Gunung Manado Tua +fotojelajahsuwanto+

Bukit Doa Tomohon atau dikenal juga dengan nama Jalan Salib Mahawu berada di Kaki Gunung Mahawu, Desa Kakaskasen II, Tomohon Utara. Terdapat dua pintu Masuk untuk menuju Bukit Doa. Pertama bisa dengan jalan kaki melalui jalur Jalan Salib Mahawu.

Kamis, 11 Juni 2015

Senja di Pulau Liukang Loe


Senja di Pulau Liukang Loe     +fotojelajahsuwanto+

Sore itu setibanya kami di Bira, Bu Riswan, istri pemilik Riswan Guest’s House merekomendasikan untuk terlebih dahulu mengunjungi Pulau Liukang Loe. Kami bisa menikmati matahari senja yang akan segera masuk ke peraduannya. Sekaligus makan siang yang tertunda di Pulau.

Pak Bahri, rekanan Riswan’s Guest House membawa kami dengan perahu motor menuju Pulau Liukang Loe. Pulau tersebut tepat di seberang Pantai Tanjung Bira. Diperlukan waktu sekitar 15 -20 menit dan tigaratus ribu rupiah untuk sampai di sana pulang pergi. 

Rabu, 03 Juni 2015

Gua Batu Bantimurung: Terbawa Imajinasi

Gua Batu, Bantimurung: Seberkas cahaya  +fotojelajahsuwanto
Ketika memutuskan pergi ke Bantimurung, dalam benak kami, hanya air terjun saja yang akan dijumpai. Ternyata, selain ruahnya air terjun yang membuih dan pepohonan rindang di dinding karts, ada banyak hal lagi yang dapat dijelajahi. 
Dari papan informasi, diketahui ada Gua Batu, Danau Kassi Kebo dan Gua Mimpi.
Maka, siang itu keluarga Suwanto memutuskan untuk menjelajahi terlebih dahulu Gua Batu dan Danau Kassi Kebo. Mari kita menjelajah, sons!

Gua batu berjarak kurang lebih 800 meter dari air terjun. Menaiki tangga beton yang cukup lumayan hosh hosh, petualangan dimulai. 
Gua Batu, Bantimurung: Menaiki tangga  +fotojelajahsuwanto 

Pengelola sudah menyiapkan track untuk memudahkan pengunjung sampai di Gua Batu berupa jalan setapak yang sudah ditembok. Namun kala itu, ada juga yang masih jalan tanah, mungkin karena longsor. Ikuti saja jalan itu, sudah pasti kita tidak akan tersesat.
Di perjalanan ini, kami hanya berpapasan dengan sepasang bule kakek nenek yang begitu gesit dan sepasang pribumi. Mungkin, belum banyak pengunjung yang tertarik dengan wisata semi hiking ini.

Senin, 01 Juni 2015

Air terjun Bantimurung: Mari "Ngadem"

Panasnya Makassar membuat kami senang sekali jika bertemu air. Apalagi ini air yang melimpah ruah dan bening. Air yang turun dari bukit-bukit karts, Byurrr. Sekali cebur, lupa diri, lupa waktu.

Air Terjun Bantimurung: sejuk +fotojelajahsuwanto

Air terjun Bantimurung terletak di kompleks Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Lokasi ini dapat ditempuh sekitar 1 jam berkendara dari Makassar.
Air Terjun Bantimurung: bermain air  +fotojelajahsuwanto

Senin, 11 Mei 2015

Rest Area Pantai Marina Korong Batu, Bantaeng: Sekilas Pandang

Keluarga Suwanto dalam perjalanan dari Makassar menuju Tanjung Bira. Kira-kira 3 jam berkendara, panggilan jiwa untuk ke "kamar kecil" sudah tidak tertahankan. 
Syukurlah sebuah spot rest area nampak jelas memanggil-manggil. Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng, disinilah kami berhenti sejenak. 

Pantai Marina memiliki pantai yang landai dan luas.Walaupun terik mentari amat menyengat, berlarian bersama anak-anak di tepi pantai tetaplah menyenangkan.
Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng Rest Area +fotojelajahsuwanto+
Sisi lain Pantai Marina Korongbatu, Bantaeng +fotojelajahsuwanto+

Selasa, 05 Mei 2015

Pulau Samalona: Pohon Kalumpang dan Hal-hal Menarik Lainnya

Pohon Kalumpang, ikon pulau samalona versi jelajah suwanto +fotojelajahsuwanto
Yang menarik perhatian saya dari Samalona adalah sebuah pohon raksasa yang berdaun rimbun. Pohon inilah yang memberi warna hijau paling menonjol di Pulau ini.
Memuaskan rasa penasaran, saya bertanya pada seorang warga penghuni Pulau. Menurutnya, orang pulau biasa menyebutnya Pohon Kalumpang. Buahnya dapat dimakan sementara daunnya bisa untuk obat. Konon, Pohon Kalumpang ini sudah hidup ratusan tahun, sejak munculnya Pulau Samalona.

Sepulang dari Samalona, saya masih teringat dengan Kalumpang yang gagah itu. Dari Google saya masuk ke Wikipedia Indonesia, benar memang ciri-ciri pohon di pulau itu teridentifikasi sebagai Kalumpang atau Kepuh. Ternyata banyak manfaat dan kegunaan dari Kalumpang atau Kepuh ini.  Berikut, penampakan buah dan daun Kalumpang dari wikipedia:


Buah dan daun pohon Kalumpang, sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kepuh +fotojelajahsuwanto


Senin, 04 Mei 2015

Pulau Samalona: Aktivitas & Serba-Serbi

 Belajar berenang di perairan samalona +fotojelajahsuwanto
Pak Enal, begitu nama tukang perahu yang mengantar kami, merapatkan perahunya di pasir putih.
Seorang gadis berbadan bongsor mengulurkan tangan, membantu para ibu dan anak-anak turun dari perahu. Gadis itu ramah, dandanannya cukup "kota". Ia memakai baju pantai bunga-bunga hijau ditutupi scarf , juga dilengkapi kacamata hitam, gaul.

Tadinya kupikir dia pengunjung pulau yang berbaik hati. Ternyata gadis itu menawarkan bale-bale bambu yang menghadap langsung ke pantai. Bale yang berukuran kecil harganya 50 ribu, dan yang sedikit lebih besar 75ribu. Selain itu, ia juga masih memberitahukan beberapa hal yang bisa ia tawarkan untuk kami, antara lain:
- Sewa alat snorkeling, satu paket seharga 50ribu;
- Sewa Kamar mandi untuk buang air kecil atau ganti baju saja, sekali masuk harganya 5 ribu; 
- Sewa kamar mandi untuk mandi, harganya 10ribu;
- Menyediakan pesanan makanan, ikan dan nasi, harga tergantung pesanan;
- Kamar untuk menginap seharga 500ribu per malam
Karena kelompok kami lumayan besar, bale-bale bambu seharga 75ribulah yang dipilih. Bale-bale ini diteduhi pohon rindang saja. Beruntung hari itu tidak hujan.

Samalona: Sebelum meninggalkan Makassar harus ke Pulau Samalona dulu


Samalona: Pulau Samalona dilihat dari perahu motor, redup tanpa matahari  +fotojelajahsuwanto
Sudah sejak lama, mungkin enam bulan yang silam, ajakan ke Pulau Samalona itu berkumandang.
Sudah berapa kali arisan, Samalona disebut-sebut.
Sudah sejak dulu, saat geng bolang masih komplit.
Cuaca, ombak, hujan, sibuk, apalah, apalah, adalah alasan yang sering terlontar.
Sampai satu kawan bolang sudah meninggalkan makassar
Samalona hanyalah sebuah rencana yang entah kapan bakal diwujudkan.

Sampai kabar itu datang . . .”Geng bolang bakal berkurang lagi…..”
Geng bolang tadinya empat, sudah dikurangi Satu
Kalau dikurangi satu lagi, bukan geng namanya, Cuma duet saja..
Maka, Sabtu siang itu, Samalona adalah tujuan jelajah sebelum meninggalkan Makassar.
Janjian Pk. 12.00 bertemu di Indomaret Pattimura. Di sana ada kursi tunggunya,  jadi akan cukup nyaman, jika ada kawan yang terlambat datang. Bisa numpang duduk :D

Selasa, 28 April 2015

Perahu Pinisi yang Melegenda

Perahu Pinisi adalah kearifan lokal masyarakat Bugis yang membanggakan Indonesia.
Berikut, foto-foto Pinisi dari Pantai Panrang Luhu, Bulukumba, Sulawesi Selatan


Perahu Phinisi: Sudah jadi +fotojelajahsuwanto
Perahu Phinisi: lebih besar dari rumah pengrajin +fotojelajahsuwanto 

Pengrajin Ulung Pinisi Panrang Luhu

Dari tangan - tangan ahli inilah, tercipta mahakarya pinisi yang termashyur ke seluruh dunia.
Pembuatan Perahu Phinisi: di tengah sepoi nyiur  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: diskusi  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: konsentrasi  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: berteduh di tenda biru +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: kejar tayang  +fotojelajahsuwanto
Pembuatan Perahu Phinisi: eksekusi kayu +fotojelajahsuwanto
Catatan perjalanan ke tempat pembuatan perahu pinisi dapat dibaca di Melihat Buta Panrita Lopi dari Dekat

Phinisi: Melihat Butta Panrita Lopi Dari Dekat

Pembuatan Pinisi di Butta Panrita Lopi  Bulukumba
Merakit Kapal kargo Pinisi di Butta Panrita Lopi Pantai Panrang Luhu || jelajahsuwanto

Matahari mulai beranjak tinggi, ketika Keluarga Suwanto tiba di bumi pembuat Pinisi, Butta Panrita Lopi. Apa yang terlihat adalah sebuah kapal Pinisi raksasa tertambat di Pantai Panrang Luhu Bulukumba. Semuanya terjalin dari kayu berwarna mahagoni.

Kapal Pinisi merupakan kapal tradisional masyarakat Bugis Makassar. Kapal ini sudah dibuat sejak zaman nenek moyang kita. Orang Bugis dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan adalah pembuat kapal Pinisi sekaligus pelayar yang handal.

Pinisi ini membuktikan bahwa sejak jaman dahulu Indonesia adalah negara maritim yang besar dan tangguh.