Selasa, 30 Agustus 2016

Jelajah Tana Toraja: 4hari 3Malam

 
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto


Natalan pertama di tanah rantau, masih belum dapat jatah pulang kampuang.Daripada merana, mending melanglang buana. Tana Toraja kami datang.

Hari Pertama Jelajah Tana Toraja

Hari pertama Jelajah Tana Toraja dihabiskan untuk perjalanan yang menyenangkan. Keluarga Suwanto sepakat  pergi pada saat Festival Lovely December. Kami berangkat dari Makassar tanggal 26 Desember menggunakan kendaraan pribadi. Anak-anak selalu menikmati berkendara, apalagi hampir sepanjang perjalanan wiper bergerak terus menyapu rintik hujan. Dua kakak beradik punya kecocokan imajinasi dari wiper yang bekerja. Entah apa. Pastinya seru. 

Sabtu, 20 Agustus 2016

Bara Beach Bungalow, Hommy dan Bersahabat

 
Suatu pagi dari Restaurant Bara Beach Bungalow +fotojelajahsuwanto+
Mengawali pagi dengan secangkir kopi, ditemani debur ombak dan keluarga tercinta…..
Emmm, what a beautiful morning
Pengalaman langka, yang akan tersimpan di ingatan kami. 
Pagi yang sempurna ini kami dapatkan dari Restaurant Bara Beach Bungalow di Pantai Bara, Tanjung Bira, Bulukumba. 
Keluarga suwanto menemukan Bara Beach Bungalow ketika menjelajah Pantai Bara melalui jalan atas (darat). 
Keriaan para turis mancanegara yang terlihat dari jalan, membuat antena kepo bunda langsung switch mode on
So, siang itu kami putuskan untuk makan siang di restaurant dengan view menghadap laut.
Itulah perkenalan pertama kami dengan Bara Beach Bungalow.

Senin, 20 Juni 2016

Tanjung Bara Yang Kian Membara

 Tanjung Bara: Sunset +fotojelajahsuwanto+
Pertama kali Jelajah Suwanto menjejakkan kaki di Tanjung Bira, air laut sedang surut sesurut-surutnya. Ceruk-ceruk di tepian tebing karang yang biasanya terendam air, kini nampak ke permukaan. Berupa karang-karang yang licin dan basah. 
Kami mengobrol dengan keluarga Bu Bahri yang  membuka warung di pinggir Pantai Bira. Katanya di ujung barat tanjung ini, masih ada sebuah pantai yang indah.

Sebenarnya bisa menyusuri pantai ini kalau sedang surut, tapi orang biasanya pilih lewat atas (jalan darat di atas pantai Bira)”. 

Pada dasarnya, semangat menjelajah itu memang melekat pada keluarga Suwanto. Dari Tanjung Bira, kami nekat menyusur pinggir pantai, melewati pasir lembut, menyisir tepian tebing karang, juga berkecipak di air laut. Sekitar 45 menit kemudian kami berlabuh di sebuah pantai berpasir lembut seperti Bira. Pantai ini bernama Tanjung Bara, atau lebih dikenal dengan Pantai Bara.
 

Sabtu, 11 Juni 2016

Pantai Kaluku, Menjemput Matahari, Merayakan Persahabatan

Pantai Kaluku: Semburat jingga di ufuk timur +fotojelajahsuwanto+
Pagi baru saja merekah. Apa yang dapat kukatakan untuk dapat mendeskripsikan semburat cahaya langit itu? Satu kata dariku, Majestic!
Atau begini saja. Pergilah ke Pantai Kaluku. Bangunlah pagi sekali, susurilah pantai. Dan ketika saatnya tiba, menghadaplah ke timur jauh. Jika kau beruntung, alam tak akan mengecewakanmu.
 

Rabu, 27 April 2016

10 Pantai Terindah di Bulukumba Sulawesi Selatan

Setibanya di Sulawesi Selatan, seringnya Keluarga Suwanto menjelajah pantai-pantai indah yang masih alami.

Pantai wilayah Timur Indonesia menurut kami adalah surga.

Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Bulukumba memiliki potensi wisata pantai yang sangat menjanjikan.

Berikut adalah 10 pantai cantik yang sudah Keluarga Suwanto jelajahi:

1. Pantai Lemo-Lemo

Pantai Lemo-lemo berada di Kelurahan Tanah Lemo, kecamatan Bonto Bahari. Jarak tempuh dari Kabupaten Bulukumba sekitar 1 jam.  Termasuk salah satu hidden paradisenya Bulukumba.

Cerita perjalanan Pantai Lemo-lemo bisa dibaca di Pantai Lemo Lemo, Aset Potensial Wisata Bahari Sulawesi Selatan

Pantai Lemo-Lemo Bulukumba


2. Pantai Mandala Ria

Pantai Mandala Ria dinamakan demikian karena menyimpan sejarah terkait pembebasan Irian Barat dari Kolonial Belanda. Pantai Mandala Ria berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jarak tempuh sekitar 34 km dari Bulukumba.

Cerita perjalanan Pantai Mandala Ria bisa dibaca di Pantai Mandala Ria, Tersembunyi Cantik di Desa Ara

Pantai Mandala Ria Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan


3. Pantai Apparalang

"Apparalang" dalam bahasa setempat berarti ujung dalam. Sekilas Pantai Apparalang mirip-mirip Uluwatu di Bali. Tapi menurut kami, pemandangan lautnya lebih cantik Apparalang. Pantai tebing Apparalang berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pantai Tebing Apparalang Bulukumba


4. Pantai Marumasa

Pantai Marumasa berasa di Desa Darubiah, Bonto Bahari, Bulukumba. Sudah ada papan petunjuk di pertigaan jalan sebelum Masjid Besar Poros Bira. Lokasinya kira-kira 40 km dari arah Kabupaten Bulukumba. Ikuti saja petunjuk jalan tersebut, sekitar 1 km kita sudah bebas memarkir kendaraan di bibir pantai.

Cerita perjalanan Pantai Marumasa bisa dibaca di Jelajah Pantai Marumasa

Pantai Marumasa, Darubiah, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan


5. Pantai Panrang Luhu

Cerita perjalanan Pantai Panrang Luhu bisa dibaca di Phinisi: Melihat Butta Panrita Lopi Dari Dekat

Butta Panrita Lopi, Pantai Panrang Luhu Bulukumba


8. Pantai Tanjung Bara

Cerita perjalanan Pantai Tanjung Bara bisa dibaca di Tanjung Bara yang Kian Membara

Pantai Tanjung Bara Bulukumba


9. Pantai Liukang Loe

Cerita perjalanan Pantai Liukang Loe bisa dibaca di Berkemah di Pulau Liukang Loe


Pantai Liukang Loe Pulau Liukang Sulawesi Selatan

Pantai Passilohe Pulau Liukang || JelajahSuwanto

Jumat, 22 April 2016

Pantai Lemo Lemo, Aset Potensial Wisata Bahari Sulawesi Selatan

Pantai Lemo-Lemo aset potensial wisata bahari Bulukumba
Pantai Lemo Lemo tenang dan damai  || JelajahSuwanto


Jalanan kecil bergelombang membelah hutan hijau yang bertanahkan karang. Keluarga Suwanto bergoyang-goyang mengikuti irama jalan. Kami sedang dalam perjalanan menuju Pantai Lemo Lemo. Tertulis 7 kilometer, itulah perkiraan jarak tempuh kami dari Poros (jalan besar) Bulukumba, Bira. Mulanya masih ada beberapa rumah penduduk ketika memasuki kawasan ini. Semakin dalam, hanya pepohonan dan belukar mengangguk-ngangguk oleh sepoi angin.  

Sabtu, 16 April 2016

Jelajah Pantai Marumasa

Pantai Marumasa Bulukumba Sulawesi Selatan
Pantai Marumasa, Bulukumba || JelajahSuwanto

Suatu ketika dalam perjalanan kembali ke Makassar dari Tanjung Bira, tak jauh dari pelabuhan Bira kami melihat gadis bule berjalan sendirian seperti kebingungan. Kami menepikan mobil dan bertanya adakah yang bisa dibantu? 

Gadis ini mencari Pantai Marumasa. Sayang sekali kami tak dapat menolongnya. Pantai Marumasa masih asing di telinga.  
 
Saat itu juga kami putuskan Jelajah Suwanto berikutnya harus menyambangi Pantai Marumasa. Masa iya, gadis Jerman ini saja sudah mengetahuinya, Keluarga Suwanto yang Indonesia tulen ko kalah telak.

Jumat, 15 April 2016

Jelajah Pulau Kodingareng keke

Zoom out Pulau Kodingareng Keke +fotojelajahsuwanto+

Siang yang cerah di awal April 2016. Tak direncana, Keluarga Suwanto akhirnya menyambangi Pulau Kondingareng Keke. 
Bermula dari ajakan menyeberang ke Samalona yang tentu saja gayung bersambut. Kami ber-9 termasuk kedua krucil, tadinya hanya mau bersantai dan memancing di Samalona. 
Di tengah perjalanan, matahari bersinar memantulkan cahaya keperakan, nun di sana, pulau kecil menggoda mata. 
Colek-colek sama ayah, lantas tawar menawar dengan pak perahu, bertolaklah kami memburu sunset di Kodingareng Keke.

Kamis, 14 April 2016

Pantai Ngrenehan: Sajian Menggoda dari Teluk Nelayan

Pantai Ngrenehan: Menu Makan Siang Olahan laut yang menggoda +fotojelajahsuwanto+


Pantai Ngrenehan, Gunung Kidul menjadi perayaan bagi perut-perut kami yang keroncongan. Lobster saus tiram, Kakap putih goreng, Kerapu bakar, Cah kangkung, sambel kecap, sambel terasi, sambel dadak, lalapan dan es kelapa muda, menggiurkan di depan kami. Jangan ditanya rasanya? JUARA, Maknyuss, top markotop! Terlebih, harganya benar-benar bersahabat. Harga semua Ikan di atas yang sudah diolah ½ kg dibakar, setengahnya lagi digoreng, 35ribu saja; lobster ukuran sedang 6 ekor hanya 150ribu. “Saya suka saya suka” #gayameymeyipinupin. Kuliner olahan laut Pantai Ngrenehan menjadi list favorit Jelajah Suwanto.

Pantai Ngrenehan: Jejeran Perahu bercat biru +fotojelajahsuwanto+

Jumat, 12 Februari 2016

Pantai Mandala Ria, Tersembunyi Cantik di Desa Ara

Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+
Pantai Mandala Ria; Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan   || JelajahSuwanto

Pantai Mandala Ria menjadi agenda dadakan Keluarga Suwanto di awal Februari 2016. Setelah bolak balik Tanjung Bira, rasanya kami butuh jelajah pantai yang jarang dijamah pelancong. 

Pantai Mandala Ria masih satu deret dengan Pantai Tebing Apparalang di Desa Ara. 

Pantai ini tersembunyi cantik di sebuah lembah. Ada beberapa gua di sekitarnya, antara lain: Goa Passohara, Jabbolang dan Passea. Pasir pantainya putih lembut, meski belum ada yang mengalahkan pasir tepung Tanjung Bira.  

Senin, 01 Februari 2016

Kalibiru: Wisata Alam Kekinian di Kulon Progo, Yogyakarta

 
Spot foto wajib Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta | © JelajahSuwanto
Spot foto wajib Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta | © JelajahSuwanto

 
Kalibiru di Kulon Progo sedang populer dalam kekiniannya. Foto berbagai pose di atas katakanlah gardu pandang yang menyatu dengan Pohon Pinus dan Kwaru bertebaran di sosial media. Semacam foto wajib, sah telah singgah di Kalibiru.

Kalibiru tersembul di antara perbukitan Menoreh, dinding barat Yogyakarta. Dari ketinggian puncaknya bentang alam terlukis sempurna. Gunung gemunung, perbukitan, waduk, dan nun di sana, lautan biru pantai selatan berbatas horizon.

Senin, 07 Desember 2015

Gua Maria Watansopeng Sulawesi: Sisi Lain Perjalanan


Gua Maria Paroki Santa Maria Bunda Pengharapan Wattansoppeng +fotojelajahsuwanto

The Other Side of Celebes

Di pagi hari itu kami sudah memiliki agenda untuk pergi ke Gua Maria Watansoppeng. Satu-satunya Gua Maria yang teridentifikasi google berada di Sulawesi Selatan. Hanya ada satu informasi yang sama. Gua Maria Paroki Santa maria Bunda Pengharapan, Jl. Samudera No. 48 Wattansoppeng. Jarak Makassar-Watansoppeng diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.

Jam di dinding kamar telah lama melewati angka 8. Kami masih juga berbenah. Padahal rencananya kami akan kembali ke Makassar pada sore hari. Jam tubuh kami memang harus segera diperbaiki, karena di saat hari libur secara otomatis mata akan terbuka ketika jarum jam melewati angka 7. Bepergian dengan dua orang putera berusia 10 dan 3 tahun tentu membutuhkan persiapan ekstra. Masih juga ditambah dengan sarapan bubur, mengisi nitrogen, pertamax dan mampir ATM. Jangan heran jika perjalanan menuju Watansoppeng baru benar-benar dimulai ketika jam mobil menunjuk angka 10:17. 

Matahari sudah memancarkan panasnya. Mengiringi kami yang sudah panas menyambut perjalanan. Avanza black metalic kami yang setia telah selesai menyusur tol dalam kota, kemudian masuk Kabupaten Maros. 
“Soppeng bisa ditempuh dari dua jalur, Bun. Jalur Buludua dan Camba.” ayah memberi penjelasan 
“Terus, kita mau lewat mana?” 
“Temen Ayah bilang, jalur Buludua jalannya rusak parah. So, kamu akan melihat the other side of Celebes” 
“Hmm, kayak apa tuh?” 
“Lihat saja dan nikmati” 
Baiklah jika begitu, mari kita nikmati saja jelajahnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Taman Prasejarah Leang Leang: Menelisik Jejak Prasejarah Dari Masa Ribuan Tahun Silam

Perlu ruang informasi yang lebih menarik bagi pengunjung Taman Prasejarah Leang Leang | © JelajahSuwanto
Perlu ruang informasi yang lebih menarik bagi pengunjung Taman Prasejarah Leang Leang   | © JelajahSuwanto


Memasuki jalan desa menuju Taman Prasejarah Leang Leang memang terasa sempit. Namun ia membelah pesawahan yang tengah ranum berbulir padi. Belum lagi, tebing-tebing karts berbalut hijau pepohonan anggun mengelilingi kompleks cagar budaya. Di tengah harmoni megahnya gugusan karts dan keheningan alam kita akan dibawa pada sebuah situs prasejarah dari masa ribuan tahun silam. 

Papan petunjuk Taman Prasejarah Leang Leang tertangkap mata saat Keluarga Suwanto hendak arisan di Taman Nasional Bantimurung. 
”Kalau nggak kesorean kita ke sana ya.” Ajakku pada ketiga lelaki tercinta itu. “Okeeee” jawab mereka serempak.

Matahari nyaris di penghujung barat ketika petugas Taman Prasejarah Leang Leang menyambut kami. “Sebelum Magrib biasanya sudah tutup, Bu. Mari silakan melihat-lihat”.  

Itu berarti masih ada 1,5 jam. Ayo menjelajah!

Kamis, 12 November 2015

Jelajah Pulau Liukang Loe: Kesederhanaan yang Bersahaja

TK Satap di Kampung Buntutuleng Pulau Liukang Loe, Bira, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+

Bukan Jelajah Keluarga Suwanto namanya, jika tidak apruk-aprukan alias menjelajah dalam perjalanan kami. Pun pada kesempatan kali ini, di suatu pulau, bernama Pulau Liukang Loe.

Setelah malam dan pagi yang menyenangkan karena acara Berkemah di Pulau Liukang Loe, Ayah dan bunda minta pendapat mas dan adek, apakah mereka mau ikut menyusur Pulau atau istirahat di penginapan?
Anak-anak memilih bermain di tenda. Mas siap sedia menjaga adiknya.
"Adek tidak akan cari-cari Ayah Bunda, mau main hotwheel sama mas saja"  Begitu janji adek.

Kami sepakat sebelum waktu makan siang, Ayah dan Bunda sudah kembali ke penginapan. Itu berarti ada waktu sekitar 1,5 jam untuk menjelajah. Ok, Let’s eksplor the island!

Selasa, 13 Oktober 2015

Berkemah di Pulau Liukang Loe

Berkemah di Pulau Liukang Loe +fotojelajahsuwanto+
Setelah senja di Pulau Liukang Loe, Keluarga Suwanto akhirnya kembali ke Pulau itu pada Medio Mei 2015. Kami sepakat akan berkemah. Mas dan adek begitu antusias mempersiapkan perlengkapan Jelajah Suwanto kali ini. 

Seperti di tulis dalam serba-serbi Tanjung Bira sebelumnya, bulan Mei air laut cukup horor bagi kami “manusia darat”. Perjalanan laut membutuhkan waktu hampir setengah jam. Biasanya 15-20 menit sudah sampai. 

Nyaris di tengah laut, mendadak mesin mati. Hufft, doa, doa, dan doa. Untunglah bapak yang mengantar kami begitu tenang, hal seperti ini biasa ia hadapi. Pula, memang beliau adalah “manusia laut”, lahir dan besar bersama laut.

Selasa, 06 Oktober 2015

Amatoa Resort Tanjung Bira : a perfect view from your bedroom, Sebuah Review

Perfect View from your bedroom at Amatoa Resort, Tanjung Bira
+fotojelajahsuwanto+
 . . . Tonight I celebrate my love for you
And soon this old world will seem brand new
Tonight we will both discover
How friends turn into lovers
When I make love to you . . ..


Begitulah kira-kira semestinya alunan musik menyambut kami, ketika memasuki bungalow Amatoa Resort yang akan menjadi tempat menginap malam itu.

Tapi ahhhh krucil – krucil itu begitu bahagia menemukan tempat ini, mereka sudah berkejar-kejaran saja mengitari tempat tidur. Lupakan saja merayakan cinta berdua, kita rayakan saja kebersamaan sebagai sebuah keluarga, ayah. .:D

Jumat, 02 Oktober 2015

Tebing Pantai Apparalang: Pesona Wisata Baru di Bulukumba yang sedang Berbenah

Tebing Pantai Apparalang Bulukumba
Tebing Pantai  Apparalang, destinasi wisata baru Kabupaten Bulukumba || JelajahSuwanto


Apparalang, nama itu nampaknya sedang menjadi pembicaraan hangat. Maka, pada Jelajah Tanjung Bira kali ini, Keluarga Suwanto harus menyambanginya. "Apparalang" dalam bahasa setempat berarti ujung dalam. Sekilas mirip-mirip Uluwatu di Bali. Tapi menurut kami, pemandangan lautnya lebih cantik Apparalang. Secara administratif tebing Apparalang berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Bagaimana Menuju Tebing Apparalang?
Dari poros Bulukumba - Tanjung Bira kami belok arah ke desa Ara. Sebagai ancar-ancar belok di Pertigaan SMKN 6 Bulukumba. Lalu masuk ke jalanan kecil beraspal mulus membelah kawasan hutan. Sekitar 2.5 Km berkendara akan ditemui papan petunjuk bertuliskan Pantai Apparalang.

Kontur jalan telah berubah menjadi jalanan beton yang menurun curam, hanya cukup untuk satu mobil. Mulanya, kami sempat khawatir jika harus berpapasan dengan kendaraan lain. Ternyata, pengelola telah mengatur agar jalur keluar masuk kendaraan dibuat berbeda.

Itinerary Jelajah Tanjung Bira 4 Hari 3 Malam

Keluarga Suwanto: Jelajah Tanjung Bira September 2015

Libur Idul Adha tahun 2015 ini, jatuh pada hari Kamis, 24 September. Pas ada hari kejepit, saat yang tepat untuk cuti. Keluarga Suwanto sepakat untuk kembali berkunjung ke Tanjung Bira. Berhubung hari kejepit tidak berlaku di sekolah Mas, maka dengan terpaksa Mas meliburkan diri satu hari saja. Sebenarnya ada beberapa pantai baru yang ingin kami jelajahi, namun hanya dua yang dapat direalisasikan yaitu Pantai Lemo-lemo dan Tebing Apparalang.

Berikut itinerary Keluarga Suwanto selama 4 hari 3 malam:


Tanjung Bira: Serba-Serbi Wisata, Waktu Terbaik, Transportasi dan Akomodasi

Tanjung Bira Medio Agustus || JelajahSuwanto
Pantai Tanjung Bira kala surut pada medio Agustus || JelajahSuwanto

Tanjung Bira. Saya rasa nama itu semakin berkumandang di kalangan pencinta pantai, baik itu domestik maupun mancanegara. Keluarga Suwanto sudah empat kali menjelajahi pantai berpasir putih ini. Dan kami jatuh cinta. Selalu ingin kembali untuk sekedar melepas lelah dan tentu saja merayakan hidup.

Maka, inilah serba-serbi Jelajah Tanjung Bira ala keluarga Suwanto:

Tanjung Bira, Selayang Pandang

Tanjung Bira merupakan daratan di ujung selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang menjorok ke Laut Flores. Tanjung Bira memiliki pesisir pantai berpasir putih yang indah, laut yang tenang dan bawah laut yang cantik. Pesonanya tentu sudah terkenal luas, bahkan mungkin lebih dulu dikenal oleh para petualang Mancanegara. Terlihat dari banyaknya wisatawan asing di kawasan wisata ini. Penginapan dan tanah di kawasan Bira–Bara pun banyak dimiliki oleh warga negara asing.

Rabu, 23 September 2015

Serba Serbi Jelajah Manado, Itinerary 3 Malam 3 Pagi 2 Siang



Pemandangan Gunung Lokon yang terletak antara Tomohon-Manado diambil dari Pesawat
Gegara Air Asia promosi tiket Makassar – Manado dengan harga menggoda, Keluarga Suwanto sepakat untuk menjelajahi Manado pada awal 2014. Hanya Rp.199.000,- saja pemirsah ... bayangkan . .
Tiket sudah dipesan sekitar 6 bulan sebelum keberangkatan. Kami mendapat tanggal yang available: pergi 30 Januari  dan pulang 2 Februari 2014. 

Dengan penuh semangat kami hunting info tentang Manado dan hotel untuk menginap. Beruntungnya saya, ada kawan baik di Manado, Sir Art Merung. Segera saya menghubunginya. Keperluan sewa mobil dan rekomendasi tempat wisata selama di Manado sudah diserahkan pada ahlinya. 
Selanjutnya Aston Manado Hotel menjadi pilihan kami selama 3 malam. Beres!. Tinggal menunggu hari "H"