Kamis, 06 April 2017

Raja Ampat Unfinished Journey

Wayag Raja Ampat
Raja Ampat: Father&sons; Ayah yang berbahagia membawa buah hatinya ke Puncak Wayag, surga Indonesia Timur +jelajahsuwanto

Raja Ampat adalah wish list jelajah Keluarga Suwanto sejak dua tahun lalu. Bahkan, demi mewujudkan mimpi tersebut, Bunda menempel brosur Raja Ampat di tempat yang tak akan luput dari pandangan. Waktu terus berjalan, Raja Ampat tak selalu di benak, apalagi Keluarga Suwanto ternyata malah pindah ke Utara Sulawesi. 
Mungkin cara kerja semesta itu berlaku. Tak tahu tepatnya kapan, sekilas saya melihat di koran lokal, telah dibuka penerbangan langsung Manado-Raja Ampat. Wah, Raja Ampat bersemi kembali.


Mendadak Raja Ampat

Ayah mau kasih kabar nih, Ayah bisa cuti tanggal 30 Maret-2 April ya, …”, tiba-tiba Pak Suami mengejutkanku. Hari itu sekitar seminggu sebelum keberangkatan.
Tidak pernah ada peristiwa kebetulan dalam hidup bagi mereka yang percaya. Keluarga Suwanto telah mengamini dan menghidupi kalimat itu.
 
Dan akhirnya pada tanggal tersebut, Keluarga Suwanto spontan “Mendadak Raja Ampat”.

Selasa, 21 Maret 2017

Danau Linow, Kumpulan Air dan Kepingan Surga

Danau Linow, Tomohon, Sulawesi Utara; Kepingan surga +jelajahsuwanto
Danau Linow, Tomohon, Sulawesi Utara; Kepingan surga +jelajahsuwanto

Hari menjelang senja ketika Keluarga Suwanto memandang jauh ke seberang danau. Pemandangan alam yang luar biasa bukan? 
Gubuk-gubuk kecil nun di sana, kepulan asap belerang dan dinding hutan hijau. 
Hati mana yang tak luluh melihat keagungan Sang Kuasa.

Ayah, sementara aku katakan Danau Linow lebih keren dari danau di New Zealand”, kataku terpesona sambil tetap memandang jauh ke seberang danau.
Baiklah, sampai kita membuktikannya sendiri”, timpalnya. Kurasa, si Ayah juga terpukau.
 
Bau belerang tercium samar-samar ke tempat kami duduk. Padi yang tengah menghijau, pohon-pohon pisang, ladang dan ternak sapi menandakan kehidupan para petani. Ada tangan-tangan penuh harapan yang merawat alam menjadi sesubur itu.

Entah mengapa ada perasaan damai, betah sekali memandangnya.

Minggu, 20 November 2016

Kete Kesu: Desa Adat yang Mistis

hiruk pikuk pengunjung di desa ada Kete Kesu Tana Toraja || JelajahSuwanto
Hiruk pikuk pengunjung di desa adat Kete Kesu Tana Toraja || jelajahsuwanto


Kete Kesu sedang hiruk pikuk ketika Keluarga Suwanto datang. Nanti malam akan digelar Toraja International Festival. Panitia berpacu dengan waktu mempersiapkan panggung bernuansa etnik. Sementara Wisatawan mancanegara dan domestik berbaur di desa adat ini. Penuh dan ramai. Masing-masing tak mau kelewatan mengabadikan deretan Tongkonan di kompleks desa adat Kete Kesu.

Kete Kesu hanya sekitar 15-20 menit dari Rante Karassik. Secara Administratif Kete Kesu berlokasi di Bonoran, Tikunna Malenong, Sanggalangi, Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Keluarga Suwanto mengikuti petunjuk jalan, seperti diarahkan Pak tua yang kami temui di situs cagar budaya Rante Karassik.

Senin, 24 Oktober 2016

Rante Karassik, Kuburan Purba di tengah Pemukiman Rantepao

Kawasan Situs Cagar Budaya Rante Karassik Rantepao Toraja Utara || JelajahSuwanto
Situs Cagar Budaya Rante Karassik Rantepao Toraja Utara || JelajahSuwanto

Menyambut pagi pertama di Rantepao, Keluarga Suwanto begitu antusias. Kami memang belum menyiapkan itinerary yang pasti. Pokoknya, menjelajah Toraja. Itu saja.

Ketika resepsionis Hotel Indra menyodori peta wisata Toraja Utara, kami langsung semangat ingin menyambangi sebanyak mungkin tempat yang unik di tanah para raja ini. Jumat pagi, kami memutuskan akan melihat Rante Karassik terlebih dahulu. Karena jaraknya yang sangat dekat dari Hotel Indra, Rantepao. Tertulis lebih kurang 1 Km.

 

Minggu, 23 Oktober 2016

Bori Kalimbuang: Menhir di Nusantara

Kalimbuang Bori Toraja Utara +fotojelajahsuwanto

Mendadak bayangan Obelix yang membawa menhir di punggungnya numpang lewat di ingatan saya. Menhir yang pernah saya baca di komik Bangsa Galia versus Romawi ini sungguh nyata di Tana Toraja.
Pembuatan batu-batu Menhir atau Simbuang Batu dalam Bahasa Toraja adalah tradisi yang berusia ratusan tahun lampau. 
Konon, Kalimbuang Bori adalah tempat pertama yang menjadi lokasi upacara pemakaman adat Rambu Solo. Kala itu tahun 1657.

Kamis, 15 September 2016

Sunburn (Terbakar Matahari) & Cara Mengatasinya

Kulit Terbakar Matahari
Kulit yang terkena sunburn berwarna merah dan terasa agak perih || JelajahSuwanto


Pertama kali mendatangi Tanjung Bira, Keluarga Suwanto begitu terpesona akan kecantikannya. Belum pernah kami menginjakkan kaki di pasir putih selembut bedak. Apalagi, biru tosca-nya yang segar membuat kami lupa diri lupa waktu. Dari pagi sampai sore hari, kami bermain di  pantai dan perairan Tanjung Bira. Berenang-renang, mencari kerang, naik banana boat, main bola, tiduran di pasir. Tiada bosannya. 

Dan, tak satu pun dari Ayah dan Bundanya ingat untuk menggunakan tabir surya alias sunblock.

Memang tidak terjadi apa-apa selama menikmati pantai. Masalah baru terasa begitu tiba di Makassar. Dua hari setelah bercengkerama di air laut itu.

Kulit kami terbakar terkena sunburn (sengatan matahari).

Selasa, 30 Agustus 2016

Jelajah Tana Toraja: 4hari 3Malam

 
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto
Kompleks Desa Adat Kete Kesu, salah satu ikon Tana Toraja  || jelajahsuwanto


Natalan pertama di tanah rantau, masih belum dapat jatah pulang kampuang.Daripada merana, mending melanglang buana. Tana Toraja kami datang.

Hari Pertama Jelajah Tana Toraja

Hari pertama Jelajah Tana Toraja dihabiskan untuk perjalanan yang menyenangkan. Keluarga Suwanto sepakat  pergi pada saat Festival Lovely December. Kami berangkat dari Makassar tanggal 26 Desember menggunakan kendaraan pribadi. Anak-anak selalu menikmati berkendara, apalagi hampir sepanjang perjalanan wiper bergerak terus menyapu rintik hujan. Dua kakak beradik punya kecocokan imajinasi dari wiper yang bekerja. Entah apa. Pastinya seru. 

Sabtu, 20 Agustus 2016

Bara Beach Bungalow, Hommy dan Bersahabat

 
Suatu pagi dari Restaurant Bara Beach Bungalow +fotojelajahsuwanto+
Mengawali pagi dengan secangkir kopi, ditemani debur ombak dan keluarga tercinta…..
Emmm, what a beautiful morning
Pengalaman langka, yang akan tersimpan di ingatan kami. 
Pagi yang sempurna ini kami dapatkan dari Restaurant Bara Beach Bungalow di Pantai Bara, Tanjung Bira, Bulukumba. 
Keluarga suwanto menemukan Bara Beach Bungalow ketika menjelajah Pantai Bara melalui jalan atas (darat). 
Keriaan para turis mancanegara yang terlihat dari jalan, membuat antena kepo bunda langsung switch mode on
So, siang itu kami putuskan untuk makan siang di restaurant dengan view menghadap laut.
Itulah perkenalan pertama kami dengan Bara Beach Bungalow.

Senin, 20 Juni 2016

Tanjung Bara Yang Kian Membara

 Tanjung Bara: Sunset +fotojelajahsuwanto+
Pertama kali Jelajah Suwanto menjejakkan kaki di Tanjung Bira, air laut sedang surut sesurut-surutnya. Ceruk-ceruk di tepian tebing karang yang biasanya terendam air, kini nampak ke permukaan. Berupa karang-karang yang licin dan basah. 
Kami mengobrol dengan keluarga Bu Bahri yang  membuka warung di pinggir Pantai Bira. Katanya di ujung barat tanjung ini, masih ada sebuah pantai yang indah.

Sebenarnya bisa menyusuri pantai ini kalau sedang surut, tapi orang biasanya pilih lewat atas (jalan darat di atas pantai Bira)”. 

Pada dasarnya, semangat menjelajah itu memang melekat pada keluarga Suwanto. Dari Tanjung Bira, kami nekat menyusur pinggir pantai, melewati pasir lembut, menyisir tepian tebing karang, juga berkecipak di air laut. Sekitar 45 menit kemudian kami berlabuh di sebuah pantai berpasir lembut seperti Bira. Pantai ini bernama Tanjung Bara, atau lebih dikenal dengan Pantai Bara.
 

Sabtu, 11 Juni 2016

Pantai Kaluku, Menjemput Matahari, Merayakan Persahabatan

Pantai Kaluku: Semburat jingga di ufuk timur +fotojelajahsuwanto+
Pagi baru saja merekah. Apa yang dapat kukatakan untuk dapat mendeskripsikan semburat cahaya langit itu? Satu kata dariku, Majestic!
Atau begini saja. Pergilah ke Pantai Kaluku. Bangunlah pagi sekali, susurilah pantai. Dan ketika saatnya tiba, menghadaplah ke timur jauh. Jika kau beruntung, alam tak akan mengecewakanmu.
 

Rabu, 27 April 2016

10 Pantai Terindah di Bulukumba Sulawesi Selatan

Setibanya di Sulawesi Selatan, seringnya Keluarga Suwanto menjelajah pantai-pantai indah yang masih alami.

Pantai wilayah Timur Indonesia menurut kami adalah surga.

Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Bulukumba memiliki potensi wisata pantai yang sangat menjanjikan.

Berikut adalah 10 pantai cantik yang sudah Keluarga Suwanto jelajahi:

1. Pantai Lemo-Lemo

Pantai Lemo-lemo berada di Kelurahan Tanah Lemo, kecamatan Bonto Bahari. Jarak tempuh dari Kabupaten Bulukumba sekitar 1 jam.  Termasuk salah satu hidden paradisenya Bulukumba.

Cerita perjalanan Pantai Lemo-lemo bisa dibaca di Pantai Lemo Lemo, Aset Potensial Wisata Bahari Sulawesi Selatan

Pantai Lemo-Lemo Bulukumba


2. Pantai Mandala Ria

Pantai Mandala Ria dinamakan demikian karena menyimpan sejarah terkait pembebasan Irian Barat dari Kolonial Belanda. Pantai Mandala Ria berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Jarak tempuh sekitar 34 km dari Bulukumba.

Cerita perjalanan Pantai Mandala Ria bisa dibaca di Pantai Mandala Ria, Tersembunyi Cantik di Desa Ara

Pantai Mandala Ria Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan


3. Pantai Apparalang

"Apparalang" dalam bahasa setempat berarti ujung dalam. Sekilas Pantai Apparalang mirip-mirip Uluwatu di Bali. Tapi menurut kami, pemandangan lautnya lebih cantik Apparalang. Pantai tebing Apparalang berada di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Pantai Tebing Apparalang Bulukumba


4. Pantai Marumasa

Pantai Marumasa berasa di Desa Darubiah, Bonto Bahari, Bulukumba. Sudah ada papan petunjuk di pertigaan jalan sebelum Masjid Besar Poros Bira. Lokasinya kira-kira 40 km dari arah Kabupaten Bulukumba. Ikuti saja petunjuk jalan tersebut, sekitar 1 km kita sudah bebas memarkir kendaraan di bibir pantai.

Cerita perjalanan Pantai Marumasa bisa dibaca di Jelajah Pantai Marumasa

Pantai Marumasa, Darubiah, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan


5. Pantai Panrang Luhu

Cerita perjalanan Pantai Panrang Luhu bisa dibaca di Phinisi: Melihat Butta Panrita Lopi Dari Dekat

Butta Panrita Lopi, Pantai Panrang Luhu Bulukumba


8. Pantai Tanjung Bara

Cerita perjalanan Pantai Tanjung Bara bisa dibaca di Tanjung Bara yang Kian Membara

Pantai Tanjung Bara Bulukumba


9. Pantai Liukang Loe

Cerita perjalanan Pantai Liukang Loe bisa dibaca di Berkemah di Pulau Liukang Loe


Pantai Liukang Loe Pulau Liukang Sulawesi Selatan

Pantai Passilohe Pulau Liukang || JelajahSuwanto

Jumat, 22 April 2016

Pantai Lemo Lemo, Aset Potensial Wisata Bahari Sulawesi Selatan

Pantai Lemo-Lemo aset potensial wisata bahari Bulukumba
Pantai Lemo Lemo tenang dan damai  || JelajahSuwanto


Jalanan kecil bergelombang membelah hutan hijau yang bertanahkan karang. Keluarga Suwanto bergoyang-goyang mengikuti irama jalan. Kami sedang dalam perjalanan menuju Pantai Lemo Lemo. Tertulis 7 kilometer, itulah perkiraan jarak tempuh kami dari Poros (jalan besar) Bulukumba, Bira. Mulanya masih ada beberapa rumah penduduk ketika memasuki kawasan ini. Semakin dalam, hanya pepohonan dan belukar mengangguk-ngangguk oleh sepoi angin.  

Sabtu, 16 April 2016

Jelajah Pantai Marumasa

Pantai Marumasa Bulukumba Sulawesi Selatan
Pantai Marumasa, Bulukumba || JelajahSuwanto

Suatu ketika dalam perjalanan kembali ke Makassar dari Tanjung Bira, tak jauh dari pelabuhan Bira kami melihat gadis bule berjalan sendirian seperti kebingungan. Kami menepikan mobil dan bertanya adakah yang bisa dibantu? 

Gadis ini mencari Pantai Marumasa. Sayang sekali kami tak dapat menolongnya. Pantai Marumasa masih asing di telinga.  
 
Saat itu juga kami putuskan Jelajah Suwanto berikutnya harus menyambangi Pantai Marumasa. Masa iya, gadis Jerman ini saja sudah mengetahuinya, Keluarga Suwanto yang Indonesia tulen ko kalah telak.

Jumat, 15 April 2016

Jelajah Pulau Kodingareng keke

Zoom out Pulau Kodingareng Keke +fotojelajahsuwanto+

Siang yang cerah di awal April 2016. Tak direncana, Keluarga Suwanto akhirnya menyambangi Pulau Kondingareng Keke. 
Bermula dari ajakan menyeberang ke Samalona yang tentu saja gayung bersambut. Kami ber-9 termasuk kedua krucil, tadinya hanya mau bersantai dan memancing di Samalona. 
Di tengah perjalanan, matahari bersinar memantulkan cahaya keperakan, nun di sana, pulau kecil menggoda mata. 
Colek-colek sama ayah, lantas tawar menawar dengan pak perahu, bertolaklah kami memburu sunset di Kodingareng Keke.

Kamis, 14 April 2016

Pantai Ngrenehan: Sajian Menggoda dari Teluk Nelayan

Pantai Ngrenehan: Menu Makan Siang Olahan laut yang menggoda +fotojelajahsuwanto+


Pantai Ngrenehan, Gunung Kidul menjadi perayaan bagi perut-perut kami yang keroncongan. Lobster saus tiram, Kakap putih goreng, Kerapu bakar, Cah kangkung, sambel kecap, sambel terasi, sambel dadak, lalapan dan es kelapa muda, menggiurkan di depan kami. Jangan ditanya rasanya? JUARA, Maknyuss, top markotop! Terlebih, harganya benar-benar bersahabat. Harga semua Ikan di atas yang sudah diolah ½ kg dibakar, setengahnya lagi digoreng, 35ribu saja; lobster ukuran sedang 6 ekor hanya 150ribu. “Saya suka saya suka” #gayameymeyipinupin. Kuliner olahan laut Pantai Ngrenehan menjadi list favorit Jelajah Suwanto.

Pantai Ngrenehan: Jejeran Perahu bercat biru +fotojelajahsuwanto+

Jumat, 12 Februari 2016

Pantai Mandala Ria, Tersembunyi Cantik di Desa Ara

Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+
Pantai Mandala Ria; Surga tersembunyi di Desa Ara, Bontobahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan   || JelajahSuwanto

Pantai Mandala Ria menjadi agenda dadakan Keluarga Suwanto di awal Februari 2016. Setelah bolak balik Tanjung Bira, rasanya kami butuh jelajah pantai yang jarang dijamah pelancong. 

Pantai Mandala Ria masih satu deret dengan Pantai Tebing Apparalang di Desa Ara. 

Pantai ini tersembunyi cantik di sebuah lembah. Ada beberapa gua di sekitarnya, antara lain: Goa Passohara, Jabbolang dan Passea. Pasir pantainya putih lembut, meski belum ada yang mengalahkan pasir tepung Tanjung Bira.  

Senin, 01 Februari 2016

Kalibiru: Wisata Alam Kekinian di Kulon Progo, Yogyakarta

 
Spot foto wajib Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta | © JelajahSuwanto
Spot foto wajib Kalibiru Kulon Progo Yogyakarta | © JelajahSuwanto

 
Kalibiru di Kulon Progo sedang populer dalam kekiniannya. Foto berbagai pose di atas katakanlah gardu pandang yang menyatu dengan Pohon Pinus dan Kwaru bertebaran di sosial media. Semacam foto wajib, sah telah singgah di Kalibiru.

Kalibiru tersembul di antara perbukitan Menoreh, dinding barat Yogyakarta. Dari ketinggian puncaknya bentang alam terlukis sempurna. Gunung gemunung, perbukitan, waduk, dan nun di sana, lautan biru pantai selatan berbatas horizon.

Senin, 07 Desember 2015

Gua Maria Watansopeng Sulawesi: Sisi Lain Perjalanan


Gua Maria Paroki Santa Maria Bunda Pengharapan Wattansoppeng +fotojelajahsuwanto

The Other Side of Celebes

Di pagi hari itu kami sudah memiliki agenda untuk pergi ke Gua Maria Watansoppeng. Satu-satunya Gua Maria yang teridentifikasi google berada di Sulawesi Selatan. Hanya ada satu informasi yang sama. Gua Maria Paroki Santa maria Bunda Pengharapan, Jl. Samudera No. 48 Wattansoppeng. Jarak Makassar-Watansoppeng diperkirakan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam.

Jam di dinding kamar telah lama melewati angka 8. Kami masih juga berbenah. Padahal rencananya kami akan kembali ke Makassar pada sore hari. Jam tubuh kami memang harus segera diperbaiki, karena di saat hari libur secara otomatis mata akan terbuka ketika jarum jam melewati angka 7. Bepergian dengan dua orang putera berusia 10 dan 3 tahun tentu membutuhkan persiapan ekstra. Masih juga ditambah dengan sarapan bubur, mengisi nitrogen, pertamax dan mampir ATM. Jangan heran jika perjalanan menuju Watansoppeng baru benar-benar dimulai ketika jam mobil menunjuk angka 10:17. 

Matahari sudah memancarkan panasnya. Mengiringi kami yang sudah panas menyambut perjalanan. Avanza black metalic kami yang setia telah selesai menyusur tol dalam kota, kemudian masuk Kabupaten Maros. 
“Soppeng bisa ditempuh dari dua jalur, Bun. Jalur Buludua dan Camba.” ayah memberi penjelasan 
“Terus, kita mau lewat mana?” 
“Temen Ayah bilang, jalur Buludua jalannya rusak parah. So, kamu akan melihat the other side of Celebes” 
“Hmm, kayak apa tuh?” 
“Lihat saja dan nikmati” 
Baiklah jika begitu, mari kita nikmati saja jelajahnya.

Minggu, 06 Desember 2015

Taman Prasejarah Leang Leang: Menelisik Jejak Prasejarah Dari Masa Ribuan Tahun Silam

Perlu ruang informasi yang lebih menarik bagi pengunjung Taman Prasejarah Leang Leang | © JelajahSuwanto
Perlu ruang informasi yang lebih menarik bagi pengunjung Taman Prasejarah Leang Leang   | © JelajahSuwanto


Memasuki jalan desa menuju Taman Prasejarah Leang Leang memang terasa sempit. Namun ia membelah pesawahan yang tengah ranum berbulir padi. Belum lagi, tebing-tebing karts berbalut hijau pepohonan anggun mengelilingi kompleks cagar budaya. Di tengah harmoni megahnya gugusan karts dan keheningan alam kita akan dibawa pada sebuah situs prasejarah dari masa ribuan tahun silam. 

Papan petunjuk Taman Prasejarah Leang Leang tertangkap mata saat Keluarga Suwanto hendak arisan di Taman Nasional Bantimurung. 
”Kalau nggak kesorean kita ke sana ya.” Ajakku pada ketiga lelaki tercinta itu. “Okeeee” jawab mereka serempak.

Matahari nyaris di penghujung barat ketika petugas Taman Prasejarah Leang Leang menyambut kami. “Sebelum Magrib biasanya sudah tutup, Bu. Mari silakan melihat-lihat”.  

Itu berarti masih ada 1,5 jam. Ayo menjelajah!

Kamis, 12 November 2015

Jelajah Pulau Liukang Loe: Kesederhanaan yang Bersahaja

TK Satap di Kampung Buntutuleng Pulau Liukang Loe, Bira, Bonto Bahari, Bulukumba, Sulawesi Selatan +fotojelajahsuwanto+

Bukan Jelajah Keluarga Suwanto namanya, jika tidak apruk-aprukan alias menjelajah dalam perjalanan kami. Pun pada kesempatan kali ini, di suatu pulau, bernama Pulau Liukang Loe.

Setelah malam dan pagi yang menyenangkan karena acara Berkemah di Pulau Liukang Loe, Ayah dan bunda minta pendapat mas dan adek, apakah mereka mau ikut menyusur Pulau atau istirahat di penginapan?
Anak-anak memilih bermain di tenda. Mas siap sedia menjaga adiknya.
"Adek tidak akan cari-cari Ayah Bunda, mau main hotwheel sama mas saja"  Begitu janji adek.

Kami sepakat sebelum waktu makan siang, Ayah dan Bunda sudah kembali ke penginapan. Itu berarti ada waktu sekitar 1,5 jam untuk menjelajah. Ok, Let’s eksplor the island!